KABARBURSA.COM - Setelah sempat memberi harapan bangkit pada pertengahan Juni, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali kehilangan tenaga. Dalam sepekan perdagangan 22-26 Juni 2026, indeks terkoreksi 4,55 persen dan ditutup di level 5.896,13.
Pelemahan ini tidak hanya menghapus sebagian penguatan yang sempat terbentuk sebelumnya, tetapi juga memperlihatkan bahwa tekanan jual masih mendominasi pasar domestik.
Gambaran itu terlihat dari hampir seluruh indikator perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI). Kapitalisasi pasar menyusut menjadi Rp10.302 triliun dari Rp10.788 triliun pada pekan sebelumnya.
Aktivitas transaksi juga melambat, dengan rata-rata nilai transaksi harian turun hampir 30 persen menjadi Rp17,58 triliun. Volume perdagangan harian ikut menyusut 26 persen, sementara frekuensi transaksi turun hampir 23 persen.
Di sisi lain, investor asing kembali mencatatkan net sell Rp537,25 miliar pada perdagangan Jumat, 26 Juni 2026, sehingga akumulasi jual bersih asing sepanjang 2026 membengkak menjadi Rp71,68 triliun.
Tekanan tersebut semakin terasa karena hampir seluruh sektor berakhir di zona merah. Hanya sektor keuangan yang mampu bertahan dengan kenaikan tipis 0,03 persen. Sementara, sektor basic materials, industrial, cyclical, energi hingga teknologi mencatat pelemahan yang cukup dalam.
Teknikal IHSG
Secara teknikal, MNC Sekuritas melihat posisi IHSG juga belum sepenuhnya aman. Koreksi 1,72 persen pada Jumat membuat indeks kembali berada di bawah MA20. Sementara secara mingguan target koreksi minimal yang sebelumnya diperkirakan memang sudah tercapai.
Dalam struktur Elliott Wave, IHSG diperkirakan masih bergerak pada wave (b) dari wave [iv], yang berarti peluang koreksi lanjutan masih terbuka sebelum pasar membentuk fondasi baru.
Skenario tersebut sejalan dengan pandangan Phintraco Sekuritas. Secara teknikal, IHSG kini berada di bawah MA5, MA10 dan MA20, sementara histogram MACD mulai melemah dan Stochastic RSI bergerak memasuki area pivot.
Kombinasi indikator tersebut membuka peluang IHSG menguji area 5.700-5.800 pada awal pekan depan. Dalam jangka pendek, indeks diperkirakan memiliki ruang rebound terbatas ke kisaran 5.912-5.937.
Tetapi, selama belum mampu bertahan di atas area tersebut, tekanan jual masih berpotensi berlanjut dengan target support berikutnya di 5.723-5.784.
Pergerakan Senin, 29 Juni 2026, nanti juga diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh sentimen makro. Investor akan mencermati rilis data PMI Manufaktur Indonesia, neraca perdagangan, serta inflasi yang menjadi petunjuk kondisi ekonomi domestik.
Data-data tersebut berpotensi menjadi katalis yang menentukan apakah pasar mampu melakukan technical rebound atau justru kembali melanjutkan pelemahan.
Dalam kondisi seperti ini, strategi yang lebih bijak bukan mengejar saham yang sudah bergerak naik, melainkan menunggu peluang akumulasi pada saham yang secara fundamental masih menarik tetapi sedang memasuki area koreksi teknikal.
Perhatikan JSMR dan CUAN
Salah satu yang layak diperhatikan adalah JSMR. Di tengah percepatan pembangunan Tol Jogja-Solo dan potensi peningkatan lalu lintas selama musim libur sekolah, saham ini justru terkoreksi ke Rp2.940.
Secara teknikal, JSMR diperkirakan sedang membentuk wave (2) dari wave [A], sehingga strategi buy on weakness di area Rp2.770-Rp2.930 masih menarik dengan target kenaikan Rp3.170 hingga Rp3.410, selama mampu bertahan di atas level stop loss Rp2.770.
Pilihan berikutnya adalah CUAN. Saham ini memang masih berada dalam tekanan pascadivestasi 1,7 miliar saham oleh Prajogo Pangestu dan belum menunjukkan sinyal pembalikan yang kuat.
Namun, justru karena koreksi yang sudah cukup dalam, area Rp520-Rp550 menjadi zona yang menarik untuk dicermati sebagai buy on weakness. Jika tekanan jual mulai mereda, peluang rebound menuju Rp720 hingga Rp830 masih terbuka, dengan batas risiko di bawah Rp482.
Artinya, peluang pada pekan depan kemungkinan bukan berasal dari reli besar-besaran, melainkan dari proses seleksi saham yang mulai memasuki area akumulasi.
Selama IHSG masih bergerak di bawah rata-rata pergerakan utamanya dan tekanan jual asing belum mereda, investor sebaiknya tetap menjaga disiplin manajemen risiko serta memanfaatkan koreksi untuk mengoleksi saham secara bertahap, bukan sekaligus.
Dengan demikian, perdagangan besok diperkirakan masih akan berlangsung volatil. Rebound teknikal tetap mungkin terjadi setelah koreksi tajam sepekan terakhir. Tetapi, selama IHSG belum mampu kembali ke atas area 5.900-5.937, tekanan menuju kisaran 5.700 masih menjadi skenario yang perlu diwaspadai.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.