Logo
>

INKP Siapkan Obligasi Rp10 Triliun, TPIA Lunasi Utang Jatuh Tempo

INKP kantongi peringkat idA+ untuk rencana obligasi dan sukuk hingga Rp10 triliun, sementara TPIA siapkan pelunasan utang Rp587,95 miliar dengan likuiditas internal

Ditulis oleh Yunila Wati
INKP Siapkan Obligasi Rp10 Triliun, TPIA Lunasi Utang Jatuh Tempo
TPIA pergunakan dana obligasi untuk membayar utang yang sudah jatuh tempo. (Foto: Dok TPIA)

Poin Penting :

KABARBURSA.COM – Dua emiten besar dari sektor industri dasar dan petrokimia, PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), menunjukkan langkah berbeda dalam pengelolaan struktur pendanaan pada Maret 2026. INKP bersiap menghimpun dana baru melalui penerbitan obligasi dan sukuk, sementara TPIA menyiapkan pelunasan utang jatuh tempo dalam waktu dekat.

PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) menetapkan peringkat idA+ untuk rencana Obligasi Berkelanjutan VI Tahun 2026 INKP dengan nilai maksimum Rp10 triliun, serta obligasi berdenominasi dolar Amerika Serikat hingga USD100 juta. Pada saat yang sama, PEFINDO juga memberikan peringkat idA+(sy) untuk Sukuk Mudharabah Berkelanjutan V Tahun 2026 dengan nilai maksimum Rp10 triliun.

Peringkat tersebut sejalan dengan konfirmasi peringkat idA+ untuk INKP dan obligasi yang masih beredar, serta idA+(sy) untuk sukuk eksisting, dengan prospek stabil. Penilaian ini mencerminkan posisi INKP sebagai produsen bubur kertas dan kertas dengan struktur bisnis terintegrasi secara vertikal, yang didukung oleh diversifikasi produk dan pasar geografis yang luas.

Rencana penerbitan instrumen utang tersebut diarahkan untuk kebutuhan modal kerja dan refinancing. Dalam struktur keuangan yang disampaikan, PEFINDO mencatat bahwa profil kredit INKP masih dibatasi oleh tingkat leverage yang moderat, volatilitas harga produk dan bahan baku, serta kebutuhan modal kerja yang relatif tinggi.

Sejumlah indikator keuangan menjadi acuan dalam evaluasi peringkat tersebut, antara lain rasio utang terhadap EBITDA yang diharapkan tetap di bawah 3,0 kali serta rasio utang terhadap ekuitas di bawah 0,8 kali. Selain itu, rasio cakupan bunga ditargetkan berada di atas 5,0 kali, sementara rasio arus kas terhadap utang dipertahankan di atas 30 persen.

Utang Jatuh Tempo TPIA

Di sisi lain, TPIA justru bergerak pada jalur yang berbeda dengan menyiapkan pelunasan kewajiban utang. Perusahaan petrokimia tersebut menyatakan kesiapan untuk melunasi pokok Obligasi Berkelanjutan III Tahap III Tahun 2021 Seri B senilai Rp587,95 miliar yang akan jatuh tempo pada 15 April 2026.

Direktur TPIA Suryandi, menyampaikan bahwa pelunasan pokok dan kupon terakhir akan dilakukan tepat waktu melalui PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Ia menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari pengelolaan kewajiban keuangan yang telah direncanakan perusahaan.

“Kesiapan pelunasan ini sekaligus memberikan sinyalemen positif mengenai ketahanan arus kas perusahaan dalam menghadapi berbagai liabilitas jangka pendek yang akan segera jatuh tempo,” ujar Suryandi dalam keterangannya pada 17 Maret 2026.

Pernyataan tersebut juga menegaskan posisi likuiditas internal TPIA yang disebut berada dalam kondisi memadai. Ketersediaan kas dan setara kas dinyatakan cukup untuk memenuhi kewajiban finansial tanpa mengganggu operasional maupun rencana ekspansi yang sedang berjalan.

Dalam konteks yang lebih luas, langkah INKP dan TPIA mencerminkan dua pendekatan berbeda dalam pengelolaan struktur permodalan. INKP memanfaatkan akses pasar utang untuk mendukung kebutuhan pendanaan dan refinancing, sementara TPIA menunjukkan kesiapan dalam menurunkan kewajiban melalui pelunasan utang yang jatuh tempo.

Kedua aksi korporasi ini berlangsung di tengah dinamika pasar yang dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas global serta kondisi likuiditas domestik, dengan masing-masing perusahaan mempertahankan parameter keuangan sesuai dengan batasan yang disampaikan dalam keterbukaan informasi.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79