KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat momen penting pada pekan lalu dengan menembus level psikologis 9.000 secara intraday, ditopang derasnya likuiditas dan ramainya pencatatan obligasi serta sukuk di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pada perdagangan 5–9 Januari 2026 lalu, IHSG berhasil menguat 2,16 persen dan ditutup di level 8.936,754. Sepanjang pekan tersebut, indeks bahkan mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa di level 8.944,813 pada Rabu, serta menembus level 9.000 secara intraday pada Kamis dengan puncak 9.002,92. Capaian ini menjadi pijakan penting bagi pergerakan IHSG pada pekan ini, yang masih bergerak di zona atas meski volatilitas mulai muncul.
Kuatnya posisi IHSG tidak lepas dari lonjakan signifikan aktivitas perdagangan. Rata-rata volume transaksi harian BEI pada pekan lalu melonjak 48,08 persen menjadi 61,78 miliar lembar saham. Rata-rata nilai transaksi harian juga naik 44,68 persen menjadi Rp31,45 triliun, sementara frekuensi transaksi harian meningkat 42,74 persen menjadi 3,98 juta kali transaksi. Tingginya aktivitas ini mencerminkan likuiditas pasar yang masih longgar dan menjadi bantalan IHSG di pekan berjalan.
Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia, Kautsar Primadi Nurahmad, mengatakan penguatan indeks didorong oleh tingginya aktivitas transaksi di pasar. “IHSG sempat menembus level 9.000 secara intraday,” ujar Kautsar.
Selain pasar saham, geliat pasar surat utang juga memberi sinyal kuatnya minat investor di awal 2026. Sepanjang periode 5–9 Januari 2026, BEI mencatatkan tiga obligasi dan satu sukuk dari tiga emiten. Masuknya instrumen-instrumen baru ini menambah alternatif investasi sekaligus mempertebal likuiditas di pasar keuangan domestik, yang efeknya masih terasa pada pekan ini.
PT Eagle High Plantations Tbk mencatatkan obligasi dan sukuk dengan total nilai Rp500 miliar, disusul PT Summarecon Agung Tbk dengan obligasi senilai Rp351,96 miliar, serta PT Energi Mega Persada Tbk yang menerbitkan obligasi senilai Rp500 miliar. Seluruh instrumen tersebut memperoleh peringkat investment grade dari PEFINDO, mencerminkan kepercayaan pasar terhadap penerbit di tengah kondisi pasar yang aktif.
Derasnya likuiditas juga tercermin dari pergerakan investor asing. Pada pekan lalu, investor asing mencatatkan beli bersih Rp2,56 triliun, dengan akumulasi beli bersih sepanjang tahun 2026 mencapai Rp3,1 triliun. Aliran dana ini menjadi faktor penting yang menjaga IHSG tetap bertahan di area tinggi pada pekan ini, meski tekanan ambil untung mulai terlihat setelah reli cepat.
Kapitalisasi pasar BEI pun ikut terdongkrak 1,79 persen menjadi Rp16.301 triliun. Angka ini menegaskan bahwa meski IHSG tidak lagi berada di atas 9.000, struktur pasar masih kuat dan belum menunjukkan tanda pembalikan arah yang signifikan.
Melalui kombinasi likuiditas besar, transaksi yang tetap ramai, serta dukungan dari pasar obligasi dan sukuk, pergerakan IHSG pada pekan ini dinilai lebih bersifat konsolidasi sehat.
Momentum tembusnya level 9.000 pada pekan lalu kini menjadi referensi penting bagi pelaku pasar dalam membaca arah IHSG ke depan, bukan sekadar euforia sesaat, melainkan cerminan daya tahan pasar modal Indonesia di awal 2026.(*)