KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diyakini bisa menembus level 10.000 pada tahun 2026. Sikap optimisme ini dikarenakan adanya faktor kunci yang mendukung indeks ke level tersebut.
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai prospek pasar saham Indonesia pada 2026 tetap konstruktif, dengan target IHSG di level 10.500, didukung ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi serta potensi kebijakan yang lebih akomodatif.
Rully Arya Wisnubroto, Chief Economist & Head of Research Mirae Asset, menyampaikan bahwa IHSG menunjukkan tren positif sejak awal 2026, melanjutkan momentum dari tahun sebelumnya.
“Menariknya, penguatan IHSG di awal 2026 terjadi di tengah data ekonomi yang relatif kurang menggembirakan, mulai dari inflasi Desember yang tinggi, surplus neraca perdagangan yang lebih rendah, hingga defisit fiskal yang melebar akibat penerimaan pemerintah yang masih
lemah,” ujar dia dalam keterangannya, Rabu, 14 Januari 2026.
Rully menyebut keselarasan kebijakan moneter dan fiskal akan menjadi salah satu faktor kunci yang mendukung target IHSG ke level 10.500.
"Jika likuiditas terjaga dan stimulus fiskal berjalan efektif, pasar akan memiliki fondasi yang lebih kuat,” katanya.
Tekanan eksternal juga masih membayangi pasar keuangan domestik. Sentimen riskoff global mendorong penguatan indeks Dollar AS (DXY), yang berdampak pada depresiasi nilai tukar Rupiah.
Rupiah bahkan pertama kalinya ditutup di atas level 16.800 per Dollar AS sejak April 2025. Kondisi tersebut membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi semakin terbatas.
Kombinasi inflasi yang tinggi dan depresiasi Rupiah menyebabkan Bank Indonesia memiliki ruang yang sangat sempit untuk menurunkan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 20–21 Januari 2026.
“Dalam jangka pendek, kata Rully, arah kebijakan moneter akan sangat berhati-hati. Namun, pasar saham tetap bergerak positif karena pelaku pasar melihat prospek ekonomi yang lebih baik ke depan.
"Terutama jika kebijakan moneter dan fiskal dapat diselaraskan,” jelas Rully.
Lebih jauh ia menambahkan dalam jangka menengah, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan meningkat menjadi 5,3 persen pada 2026, dibandingkan sekitar 5,1 persen pada 2025.
Menurutnya, momentum ini akan sangat bergantung pada efektivitas kebijakan fiskal dalam mendorong belanja produktif dan menjaga keberlanjutan pertumbuhan.
Dalam jangka panjang, konsistensi kebijakan dan kepastian arah ekonomi akan memperkuat kepercayaan investor. Dari sisi sektoral, penguatan IHSG sejak awal tahun didorong sahamsaham komoditas dan pertambangan seperti AMMN, BUMI, BYAN, dan BRMS, dengan potensi
berlanjut seiring penguatan harga komoditas, khususnya emas, di tengah ketidakpastian geopolitik.
“Selain komoditas, sektor telekomunikasi dan infrastruktur telekomunikasi juga berpotensi menjadi pendorong IHSG, didukung oleh pertumbuhan ekonomi digital dan kebutuhan investasi jaringan yang berkelanjutan,” tutup Rully.
Dengan kombinasi tren pasar yang positif, prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, serta potensi keselarasan kebijakan moneter dan fiskal, Mirae Asset tetap bullish dan optimistis terhadap kinerja pasar saham Indonesia sepanjang 2026.
IHSG Ditutup di Level 9.000
Adapun diberitakan sebelumnya, IHSG resmi menyentuh level 9.000 pada perdagangan Rabu, 14 Januari 2026 usai ditutup di posisi 9.032,584.
IHSG menguat 0,94 persen dibandingkan penutupan sehari sebelumnya dan langsung mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Pasar seperti sedang bilang satu hal, kepercayaan belum habis, bahkan cenderung menebal.
Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia Kautsar Primadi Nurahmad menilai lonjakan ini lahir dari optimisme investor yang makin solid menatap 2026. Menurutnya, kombinasi stabilitas makro, arah kebijakan pemerintah yang konsisten, serta peran otoritas pasar modal yang relatif rapi membuat pelaku pasar berani pasang posisi lebih agresif.
Ia melihat dukungan pemerintah dalam menjaga irama ekonomi menjadi fondasi penting di balik reli saham. Kebijakan fiskal dan moneter yang terjaga, ditambah keberlanjutan agenda pembangunan, menciptakan rasa aman bagi investor lokal maupun asing untuk tetap menanamkan modalnya di pasar saham Indonesia.
Bursa juga tidak berdiri sendiri. Sinergi antara Bursa Efek Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan seluruh Self Regulatory Organization ikut mengokohkan ekosistem. Peran PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia disebut makin terasa dalam menjaga kelancaran transaksi dan keamanan investor, sebuah faktor yang sering luput dari sorotan tapi krusial untuk kepercayaan jangka panjang.
“Sepanjang 2025, kinerja pasar modal Indonesia memang menunjukkan tren yang sangat impresif,” kata Kautsar dalam keterangan tertulis yang dikutip Kamis 15 Januari 2026. (*)