KABARBURSA.COM - Di tengah dinamika pasar modal yang kian kompleks, kebutuhan investor terhadap informasi yang kredibel dan berbasis riset menjadi semakin krusial. Menjawab tantangan tersebut, Kawancuan Indonesia menggelar Kawancuan Investor Gathering bertajuk “Stock Market 101 Meets 2026 Outlook”, sebagai forum edukatif dan strategis bagi investor dalam menyiapkan arah investasi tahun 2026.
Acara ini diselenggarakan pada 7 Februari 2026 di Dharmein Hotel, Blok M, Jakarta Selatan, pukul 09.00–14.00 WIB, dan dihadiri oleh investor ritel hingga pelaku pasar yang ingin memperdalam pemahaman mengenai kondisi pasar, pendekatan riset saham, serta insight langsung dari emiten.
Founder Kawancuan Indonesia, Muhammad Fatah Al Falah, mengatakan kegiatan ini dirancang agar investor tidak hanya mengikuti pergerakan harga, tetapi juga memahami logika di baliknya.
“Melalui Investor Gathering ini, kami ingin menghadirkan ruang diskusi yang objektif dan berbasis data. Investor tidak hanya ikut arus, tetapi juga memahami risiko dan peluang pasar. Harapannya, peserta bisa membangun strategi yang lebih matang menghadapi market 2026,” ujar Fatah.
Salah satu sesi penting dalam acara ini adalah Institutional Perspective for 2026 yang dibawakan oleh Keifan Yusuf, Investor Relations dari PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN). Dalam paparannya, Keifan menjelaskan bagaimana emiten melihat prospek bisnis ke depan serta strategi perusahaan dalam menghadapi tantangan ekonomi dan peluang pertumbuhan.
Sesi ini memberi gambaran kepada peserta tentang cara pandang institusi terhadap pengembangan bisnis, manajemen risiko, hingga positioning perusahaan di tengah kondisi pasar yang dinamis.
Pembahasan berlanjut ke sektor energi melalui sesi Gas & Energy Sector Outlook 2026 oleh Arandi Nugraha Pradana, Equity Research Analyst Oil & Gas Sector dari RHB Sekuritas Indonesia.
Arandi menyoroti dinamika global supply–demand minyak dan gas, potensi gangguan pasokan, hingga peran geopolitik yang memengaruhi harga energi.
Ia menilai sektor migas masih memiliki ruang pertumbuhan, terutama ketika permintaan global tetap terjaga dan harga energi berada di level yang ekonomis bagi produsen.
Menurutnya, investor perlu melihat sektor energi tidak hanya dari fluktuasi harga jangka pendek, tetapi juga dari tren kebutuhan energi global yang masih kuat menuju 2026.
Selanjutnya, Fauzan Lutfi Djamal, Equity Research Analyst Mining Sector RHB Sekuritas Indonesia, memaparkan Mining Sector Outlook 2026.
Ia menjelaskan prospek logam strategis seperti emas, tembaga, timah, dan nikel yang dinilai tetap relevan di tengah ketidakpastian global.
Fauzan menekankan bahwa keterbatasan pasokan, peningkatan kebutuhan industri, serta peran logam sebagai aset lindung nilai membuat sektor pertambangan masih menarik secara struktural.
Dalam sesi ini, peserta juga diperkenalkan pendekatan valuasi seperti PEG ratio, serta pentingnya mengombinasikan analisis fundamental dan teknikal dalam menentukan saham sektor tambang yang layak dikoleksi jangka menengah.
Sebagai penutup, Muhammad Fatah Al Falah kembali memaparkan sesi Market Outlook 2026 dan Smart Money Analysis.
Ia mengajak peserta memahami gambaran besar pasar, mulai dari sentimen global, likuiditas, hingga pergerakan dana besar (smart money) yang kerap menjadi petunjuk arah pasar.
Menurut Fatah, tahun 2026 menuntut investor untuk lebih selektif.
“Market ke depan bukan lagi soal semua saham naik, tapi siapa yang punya cerita, likuiditas, dan dukungan dana besar. Membaca smart money membantu investor tidak hanya masuk, tapi juga tahu kapan bertahan,” jelasnya.
Dalam sesi ini, Fatah juga membagikan sejumlah saham yang dinilai memiliki potensi menarik di 2026 berdasarkan kombinasi sentimen, fundamental, dan pergerakan institusional.
Tidak hanya fokus pada materi, Kawancuan Investor Gathering juga dirancang interaktif. Peserta mendapatkan kesempatan networking, coffee break, makan siang bersama, hingga mengikuti kuis berhadiah yang membuat suasana acara lebih hangat dan komunikatif.
Melalui kegiatan ini, Kawancuan Indonesia menegaskan komitmennya menghadirkan forum edukatif yang aplikatif dan relevan bagi investor.
Kawancuan meyakini bahwa penguatan literasi investasi serta diskusi berkualitas akan mendorong terciptanya komunitas investor yang lebih rasional, adaptif, dan berorientasi jangka panjang dalam menghadapi dinamika pasar menuju 2026. (Nade) (*)