KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Senin, 27 April 2026. IHSG berakhir di zona merah setelah sempat bergerak variatif sepanjang sesi. Indeks ditutup melemah 22 poin atau 0,32 persen ke level 7.106.
Tekanan ini muncul di tengah aktivitas perdagangan yang tetap ramai, dengan volume mencapai 327 juta lot dan nilai transaksi sebesar Rp16,21 triliun.
Pergerakan sektoral menunjukkan arah yang tidak seragam. Sektor basic industry justru menjadi penopang dengan kenaikan 1,48 persen, didorong oleh penguatan saham seperti IMPC yang naik 1,90 persen dan INKP sebesar 1,28 persen.
Di sisi lain, sektor energi menjadi penekan utama dengan penurunan 1,21 persen, seiring pelemahan saham seperti BIPI turun 3,91 persen dan ITMG terkoreksi 3,60 persen.
Di jajaran saham unggulan LQ45, pergerakan juga terbagi dua. Saham yang mencatat penguatan antara lain AMMN, AKRA, BUMI, MAPI, MBMA, MDKA, hingga EXCL. Sementara tekanan terlihat pada DSSA, JPFA, UNTR, ITMG, UNVR, SMGR, dan ASII yang masuk dalam daftar top losers.
Nikkei dan Kospi Menguat
Di tengah tekanan domestik, bursa Asia justru menunjukkan kecenderungan menguat. Investor terlihat mulai mengabaikan ketidakpastian diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun ketegangan geopolitik masih berlangsung.
Kenaikan indeks utama terlihat pada Nikkei 225 Jepang yang menguat 1,38 persen ke 60.537 dan Kospi Korea Selatan yang melonjak 2,15 persen ke 6.615.
Indeks lainnya juga bergerak positif, seperti Shenzhen yang naik 0,37 persen dan Shanghai Composite yang menguat tipis 0,16 persen. Sementara itu, Hang Seng Hong Kong justru melemah 0,20 persen dan S&P/ASX200 Australia turun 0,23 persen.
Sentimen utama tetap berasal dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Gagalnya rencana lanjutan pembicaraan damai antara AS dan Iran kembali mengangkat harga minyak global sekitar 2 persen. Ketegangan di Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting distribusi energi dunia, masih menjadi perhatian utama pasar.
Di sisi lain, investor global mulai mengalihkan fokus ke sektor teknologi, khususnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Rencana belanja modal dari perusahaan teknologi besar seperti Microsoft, Alphabet, Amazon, dan Meta menjadi perhatian menjelang rilis laporan keuangan kuartal I. Sentimen ini turut menjaga optimisme di sebagian pasar saham Asia.
Yen Naik, Rupiah Catatkan Penguatan Tipis
Dari sisi mata uang, pergerakan di kawasan Asia menunjukkan kecenderungan menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang naik 0,13 persen ke level 159,17 per dolar AS, sementara dolar Singapura menguat 0,15 persen ke 1,2734 per dolar AS.
Dolar Australia mencatat kenaikan terbesar di antara mata uang utama dengan penguatan 0,45 persen ke 0,7184 per dolar AS.
Rupiah juga mencatat penguatan tipis sebesar 0,10 persen ke level 17.211 per dolar AS. Selain itu, yuan China naik 0,12 persen, rupee India menguat 0,04 persen, dan ringgit Malaysia naik 0,31 persen.
Satu-satunya mata uang yang melemah adalah baht Thailand yang turun 0,38 persen ke 32,3180 per dolar AS.
Dengan kombinasi pergerakan tersebut, IHSG berada dalam posisi yang berbeda dibandingkan mayoritas bursa Asia. Tekanan sektor energi di dalam negeri menjadi faktor dominan yang menahan indeks, sementara sentimen global masih terbagi antara risiko geopolitik dan ekspektasi terhadap sektor teknologi.(*)