Logo
>

IHSG Sesi I Masih di Zona Merah, Selanjutnya Uji Area ini

Indeks melemah tipis ke 7.544 di sesi I dengan tekanan dari BREN, DSSA, dan CUAN, sementara ASII, BMRI, dan ANTM menahan penurunan.

Ditulis oleh Yunila Wati
IHSG Sesi I Masih di Zona Merah, Selanjutnya Uji Area ini
IHSG masih berada dalam tekanan. Di sesi selanjutnya, diperkerikan menguji area 7.546 – 7.555. (Foto: dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak di zona merah pada sesi pertama perdagangan bursa Rabu, 22 April 2026. Indeks parkir di level 7.544,36, turun 15,02 poin atau 0,20 persen. Walau begitu, sejumlah saham besar masih menunjukkan kekuatannya.

IHSG sempat dibuka di level 7.528,34, lalu menyentuh level terendahnya di 7.523,54 dan kemudian naik ke level tertinggi di 7.578,05. Sayangnya, indeks kemudian melemah dan turun ke area penutup sesi.

Di sini, pasar sempat mencoba memantul. Namun, dorongan beli beloum cukup kuat untuk menjaga indeks bertahan di atas area rebound intraday.

Jika dilihat dari sisi aktivitas, likuiditas IHSG memang tetap ramai. Volume transaksi di seluruh pasar bahkan mencapai 265,80 juta lot. Sementara, nilainya mencapai Rp9,25 triliun dan frekuensinya berada di 1,68 juta kali.

Untuk di pasar regular, transaksi tercatat sebesar 259,72 juta lot dengan nilai Rp8,70 triliun. Artinya, pelemahan ini tidak terjadi dalam saat pasar sepi, melainkan ada tekanan jugal yang nyata, bukan sekadar noise.

Sesi II Uji Area 7.546 – 7.555

Secara teknikal, posisi IHSG sekarang sangat dekat dengan titik penentu jangka sangat pendek. Pivot klasik berada di 7.546,73, nyaris sejajar dengan posisi penutupan sesi I di 7.544,36. 

Ini berarti indeks sedang berada di bawah pivot tipis sekali, sehingga sesi kedua akan sangat ditentukan oleh apakah IHSG mampu merebut kembali area 7.546–7.555 atau justru tergelincir lebih dalam.

Gambaran dari moving average juga belum benar-benar nyaman. IHSG masih berada di bawah MA5 sederhana 7.589,97 dan MA10 sederhana 7.551,57, yang menandakan momentum jangka pendek belum pulih penuh. 

Namun di sisi lain, indeks masih berada di atas MA20 sederhana 7.333,48 dan dekat dengan EMA20 di 7.489,09, sehingga struktur menengahnya belum rusak. Dengan kata lain, pasar sedang berada dalam fase tarik-menarik: tren pendek melemah, tetapi fondasi menengah masih bertahan.

Kalau ditarik ke peta intraday, support terdekat ada di area 7.524, lalu 7.511 sampai 7.489. Area 7.524 penting karena itu sejalan dengan S1 klasik 7.524,47 dan juga berada dekat low sesi pertama 7.523,54. 

Jika area ini kembali jebol pada sesi kedua, tekanan bisa bergeser ke 7.511 bahkan 7.489. Sebaliknya, bila IHSG mampu kembali naik dan menembus 7.546–7.555, ruang pantul terbuka ke 7.564, lalu 7.582, dengan resistance intraday yang lebih berat di sekitar 7.603.

Top Gainers dan Top Loosers

Dari daftar saham yang melemah, tekanan paling tajam terlihat pada saham-saham yang bobot sentimennya besar dan punya efek psikologis kuat ke pasar. DSSA anjlok 10,79 persen ke Rp2.480, BREN turun 7,53 persen ke Rp5.525.

Begitu pula dengan BRPT yang melemah 2,17 persen ke Rp2.250, GOTO turun 1,79 persen ke Rp55, BNBR turun 1,74 persen ke Rp226, CUAN melemah 2,29 persen, UNVR turun 0,56 persen ke Rp1.790, dan BBRI turun 0,31 persen ke Rp3.260. 

Deretan ini memperlihatkan bahwa tekanan tidak hanya datang dari satu klaster, tetapi menyebar dari saham konglomerasi, energi, teknologi, hingga consumer.

Pelemahan BREN, BRPT, CUAN, dan BNBR memberi sinyal bahwa saham-saham dengan sensitivitas sentimen tinggi justru menjadi sumber beban indeks pada sesi pertama. 

Namun pasar tidak sepenuhnya gelap. Ada kantong-kantong kekuatan yang justru menahan penurunan lebih dalam. ASII naik 3,95 persen ke Rp6.575, ANTM menguat 1,99 persen ke Rp4.110, BMRI naik 1,06 persen ke Rp4.750.

Hal yang sama terjadi pada ESSA, yang  naik 1,79 persen ke Rp855. BRMS menguat 1,67 persen ke Rp915, ENRG naik 0,54 persen ke Rp1.845, BULL naik 2,80 persen ke Rp550, dan SSIA melonjak 8 persen ke Rp1.755.

Kenaikan ASII, ANTM, dan BMRI penting dibaca karena ketiganya datang dari kelompok saham yang relatif lebih mapan dan sering menjadi penyangga indeks. Saat BMRI dan ASII mampu bertahan hijau di tengah pelemahan IHSG, pasar sebenarnya masih menyisakan daya tahan di saham-saham besar yang lebih defensif. 

ANTM yang naik hampir 2 persen juga menunjukkan masih ada rotasi ke saham berbasis komoditas atau saham yang dianggap punya cerita fundamental lebih jelas.

Untuk proyeksi hingga penutupan hari ini, skenario dasarnya masih cenderung konsolidatif dengan bias melemah tipis. Rentang yang paling masuk akal untuk sesi kedua berada di kisaran 7.511 hingga 7.582, dengan area 7.524 sebagai support kunci dan 7.582 sebagai resistance terdekat yang perlu ditembus bila pasar ingin menutup hari dengan pemulihan lebih meyakinkan. 

Bila tekanan jual membesar dan 7.511 gagal bertahan, IHSG berisiko turun ke sekitar 7.489. Sebaliknya, bila indeks mampu stabil di atas 7.546 lalu menembus 7.564, penutupan berpeluang bergerak ke 7.570–7.590.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79