KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah tipis pada perdagangan Jumat, 22 November 2025. IHSG berada di level 8.415,58 atau turun 4,34 poin setara minus 0,05 persen pada awal sesi.
Pelemahan ini terjadi setelah indeks bergerak di rentang intraday dengan posisi tertinggi di 8.421,39 dan level terendah di 8.381,66.
Meskipun IHSG melemah, aktivitas perdagangan terlihat cukup dinamis. Total transaksi mencapai 25,13 juta lot dengan nilai mencapai 1,49 triliun rupiah dan frekuensi perdagangan sebanyak 201,11 ribu kali.
Pergerakan indeks sempat terkoreksi dalam pada awal sesi sebelum perlahan memulihkan posisi menuju area 8.410 hingga 8.420.
Dari sisi aliran dana, investor asing kembali mencatatkan aksi beli bersih. Tercatat foreign buy sebesar 6,98 triliun rupiah, sementara foreign sell berada di 5,71 triliun rupiah.
Ini membuat net foreign buy di seluruh pasar mencapai 1,27 triliun rupiah, dengan pasar reguler membukukan 1,09 triliun rupiah. Porsi transaksi asing mencapai 32,29 persen, sementara investor domestik mendominasi dengan 67,71 persen.
Pada daftar top gainer, saham Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK) memimpin dengan kenaikan 25 persen ke harga 1.925. Disusul oleh Bintang Oto Global Tbk (BOGA) yang meroket 24,44 persen ke 840.
Saham Surya Permata Andalan Tbk (NATO), Jaya Real Property Tbk (JRPT), dan Geoprima Solusi Tbk (GPSO) juga masuk jajaran penguat utama dengan kenaikan signifikan di atas 13 persen.
Sebaliknya, di jajaran top loser, Puri Global Sukses Tbk (PURI) memimpin pelemahan dengan koreksi 14,87 persen ke 498. Diikuti KDB Tifa Finance Tbk (TIFA) yang turun 10,91 persen, serta Anugerah Spareparts Sejahtera Tbk (AEGS) yang melemah 9,88 persen. Emiten sektor makanan NAYZ dan BMBL juga terkoreksi cukup dalam.
Secara sektoral, pergerakan indeks sektoral pagi ini didominasi sektor yang bergerak variatif. Sektor teknologi naik 0,55 persen dan menjadi pendorong utama penguatan, disusul siklikal yang menguat 0,54 persen serta properti yang naik 0,63 persen.
Di sisi lain, sektor transportasi turun 0,24 persen, sektor kesehatan melemah 0,14 persen, serta sektor basic industry terkoreksi 0,08 persen.
Pembukaan IHSG hari ini menunjukkan bahwa pelaku pasar masih cenderung berhati-hati menjelang rilis data ekonomi global dan pergerakan bursa internasional.
Meski melemah, arus beli asing yang cukup besar memberikan sinyal positif bahwa minat investor terhadap pasar saham Indonesia masih terjaga.
Retail Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Indri Liftiany Travelin Yunus, mengatakan bahwa keyakinan pasar semakin kuat setelah sektor infrastruktur dan properti mencatatkan penguatan signifikan pada pekan lalu.
“Kenaikan ini menunjukkan optimisme investor terhadap potensi BI memangkas suku bunga acuan,” ujar Indri dalam keterangan resmi yang diterima KabarBursa.com Senin, 17 November 2025.
Indri menjelaskan pada perdagangan pekan lalu, IHSG sempat menyentuh level All Time High di 8.478, sebelum melemah di akhir pekan dan ditutup pada level 8.370.
Investor asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp332 miliar. Dari 11 sektor, terdapat enam sektor yang menguat, dipimpin oleh infrastruktur yang naik 6,92 persen dan properti yang meningkat 5,35 persen.
Kinerja IHSG sempat tertahan akibat sentimen global, terutama koreksi di Wall Street yang dipicu penurunan saham teknologi dan AI karena valuasi yang dinilai terlalu tinggi.
Meski demikian, berakhirnya government shutdown di Amerika Serikat memberi kepastian baru bagi pasar, terutama karena aktivitas pemerintahan kembali normal dan data ekonomi dapat dirilis sesuai jadwal.
Pernyataan hawkish The Federal Reserve turut menekan ekspektasi pemangkasan suku bunga di AS, sehingga memicu volatilitas di pasar global.
Memasuki pekan ini, Indri menilai pelaku pasar akan kembali fokus pada sektor-sektor yang sensitif terhadap arah suku bunga.
“Kami melihat spekulasi terhadap sektor perbankan, infrastruktur, dan properti masih akan kuat,” ujarnya.
Menurutnya, para investor juga akan mencermati aksi korporasi sejumlah emiten yang berpotensi memanfaatkan momentum kenaikan harga saham pada November ini
Indri memperkirakan IHSG bergerak variatif cenderung menguat dengan rentang support di level 8.325 dan resistance di 8.500.
Potensi penguatan ini didukung oleh sejumlah rilis data penting pada pekan ini, seperti FOMC Minutes pada 19 November, S&P Global Composite PMI Flash AS pada 21 November yang diproyeksikan turun tipis ke 53,8 dari 54,6, serta rangkaian data pengangguran AS yang dirilis pada 20 November.
Sentimen utama datang dari keputusan suku bunga Bank Indonesia yang akan diumumkan pada 19 November. Konsensus memperkirakan BI akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, langkah yang dipandang dapat memperkuat daya tarik sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya pendanaan.
Jika pemangkasan benar terjadi, pasar diperkirakan merespons positif, terutama pada saham-saham perbankan dan properti yang berpotensi mencatat rebound lanjutan.(*)