KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan menutup akhir pekan kemarin, Kamis, 30 April 2026, dengan tekanan penuh. Indeks terkoreksi signifikan hingga 2,03 persen dan berakhir di level 6.956,80.
Pelemahan IHSG terjadi disaat nilai transaksi mencapai Rp21,88 triliun dan frekuensi perdagangan sebanyak 2,66 juta kali. Di balik angka itu, dana asing tercatat keluar dengan net sell sekitar Rp1,7 triliun.
Sepanjang sesi perdagangan saat itu, IHSG sempat dibuka di area 7.103 dan bergerak ke level tertinggi 7.109. Namun, akhirnya menyerah dan berhenti di 6.876. Penutupan di bawah area psikologis 7.000 ini mengisyaratkan bahwa pasar belum menemukan pijakan yang solid.
Level support krusial di 6.917 yang sebelumnya menjadi penahan, berhasil ditembus dan membuka ruang koreksi lanjutan yang secara teknikal mengarah ke rentang 6.645 hingga 6.838.
Jika ditarik ke timeframe mingguan, tekanan terhadap IHSG lebih tebal. Indeks terkoreksi 2,42 persen dalam sepekan, dengan pola dominasi penjual. Dalam kerangka gelombang, posisi indeks saat ini berada pada fase akhir dari wave [v] dalam struktur wave A dari wave (2), yang secara historis sering menjadi fase rentan sebelum terbentuknya dasar baru.
Kondisi ini membuat pasar berada dalam posisi yang cenderung defensif. MNC Sekuritas melihat IHSG akan mengawali Mei dengan resistance terdekat di 7.022 dan 7.240. Di sini, ruang penguatan masih dibatasi, sementara support berikutnya di 6.838 dan 6.745 menjadi area yang akan diuji.
Artinya, di awal pekan esok, IHSH berpotensi bergerak secara volatil dengan kecenderungan menguji area bawah.
Cermati ANTM, CPIN, DEWA, dan MAPI
Di tengah kondisi indeks yang belum stabil, MNC Sekuritas menilai sejumlah saham masih menarik untuk dicermati.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), misalnya. Pada akhir pekan kemarin, saham ini bergerak turun 3,61 persen ke level 3.740. Tekanan jual masih sangat mendominasi. Namun secara struktur, saham ini diperkirakan sedang berada di fase wave B, yang kerap menjadi area akumulasi sebelum potensi pergerakan berikutnya.
Di sini, rentang 3.550–3.710 menjadi area yang mulai dilirik untuk buy on weakness, dengan target teknikal di 3.910 hingga 4.130.
Hal yang sama terjadi pada PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN). Koreksi menghantui CPIN di akhir pekan, dengan koreksi sebesar 2,43 persen ke 4.010.
Tekanan jual ini membawa saham ke fase awal wave [b] dari wave 2, sebuah fase yang sering kali menjadi jeda sebelum arah berikutnya terbentuk. Area 3.990–4.000 menjadi titik krusial yang dipantau, dengan target penguatan ke 4.190 hingga 4.260.
Berbeda dengan dua saham tersebut, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) justru menunjukkan karakter yang tidak sama. Meski turun tipis 0,80 persen ke 496, volume pembelian cukup tebal. Artinya, aktivitas akumulasi masih terjadi di tengah pelemahan harga.
Dengan begitu, secara teknikal, DEWA berada di fase akhir wave B, dengan rentang 458–486 menjadi area yang diperhatikan sebelum potensi penguatan ke 545 hingga 595.
Tekanan paling dalam justru terlihat pada pergerakan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). MAOU terkoreksi paling dalam, yaitu 5,81 persen dan membawa harga ke level 1.215. Pergerakannya sudah menembus MA200.
Ini menempatkan MAPI dalam fase wave [iv], yang secara historis sering menjadi fase konsolidasi lanjutan sebelum arah berikutnya terbentuk. Area 1.180–1.215 menjadi zona yang mulai dipantau, dengan target teknikal di 1.345 hingga 1.410.
Melihat secara keseluruhan, pasar saat ini belum sepenuhnya keluar dari tekanan. IHSG masih bergerak dalam fase korektif dengan risiko uji level bawah yang masih terbuka.
Namun di sisi lain, beberapa saham sudah mulai memasuki fase yang secara historis sering menjadi area awal pembentukan peluang, terutama bagi pelaku pasar yang menunggu momentum buy on weakness.(*)