Logo
>

INPP Andalkan Recurring Income untuk Dongkrak Ekspansi Bisnis

INPP menargetkan pendapatan berulang di atas 75 persen pada 2026 untuk menjaga pertumbuhan bisnis dan mendukung ekspansi proyek baru.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
INPP Andalkan Recurring Income untuk Dongkrak Ekspansi Bisnis
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). Foto: dok INPP.

KABARBURSA.COM – PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) menyiapkan mesin pertumbuhan baru untuk menopang ekspansi bisnis perseroan. Berbeda dengan banyak pengembang yang masih mengandalkan penjualan properti, INPP justru menempatkan pendapatan berulang (recurring income) sebagai tulang punggung bisnisnya.

Perseroan menargetkan kontribusi pendapatan berulang tetap berada di atas 75 persen terhadap total pendapatan sepanjang 2026. Strategi tersebut menjadi salah satu modal utama INPP untuk menjaga pertumbuhan sekaligus mendukung pengembangan proyek-proyek baru.

Presiden Direktur INPP, Andri Hadi, mengatakan perseroan berhasil mempertahankan tren pertumbuhan selama lima tahun terakhir melalui kombinasi pengelolaan aset yang disiplin dan pengembangan proyek secara selektif.

"Kami tidak hanya membangun properti, tetapi juga membangun kepercayaan dan pengalaman. Dengan portofolio yang semakin matang serta ekspansi yang terukur, kami optimistis dapat menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan dan menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," kata Andri Hadi dalam keterangan resminya, Kamis, 18 Juni 2026.

Menurut dia, pendapatan berulang yang berasal dari hotel, pusat perbelanjaan, dan aset komersial lainnya menjadi fondasi penting untuk menjaga stabilitas bisnis di tengah dinamika industri properti.

Recurring Income jadi Penopang Pertumbuhan

Strategi tersebut mulai terlihat pada kinerja operasional perseroan. Sepanjang 2025, INPP membukukan pendapatan sebesar Rp1,74 triliun atau tumbuh 32,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, EBITDA meningkat 24,6 persen menjadi Rp680 miliar, mencerminkan peningkatan kualitas pendapatan dan efisiensi operasional perusahaan.

Memasuki 2026, tren pertumbuhan masih berlanjut. Pada kuartal pertama tahun ini, pendapatan perseroan mencapai Rp374,3 miliar atau meningkat 9,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. EBITDA juga tumbuh 20 persen menjadi Rp100,67 miliar pada kuartal I 2026.

Manajemen menilai, kinerja tersebut menunjukkan model bisnis berbasis pendapatan berulang mampu memberikan stabilitas arus kas sekaligus menjaga kemampuan perusahaan untuk terus berekspansi.

Semarang dan Balikpapan jadi Tumpuan Baru

Selain mengandalkan aset yang telah beroperasi, INPP juga mulai memanen kontribusi dari proyek-proyek baru. Pada 2025, perseroan meresmikan 23 Semarang Shopping Center yang menjadi bagian dari kompleks terpadu 23 Semarang. Proyek tersebut menambah portofolio aset komersial perusahaan sekaligus memperluas sumber pendapatan berulang.

Perseroan juga tengah menyiapkan Plaza 88 Balikpapan sebagai salah satu proyek strategis berikutnya yang diharapkan menjadi mesin pertumbuhan baru dalam beberapa tahun ke depan.

Andri mengatakan ekspansi tetap dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan kualitas aset dan potensi pertumbuhan jangka panjang.

"Setiap proyek yang kami jalankan harus memiliki nilai tambah yang jelas serta mampu memperkuat ekosistem bisnis yang sudah kami bangun," ujarnya.

Di tengah agenda ekspansi tersebut, posisi keuangan perseroan masih relatif terjaga. INPP memperoleh peringkat idAAA(cg) dari PEFINDO untuk Obligasi Berkelanjutan I Tahap III Tahun 2025 senilai Rp500 miliar. Perseroan juga mencatatkan rasio utang terhadap ekuitas bersih (net debt to equity ratio) sebesar 0,21 kali pada akhir 2025.

Struktur permodalan yang konservatif tersebut memberikan ruang bagi perusahaan untuk melanjutkan ekspansi tanpa tekanan leverage yang berlebihan.

Selain itu, INPP juga memperkuat kemitraan strategis dengan investor internasional melalui kerja sama dengan Hankyu Hanshin Properties Corp dari Jepang pada 2025.

Manajemen menilai kolaborasi tersebut membuka peluang untuk memperluas pengembangan proyek sekaligus meningkatkan standar pengelolaan aset perusahaan.

Performa Saham INPP di Bursa

Meski fundamental perusahaan menunjukkan pertumbuhan, pergerakan saham INPP masih cenderung terbatas sepanjang tahun berjalan.

Pada perdagangan Kamis, 18 Juni 2026, saham INPP ditutup turun 1,95 persen ke level Rp755 per saham. Secara year to date (YTD), saham INPP tercatat melemah tipis 0,66 persen.

Namun dalam periode enam bulan terakhir, saham perseroan masih membukukan kenaikan sekitar 10,22 persen. Dalam horizon tiga tahun, saham INPP naik 64,13 persen, menunjukkan apresiasi jangka panjang yang masih positif.

Dengan harga saham Rp755 per lembar, INPP memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp8,44 triliun dan diperdagangkan pada price to book value (PBV) sekitar 1,49 kali.

Bagi investor, fokus utama ke depan adalah apakah strategi pendapatan berulang yang mendominasi lebih dari 75 persen total pendapatan mampu terus menjadi mesin pertumbuhan sekaligus menopang ekspansi proyek-proyek baru yang sedang disiapkan perseroan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.