KABARBURSA.COM — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali menyisakan tanda tanya setelah mencatat penguatan tipis di awal Januari 2026. Secara angka, indeks memang masih bergerak naik, tetapi di balik itu mulai muncul sinyal kelelahan pasar yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Kenaikan yang terlihat tenang justru diiringi tekanan jual yang perlahan mengemuka.
Dalam publikasi MNCS Daily Scope Wave edisi Kamis, 8 Januari 2026, Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai posisi pasar saat ini sudah memasuki fase krusial. Indeks memang masih punya ruang menguat, namun risiko koreksi juga mulai mengintai.
“IHSG menguat 0,13 persen ke 8.944, namun muncul adanya tekanan jual dan area target terdekat yang kami sampaikan sudah tercapai,” tulis Herditya dalam laporan hariannya.
Penguatan tipis itu menempatkan indeks pada fase lanjutan dari struktur gelombang teknikal. Herditya menilai, secara teknikal, IHSG kini berada di bagian akhir dari gelombang penguatan jangka pendek. Situasi ini membuat ruang kenaikan dan potensi koreksi berjalan beriringan.
“Saat ini, posisi IHSG diperkirakan sedang berada pada bagian dari wave (v) dari wave [iii], sehingga dapat dicermati area penguatan pada rentang 8.994 sampai 9.077,” tulis Herditya.
Namun ruang naik tersebut bukan tanpa syarat. Pasar dinilai rawan mengalami jeda atau bahkan koreksi teknikal setelah target terdekat tercapai. Tekanan jual yang mulai muncul menjadi sinyal bahwa sebagian pelaku pasar mulai mengamankan posisi.
“Waspadai akan adanya koreksi yang diperkirakan menguji 8.777 sampai 8.879,” lanjut Herditya dalam catatannya.
Dengan level tersebut, Herditya memetakan area penopang IHSG berada di kisaran 8.867 dan 8.776, sementara area hambatan terdekat berada di 8.960 hingga 8.996. Peta ini menunjukkan bahwa indeks tengah berada di persimpangan antara melanjutkan penguatan atau masuk fase tarik napas.
Saham-saham yang Menarik Dipantau
Di tengah kondisi indeks yang mulai berhitung, perhatian investor beralih ke saham-saham tertentu yang dinilai masih memiliki struktur teknikal menarik. Dalam laporannya, Herditya menyoroti empat saham yang bisa dicermati pergerakannya secara selektif, yakni AUTO, ICBP, JSMR, dan WIIM.
AUTO
Saham PT Astra Otoparts Tbk menjadi salah satu yang dinilai masih menarik dipantau di tengah fluktuasi pasar. Pergerakan AUTO menunjukkan penguatan yang disertai volume, yang menandakan minat beli yang masih terjaga.
“AUTO menguat 2,97 persen ke 2.770 dan disertai dengan munculnya volume pembelian. Kami memperkirakan posisi AUTO saat ini sedang berada pada bagian dari wave [c] dari wave B,” tulis Herditya.
Secara teknikal, posisi tersebut mencerminkan fase lanjutan pemulihan harga setelah koreksi sebelumnya. Selama tidak menembus area risiko di bawah 2.690, pergerakan AUTO masih berada dalam koridor teknikal yang relatif sehat.
ICBP
Berbeda dengan AUTO, saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk justru mengalami koreksi tipis. Namun tekanan jual dinilai belum dominan, karena volume beli masih terlihat mendampingi pergerakan harga.
“ICBP terkoreksi 0,62 persen ke 8.050 dan masih didominasi oleh volume pembelian. Kami perkirakan posisi ICBP saat ini sedang berada pada bagian dari wave [v] dari wave C,” tulis Herditya.
Kondisi ini menunjukkan koreksi yang bersifat teknikal, bukan pembalikan arah besar. Selama bertahan di atas area bawah yang dipetakan, saham ini masih memiliki peluang melanjutkan pergerakan sesuai struktur gelombangnya.
JSMR
Saham PT Jasa Marga Tbk justru tampil lebih agresif dibanding dua saham sebelumnya. Penguatan harga diiringi lonjakan volume menjadi sinyal awal bahwa minat pasar mulai menguat.
“JSMR menguat 2,95 persen ke 3.490 dan disertai dengan munculnya volume pembelian. Kami perkirakan posisi JSMR saat ini sedang berada di awal wave (iii) dari wave [i] dari wave C,” tulis Herditya.
Posisi awal gelombang penguatan ini biasanya menjadi fase krusial. Jika momentum terjaga, pergerakan lanjutan berpotensi terjadi, meski tetap harus diiringi manajemen risiko yang ketat.
WIIM
Saham PT Wismilak Inti Makmur Tbk menjadi yang paling volatil di antara keempat saham tersebut. Kenaikan tajam disertai volume membuat pergerakannya menonjol dalam waktu singkat.
“WIIM menguat 7,53 persen ke 1.785 dan disertai dengan munculnya volume pembelian. Kami memperkirakan posisi WIIM saat ini sedang berada di akhir wave (i) dari wave [v],” tulis Herditya.
Posisi di akhir gelombang awal menandakan potensi lanjutan masih ada, namun volatilitas tinggi juga membuat saham ini lebih sensitif terhadap perubahan sentimen pasar.
Secara keseluruhan, laporan MNC Sekuritas menggambarkan pasar yang masih bergerak naik, tetapi tidak lagi berjalan santai. Ruang penguatan IHSG masih terbuka, namun risiko koreksi jangka pendek mulai membesar.
Dalam situasi seperti ini, pendekatan selektif menjadi kunci, dengan mencermati saham-saham yang secara teknikal masih memiliki struktur pergerakan yang relatif terjaga, sambil tetap waspada terhadap perubahan arah pasar yang bisa datang lebih cepat dari perkiraan.
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.