KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada jeda perdagangan sesi pertama, Selasa, 13 Januari 2026, ditutup melemah tipis. Harga kembali ke level awal pembukaan, yaitu 8.884,62. IHSG sempat bergerak menyentuh level tertingginya di 8.956, namun akhirnya berbalik ke zona merah dan menyentuh level terendah di 8.867.
Sepanjang sesi pertama, transaksi mencapai 2,33 juta kali dengan nilai transaksi sebesar Rp19,26 triliun, serta kapitalisasi pasar mencapai Rp16,09 triliun. Sebanyak 370 emiten menguat, 344 melemah, dan 254 bergerak stagnan.
Dari sisi sektor, ada lima yang mengalami koreksi dan enam menguat. Sektor yang mengalami pelemahan adalah infrastruktur turun 0,21 persen ke level 2.674, transportasi turun 0,66 persen menjadi 2.132.
Lalu, sektor teknologi juga turun 0,08 persen menjadi 9.719. Sementara sektor konsumer primer terkoreksi 1,89 persen menjadi 1.342, dan sektor energi melemah 1,17 persen ke level 4.755.
Sedangkan sektor yang mengalami penguatan adalah sektor kesehatan yang naik 0,29 persen menjadi 2.111, konsumer non-primer yang menguat 0,65 persen menjadi 818, dan sektor properti naik 0,42 persen menjadi 1.258.
Sektor industry melonjak 2,53 persen menjadi 2.450, sektor keuangan naik 0,33 persen menjadi 1.530, dan sektor bahan baku menguat 1,03 persen menjadi 2.286.
Bursa Asia Kompak Menguat
Meninggalkan IHSG yang bergerak stagnan, berdagangan bursa di pasar Asia justru cukup solid. Nikkei 225 melesat 3,12 persen, Topix naik 2,34 persen, Hang Seng menguat 1,01 persen, Kospi naik 0,84 persen, ASX200 menguat 0,71 persen, dan Taiex naik 0,29 persen.
Sementara pasar China bergerak serupa IHSG, dengan Shanghai Composite turun tipis 0,03 persen, Shenzhen melemah 0,31 persen, dan CSI300 hanya naik 0,01 persen.
Penguatan mayoritas indeks Asia ini terjadi di tengah sentimen global yang sebenarnya cukup kompleks. Ketegangan geopolitik di Iran dan Venezuela, serta isu penyelidikan kriminal terhadap Ketua Federal Reserve AS, Jerome Powell, bukanlah sentimen ringan.
Namun pasar justru memilih untuk mengabaikannya sementara waktu. Ini memberi sinyal bahwa risk appetite global belum benar-benar runtuh.
Salah satu faktor utama yang sedang dipantau pasar adalah pergerakan harga minyak. Protes yang berlangsung di Iran, ditambah dengan pernyataan Presiden Donald Trump yang mengancam akan mengenakan tarif 25 persen terhadap negara-negara yang masih berbisnis dengan Iran.
Dalam konteks ini, penguatan saham-saham energi dan komoditas di Asia, serta sebagian di Indonesia, menjadi masuk akal.
Kondisi ini membuat pasar Asia berada dalam fase yang bisa disebut sebagai selective risk-on. Investor tidak serta-merta masuk ke semua aset berisiko, tetapi memilih sektor-sektor tertentu yang dianggap memiliki perlindungan alami terhadap gejolak global, seperti energi, komoditas, dan industri berat.
IHSG yang stagnan di tengah penguatan mayoritas bursa Asia menunjukkan bahwa pasar domestik sedang melakukan penyesuaian internal. Ada proses rotasi, ada reposisi, dan ada kehati-hatian. Ini bukan sinyal panik, melainkan fase konsolidasi.(*)