KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Rabu, 12 November 2025, dengan penguatan tipis sebesar 0,26 persen ke level 8.388. Namun di balik angka hijau ini, pasar masih menunjukkan tekanan jual yang cukup dominan.
Kenaikan IHSG sore kemarin lebih tampak sebagai fase konsolidasi dalam tren jangka menengah, bukan tanda dimulainya reli baru. Karena secara teknikal, IHSG masih bergerak di dalam struktur wave (iii) dari wave [iii], yang secara teori masih membuka peluang penguatan lanjutan menuju area 8.487–8.539.
Meski demikian, pelaku pasar perlu mencermati area 8.279–8.332 sebagai zona koreksi potensial yang bisa kembali diuji sebelum indeks melanjutkan penguatannya.
Dari sisi teknikal murni, area 8.332 dan 8.276 kini menjadi dua level support penting yang berfungsi sebagai penopang reli. Jika keduanya jebol, risiko koreksi ke bawah akan meningkat signifikan.
Sementara itu, level resistance terdekat berada di 8.488 dan 8.532, yang sekaligus menjadi batas psikologis bagi para pelaku pasar untuk menentukan arah pergerakan berikutnya. Dengan kondisi seperti ini, pergerakan IHSG pada hari ini lebih banyak diwarnai aksi ambil untung jangka pendek ketimbang pembentukan tren baru. Hal ini sejalan dengan melemahnya likuiditas di beberapa sektor utama.
Dalam situasi pasar yang masih berhati-hati, sejumlah saham unggulan justru mulai menunjukkan tanda-tanda teknikal menarik dan MNC Sekuritas merekomendasikannya untuk strategi buy on weakness.
Buy on Weaknes BBCA, ISAT, JSMR: Bagaimana WIRG?
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) misalnya, berhasil naik 1,14 persen ke level Rp8.500 disertai peningkatan volume pembelian. Secara gelombang, BBCA kini diperkirakan berada di fase [ii] pada label hitam, menandakan peluang penguatan lanjutan masih terbuka jika harga mampu bertahan di atas area Rp8.000–Rp8.400.
Target penguatan jangka pendek diproyeksikan di kisaran Rp8.750–Rp9.175, dengan batas stoploss di bawah Rp7.900. Dengan volatilitas yang relatif terukur dan dominasi institusi yang masih kuat di saham ini, BBCA tetap menjadi pilihan defensif yang menarik di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya stabil.
Sementara itu, saham PT Indosat Tbk (ISAT) justru mengalami tekanan. Saham ISAT terkoreksi 2,7 persen ke Rp2.160. Meski secara jangka pendek masih dalam tekanan jual, posisi harga saat ini mulai mendekati area support kuat di sekitar Rp2.050–Rp2.160, yang bisa dimanfaatkan sebagai peluang buy on weakness.
Secara struktur, ISAT tengah berada di awal pembentukan wave (iv) dari wave [iii], sehingga peluang rebound ke area Rp2.300–Rp2.370 tetap terbuka, asalkan harga tidak menembus di bawah Rp2.000. Saham ini cenderung menarik untuk akumulasi bertahap oleh investor menengah yang fokus pada prospek pertumbuhan data dan infrastruktur jaringan di 2026.
Untuk saham PT Jasa Marga Tbk (JSMR), pergerakannya relatif tenang, ditutup flat di Rp3.550 dengan munculnya sedikit peningkatan volume beli. Meskipun belum mampu menembus garis rata-rata pergerakan 60 hari (MA60), posisi JSMR saat ini diperkirakan masih berada di awal wave [b] dari wave B.
Artinya, potensi kenaikan ke area Rp3.660–Rp3.760 tetap terbuka selama harga mampu bertahan di atas Rp3.500. Dengan posisi teknikal yang cenderung stabil, saham ini bisa dipertimbangkan untuk strategi speculative buy bagi trader yang mengincar potensi kenaikan jangka pendek. Terutama bila ada dorongan sentimen dari proyek tol baru atau percepatan investasi infrastruktur jelang 2026.
Di sisi lain, saham PT WIR Asia Tbk (WIRG) menjadi salah satu yang cukup menarik perhatian pasar. WIRG menguat 2,68 persen ke Rp115 dengan disertai volume beli yang meningkat signifikan.
Secara teknikal, saham ini diperkirakan berada di awal pembentukan wave (A) dari wave [B], membuka peluang penguatan ke kisaran Rp134–Rp155. Bagi investor yang toleran terhadap volatilitas tinggi, area Rp109–Rp114 bisa menjadi titik masuk yang menarik, dengan batas stoploss di bawah Rp104.
Meskipun saham ini tergolong berkapitalisasi kecil, momentum akumulasi yang muncul dapat menjadi tanda pergeseran minat spekulatif pasar ke saham-saham teknologi domestik yang valuasinya sudah terdiskon cukup dalam.
Secara keseluruhan, performa IHSG hari ini menggambarkan pasar yang masih mencoba menjaga keseimbangan antara tekanan jual dan peluang teknikal jangka pendek. Sentimen global yang lebih kondusif dan ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan moneter di kuartal mendatang menjadi faktor pendukung.
Namun, ketidakpastian aliran dana asing masih menahan potensi penguatan yang lebih agresif. Dengan struktur teknikal yang masih konstruktif, arah jangka pendek IHSG diperkirakan tetap dalam fase konsolidasi menguat.
Strategi buy on weakness pada saham-saham berfundamental kuat seperti BBCA atau defensif seperti JSMR, menjadi opsi paling rasional bagi investor yang ingin tetap terlibat tanpa mengambil risiko berlebihan.(*)