Logo
>

IHSG Menyusul Dolar AS, Mata Uang Global Bergolak di Awal Tahun

Sementara itu, yen Jepang bergerak stabil di dekat level terendah dalam 10 bulan terakhir

Ditulis oleh Pramirvan Datu
IHSG Menyusul Dolar AS, Mata Uang Global Bergolak di Awal Tahun
Ilustrasi Mata Uang Dolar Amerika. Foto: Dok KabarBursa.com

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Dolar AS memulai perdagangan perdana 2026 dengan performa lemah, melanjutkan tekanan yang menghantamnya sepanjang tahun lalu terhadap mayoritas mata uang global.

    Sementara itu, yen Jepang bergerak stabil di dekat level terendah dalam 10 bulan terakhir. Pelaku pasar menunggu rilis data ekonomi bulan ini sebagai petunjuk arah kebijakan suku bunga mendatang, demikian laporan Reuters di Singapura, Jumat 2 Desember 2026.

    Menyempitnya selisih suku bunga antara Amerika Serikat dan sejumlah negara lain membayang-bayangi pasar valuta asing. Fenomena ini mendorong sebagian besar mata uang menguat tajam terhadap dolar sepanjang 2025, dengan yen menjadi pengecualian yang mencolok. Tekanan pada greenback terjadi di tengah ekspektasi penurunan suku bunga dan meningkatnya ketidakpastian kebijakan ekonomi AS.

    Euro tercatat stabil di level USD1,1752 pada awal perdagangan Asia, setelah melambung 13,5 persen sepanjang 2025. Poundsterling bertahan di sekitar USD1,3474, menyusul kenaikan 7,7 persen tahun lalu. Kedua mata uang ini mencatat penguatan tahunan terbesar sejak 2017, mencerminkan pergeseran sentimen global yang menjauhi dolar.

    Yen terakhir diperdagangkan di kisaran 156,74 per dolar AS. Sepanjang 2025, mata uang Jepang ini hanya menguat kurang dari 1 persen terhadap greenback dan sempat menyentuh level terlemah 10 bulan di 157,90 pada November, memicu kekhawatiran intervensi pemerintah. Peringatan verbal keras dari otoritas Tokyo sepanjang Desember berhasil menjauhkan yen dari zona intervensi, meskipun kekhawatiran tersebut belum sepenuhnya mereda.

    Dengan pasar Jepang dan China tutup, volume transaksi sesi Asia diperkirakan tipis, sehingga pergerakan mata uang cenderung terbatas. Namun, pelaku pasar tetap memantau prospek ekonomi global. Chief Investment Strategist Pinnacle Investment Management, Anthony Doyle, menilai ekonomi dunia memasuki 2026 dengan momentum cukup baik dan risiko resesi relatif rendah.

    Doyle menambahkan, dorongan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral di luar Amerika Serikat mulai mereda. Menurutnya, kondisi ini positif karena berkurangnya kejutan kebijakan dapat menahan pergerakan pasar satu arah dan menekankan pentingnya seleksi antarwilayah, faktor, dan kelas aset.

    Indeks Dolar (DXY), yang mengukur kinerja greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, berada di posisi 98,243. Sepanjang 2025, indeks ini anjlok 9,4 persen, penurunan tahunan terbesar dalam delapan tahun terakhir. Tekanan ini dipicu oleh pemangkasan suku bunga, kebijakan perdagangan yang tidak konsisten, serta kekhawatiran atas independensi Federal Reserve di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

    Perhatian pasar kini tertuju pada rilis data ekonomi AS, termasuk laporan ketenagakerjaan dan klaim pengangguran pekan depan. Data ini menjadi indikator utama kesehatan pasar tenaga kerja sekaligus memberi sinyal arah suku bunga AS sepanjang 2026.

    Selain itu, fokus investor tertuju pada siapa yang akan ditunjuk Trump sebagai Chairman Fed berikutnya, menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir Mei. Investor memperkirakan sosok baru akan lebih dovish dan cenderung memangkas suku bunga, selaras kritik Trump sepanjang tahun lalu terhadap Fed yang dianggap lamban dan kurang agresif.

    Pasar saat ini memproyeksikan dua kali pemangkasan suku bunga pada 2026, lebih banyak dibandingkan perkiraan satu kali dari Fed yang terbelah pandangannya. Goldman Sachs menilai kekhawatiran terkait independensi bank sentral akan berlanjut hingga 2026. Perubahan kepemimpinan Fed menjadi faktor yang membuat proyeksi Fed funds rate cenderung condong ke arah dovish.

    Di kawasan Pasifik, dolar Australia dan Selandia Baru memulai tahun dengan kinerja positif. Dolar Australia naik tipis 0,1 persen ke level USD0,66805, melanjutkan penguatan hampir 8 persen sepanjang 2025—performa tahunan terbaik sejak 2020. Dolar Selandia Baru, atau kiwi, juga mencatat pemulihan dengan kenaikan hampir 3 persen tahun lalu, mengakhiri tren pelemahan tiga tahun. Pada perdagangan Jumat, kiwi bergerak relatif stabil di sekitar USD0,5755.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Pramirvan Datu

    Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.