Logo
>

IHSG Menguat ke 8.458,29: Kebijakan The Fed Jadi Penentu Pergerakan

Indeks LQ45, yang mencerminkan performa saham-saham unggulan, turut meningkat 4,76 poin atau 0,56 persen menuju 850,44

Ditulis oleh Pramirvan Datu
IHSG Menguat ke 8.458,29: Kebijakan The Fed Jadi Penentu Pergerakan
Hall Bursa Efek Indonesia. Foto: Dok KabarBursa.com

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka perdagangan awal pekan dengan kenaikan solid, sementara pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga acuan The Fed yang menjadi penentu utama pergerakan pasar global.

    IHSG dibuka menanjak 43,94 poin atau 0,52 persen ke level 8.458,29. Indeks LQ45, yang mencerminkan performa saham-saham unggulan, turut meningkat 4,76 poin atau 0,56 persen menuju 850,44.

    Sepanjang pekan ini, tidak ada agenda publikasi data ekonomi nasional. Hal tersebut membuat dinamika pasar keuangan Indonesia lebih banyak ditentukan oleh kabar dari luar negeri, terutama perkembangan ekonomi AS dan China, menurut catatan riset Lotus Andalan Sekuritas di Jakarta.

    Di kancah global, data-data AS yang sempat tertahan akibat government shutdown kembali dipublikasikan. Rilis itu mencakup Indeks Harga Produsen (IHP) untuk September 2025, data penjualan ritel, pesanan barang tahan lama, serta indikator inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE).

    Beragam laporan ekonomi tersebut diperkirakan menjadi acuan penting untuk membentuk harapan pasar terhadap keputusan suku bunga acuan dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung pada Desember 2025.

    Aktivitas perdagangan bursa AS sendiri lebih singkat pekan ini karena libur Thanksgiving pada Kamis (27/11) dan penutupan lebih cepat pada Jumat 28 November 2025. Kondisi ini membuka peluang terjadinya peningkatan volatilitas.

    Dari benua Eropa, fokus pasar bergerak ke data inflasi di Jerman, Prancis, dan Italia, serta penyampaian Anggaran Musim Gugur Inggris yang digadang-gadang akan memuat kebijakan pajak baru.

    Sementara itu, dari wilayah Asia, sorotan tertuju pada rilis PMI manufaktur dan non-manufaktur resmi China untuk November 2025. Industri manufaktur negara tersebut masih berada dalam tren kontraksi panjang selama tujuh bulan berturut-turut, memunculkan kekhawatiran terkait keberlanjutan pemulihan ekonomi regional.

    Secara umum, pekan ini dipenuhi rentetan data ekonomi global dari AS, Eropa, dan China—kombinasi yang berpotensi mengganggu stabilitas sentimen pasar Indonesia yang minim faktor penggerak domestik.

    Pada penutupan Jumat 21 November 2025, pasar saham Eropa bergerak tidak seragam: Euro Stoxx 50 merosot 0,98 persen, FTSE 100 Inggris naik tipis 0,13 persen, DAX Jerman turun 0,80 persen, sedangkan CAC Prancis menutup sesi dengan kenaikan marginal 0,02 persen.

    Di sisi lain, bursa AS pada sesi akhir pekan justru menguat. Indeks Dow Jones Industrial Average meningkat 1,08 persen ke posisi 46.245, S&P 500 menguat 0,98 persen ke angka 6.602,99, dan Nasdaq Composite menambah 0,77 persen hingga mencapai 25.239,57.

    Untuk kawasan Asia, pergerakan indeks pada Senin pagi menunjukkan hasil beragam. Nikkei tergelincir 1.198,06 poin atau 2,40 persen ke 48.625,88. Indeks Shanghai melemah tipis 3,15 poin atau 0,08 persen ke angka 3.832,10. Sebaliknya, Hang Seng menguat signifikan 356,48 poin atau 1,44 persen menuju 25.580,00, sementara Strait Times naik 14,28 poin atau 0,30 persen ke level 4.482,75.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Pramirvan Datu

    Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.