Logo
>

IHSG Konsolidasi di Tengah Sentimen AI, Kiwoom Sarankan Strategi Buy on Weakness

IHSG bergerak konsolidatif di tengah penguatan dolar AS, arus keluar dana asing, dan rotasi sektor global akibat tema kecerdasan buatan. Kiwoom melihat level support MA10 sebagai titik krusial untuk strategi buy on weakness.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
IHSG Konsolidasi di Tengah Sentimen AI, Kiwoom Sarankan Strategi Buy on Weakness
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai IHSG masih dalam fase konsolidasi seiring net sell asing dan sentimen global dari AI, suku bunga The Fed, serta penguatan dolar. Investor disarankan memanfaatkan koreksi sebagai momentum buy on weakness secara bertahap. Foto: Dok. KabarBursa.

KABARBURSA.COM — Panggung pasar saham global yang diguncang tema kecerdasan buatan, arah suku bunga Amerika Serikat, hingga ketegangan geopolitik Timur Tengah berimbas langsung ke pergerakan dana di Bursa Efek Indonesia. Dalam lanskap seperti ini, riset Kiwoom Sekuritas melihat fase konsolidasi IHSG bukan sekadar pelemahan, melainkan periode uji ketahanan sebelum pasar menentukan arah berikutnya.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mencatat tekanan utama terhadap indeks domestik datang dari arus modal asing yang belum kembali. “IHSG memulai Tahun Kuda Api dengan posisi jual bersih asing YTD sebesar IDR 16.49T (all market),” tulisnya dalam laporan KIWOOM Morning Equity kepada KabarBursa.com, Rabu, 18 Februari 2026.

Angka itu menjelaskan mengapa setiap penguatan indeks kerap tertahan. Pada penutupan perdagangan terakhir sebelum libur panjang Imlek, IHSG berada di level 8.212,27 atau turun 53 poin setara 0,64 persen, meski secara mingguan masih mampu pulih sekitar 3,5 persen. Pelemahan harian tersebut, menurut Liza, terjadi ketika investor global kembali mencatat foreign net sell sekitar Rp2,03 triliun.

Di tengah tekanan itu, arah pasar global menjadi variabel yang tak terpisahkan. Bursa saham Amerika Serikat memang ditutup menguat tipis setelah sempat berayun tajam, namun rotasi sektor berlangsung cepat. Saham perbankan dan finansial menopang indeks ketika tekanan pada tema AI memicu aksi ambil untung di sejumlah sektor lain. Di saat yang sama, penguatan dolar AS dalam sentimen risk-off dan turunnya harga emas serta minyak menunjukkan pelaku pasar masih memilih posisi aman.

Tema AI sendiri kembali menjadi pusat perhatian. “Tema besar tetap sama AI kembali mengambil alih panggung dalam 2 pekan terakhir setelah pasar sempat fokus ke geopolitik dan geoeconomics di awal tahun,” tulis Liza.

Ia menggarisbawahi kekhawatiran pasar bukan hanya soal valuasi, tetapi juga tentang siapa yang akan menjadi pemenang dan pihak yang tertinggal ketika teknologi ini masuk ke fase implementasi nyata.

Situasi global tersebut membuat pelaku pasar menunda pengambilan risiko besar. Rilis risalah FOMC, data aktivitas ekonomi, hingga inflasi Amerika Serikat menjadi penentu arah berikutnya, sementara pembicaraan nuklir AS–Iran menambah lapisan ketidakpastian yang menguatkan dolar dan menekan aset berisiko.

Di dalam negeri, Kiwoom melihat pergerakan IHSG masih berada dalam fase konsolidasi minor setelah sempat menyentuh target pertama di area Fibonacci retracement 50 persen pada level 8.334. Dalam fase ini, indikator teknikal menjadi acuan utama.

“Secara teknikal, Kiwoom Research melihat konsolidasi minor yang terjadi 2 hari terakhir di Tahun Ular Kayu masih sebatas untuk uji Support usai naik bertahap ke target pertama,” tulisnya.

Level yang kini menjadi perhatian pelaku pasar adalah rata-rata pergerakan 10 hari di kisaran 8.116. Jika area ini mampu menahan tekanan jual, Kiwoom menilai kondisi tersebut sebagai momentum akumulasi bertahap. “Jika ya, maka itu adalah titik yang tepat untuk kembali Buy on Weakness dan menunggu Average Up bertahap jikalau IHSG mampu tembus balik ke atas 8.250 lagi,” kata Liza.

Pendekatan ini menunjukkan perubahan strategi yang disarankan. Dalam situasi arus asing yang belum kembali, reli pasar tidak lagi ditopang likuiditas global, melainkan aktivitas domestik dan momentum teknikal jangka pendek. Artinya, investor tidak bisa hanya menunggu penguatan indeks secara pasif, tetapi harus membaca titik masuk dan keluar dengan lebih disiplin.

Riset tersebut juga menyoroti dinamika global masih akan menjadi pengarah utama. Pasar menunggu apakah inflasi Amerika benar-benar melandai sehingga membuka ruang pemangkasan suku bunga atau justru memaksa bank sentral mempertahankan kebijakan restriktif lebih lama. Probabilitas pemangkasan minimal 25 basis poin pada Juni yang berada di kisaran 63 persen menjadi indikator penting bagi arus dana ke emerging market.

Di sisi lain, koreksi komoditas memperlihatkan berkurangnya permintaan safe haven dalam jangka pendek. Emas yang turun lebih dari dua persen dan minyak yang menyentuh level terendah dua pekan memperkuat sinyal bahwa pasar sedang menimbang ulang keseimbangan antara risiko geopolitik dan prospek pertumbuhan ekonomi.

Bagi investor domestik, fase ini menjadi ujian sekaligus peluang. Ketika arus asing masih keluar dan IHSG bergerak dalam rentang terbatas, strategi berbasis momentum dan rotasi jangka pendek dinilai lebih relevan dibanding menunggu reli panjang berbasis likuiditas global.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).