Logo
>

Indeks Dolar Menyentuh Level Tertinggi, Euro dan Yen Tertekan

Departemen Tenaga Kerja Amerika melaporkan klaim awal tunjangan pengangguran turun 9.000 menjadi 198.000

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Indeks Dolar Menyentuh Level Tertinggi, Euro dan Yen Tertekan
Ilustrasi Mata Uang Dolar Amerika. Foto: Dok KabarBursa.com

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Dolar AS menembus puncak enam pekan pada Kamis, didorong data tak terduga yang menunjukkan klaim tunjangan pengangguran baru menurun. Fakta ini semakin memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga untuk beberapa bulan ke depan, menegaskan stabilitas greenback di tengah ketidakpastian global.

    Departemen Tenaga Kerja Amerika melaporkan klaim awal tunjangan pengangguran turun 9.000 menjadi 198.000 klaim yang disesuaikan musiman untuk pekan yang berakhir 10 Januari. Angka ini jauh lebih rendah dibanding perkiraan ekonom yang disurvei Reuters, yaitu 215.000 klaim.

    “Kita berada di batas bawah kisaran normal,” ujar analis DRW Trading, Lou Brien, menambahkan bahwa pelaku pasar kemungkinan sedikit menggeser posisi, sehingga mendorong dolar lebih tinggi. Namun, Brien menekankan bahwa data ketenagakerjaan AS saat ini cenderung melebih-lebihkan pertumbuhan lapangan kerja akibat kelemahan metode perhitungan birth-death model. Revisi tahunan data penggajian diperkirakan akan menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih lemah, meski laporan tersebut biasanya keluar dengan jeda waktu panjang.

    Fed funds futures kini menunda ekspektasi penurunan suku bunga berikutnya hingga Juni, seiring data tenaga kerja yang membaik dan pernyataan pejabat The Fed yang masih menyoroti tekanan inflasi yang belum mereda sepenuhnya. Laporan ketenagakerjaan Desember lalu menunjukkan tingkat pengangguran turun lebih dari perkiraan, menjadi 4,4 persen.

    Presiden Federal Reserve Chicago, Austan Goolsbee, menekankan pentingnya fokus kebijakan pada penurunan inflasi di tengah stabilitas pasar tenaga kerja yang kuat. Sementara itu, Presiden Fed Kansas City, Jeff Schmid, menilai inflasi masih terlalu panas, sedangkan Presiden Fed San Francisco, Mary Daly, menyebut data ekonomi terbaru menjanjikan, meski risiko terhadap mandat inflasi dan ketenagakerjaan tetap ada.

    Indeks Dolar (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama termasuk yen dan euro, naik 0,24 persen menjadi 99,31 dan sempat menyentuh 99,49, level tertinggi sejak 2 Desember. Euro melemah 0,25 persen ke USD1,1613, sempat turun ke USD1,1592, level terendah sejak awal Desember.

    Sentimen risiko membaik setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak memiliki rencana memecat Ketua Federal Reserve Jerome Powell, meski ada penyelidikan Departemen Kehakiman terhadap pimpinan bank sentral tersebut. Trump juga menegaskan terlalu dini untuk menentukan langkah selanjutnya. Selain itu, dia menyatakan bahwa aksi pembunuhan dalam penindakan protes di Iran mulai mereda, tanpa rencana eksekusi massal, menandai pendekatan wait and see setelah sebelumnya mengancam intervensi.

    Di ranah perdagangan, Amerika Serikat dan Taiwan mencapai kesepakatan yang diyakini Departemen Perdagangan AS dapat mendorong repatriasi besar-besaran industri semikonduktor ke Negeri Paman Sam.

    Pemilu Jepang Jadi Sorotan

    Yen melemah karena kekhawatiran Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi akan memiliki ruang lebih besar untuk menjalankan kebijakan fiskal ekspansif. Sekjen partai berkuasa menyebut Takaichi akan membubarkan parlemen pekan depan dan menggelar pemilu dadakan untuk mengamankan dukungan publik terhadap rencana belanja pemerintahannya.

    Analis TD Securities, Alex Loo, menilai jika Partai Demokrat Liberal pimpinan Takaichi berhasil menguasai mayoritas di Majelis Rendah, yen berpotensi melemah lebih lanjut. Mandat publik yang kuat dapat mendorong kebijakan fiskal agresif, menjadi katalis bagi USD/JPY menembus level 162. Sebaliknya, jika gagal, kenaikan USD/JPY diperkirakan tertahan dan bisa kembali di bawah 156 seiring investor menutup posisi jual yen.

    Yen terakhir tercatat melemah tipis 0,02 persen ke 158,48, namun tetap di bawah level terendah 18 bulan di 159,45 yang tercapai Rabu, sementara pasar mencermati potensi intervensi untuk menopang nilai tukar. Otoritas Jepang menegaskan tidak akan mengesampingkan opsi apa pun untuk meredam volatilitas mata uang.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Pramirvan Datu

    Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.