Logo
>

Keanehan ATLA, dari Maybach hingga Disiplin Kas yang Dipertanyakan

Sorotan pasar terhadap ATLA bukan sekadar soal mobil mewah, melainkan akumulasi persoalan tata kelola, tekanan likuiditas, dan belanja aset yang dinilai tak sejalan dengan kondisi kas.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Keanehan ATLA, dari Maybach hingga Disiplin Kas yang Dipertanyakan
Perangkat Remotely Operated Vehicle (ROV) milik PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk (ATLA) yang digunakan untuk mendukung operasi lepas pantai, mulai dari inspeksi bawah laut, pemantauan pendaratan, hingga pekerjaan perbaikan dan pemeliharaan (Inspection, Repair, and Maintenance/IRM). Foto: Dok. ATLA

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Pasar modal tidak selalu gaduh oleh angka rugi atau laba. Kadang, yang membuat investor gelisah justru rangkaian detail kecil yang terasa janggal ketika disatukan. Itulah yang terjadi pada saham PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk (ATLA) pada awal 2026.

    Sorotan pasar muncul bukan semata karena pembelian mobil mewah oleh perusahaan, melainkan karena kombinasi persoalan tata kelola dan likuiditas. Mulai dari pelaporan interim yang tidak sesuai standar, tekanan kas yang tinggi, utang usaha yang telah jatuh tempo, hingga lonjakan belanja aset—terutama aset tak berwujud—yang melenceng jauh dari rencana

    Founder Pintar Saham, Anak Agung Ngurah Mustakawarman, menilai polemik ATLA membesar bukan karena simbol kemewahan semata, tetapi karena lapisan persoalan yang muncul beriringan. Mulai dari kualitas pelaporan, tekanan likuiditas, hingga disiplin belanja perusahaan yang tampak tidak sejalan dengan kondisi kas.

    “Yang bikin isu ini jadi besar bukan karena mobilnya mahal, tapi karena rangkaian angkanya terasa tidak sinkron satu sama lain,” kata Ngurah dalam keterangan tertulis, Selasa, 20 Januari 2026.

    Ngurah menjelaskan, investor pasar modal biasanya masih bisa menoleransi satu masalah. Namun ketika persoalan datang berlapis, toleransi itu cepat menguap. Terlebih jika perusahaan berada dalam kondisi kas ketat, tetapi tetap melakukan belanja yang secara persepsi publik terlihat mewah. Pada titik itu, keputusan manajemen mudah dibaca sebagai prioritas yang keliru.

    Kegelisahan pasar makin terasa ketika Bursa Efek Indonesia meminta penjelasan resmi kepada ATLA. Menurut Ngurah, langkah regulator ini bukan peristiwa biasa. Ia menandai ada sesuatu yang dianggap tidak wajar, melampaui batas normal yang lazim ditoleransi.

    “Ketika regulator sampai minta penjelasan resmi, berarti ada sesuatu yang dianggap tidak wajar pada level yang sudah melewati batas normal,” tulisnya.

    Pelaporan Interim yang Tak Rapi

    Dalam surat tanggapan ATLA kepada BEI tertanggal 19 Januari 2026, Ngurah melihat dua dunia yang saling tarik-menarik. Di satu sisi, perusahaan berbicara tentang ekspansi dan transformasi digital. Di sisi lain, angka-angka yang muncul justru menyorot kualitas kontrol internal.

    Ngurah menyoroti pengakuan manajemen bahwa laporan laba rugi, perubahan ekuitas, dan arus kas interim disajikan tanpa pembanding yang sesuai PSAK 234. Alih-alih menggunakan pembanding 30 September 2024, perusahaan memakai angka 31 Desember 2024.

    “Buat investor, ini bukan sekadar salah format. Ini mengubah cara orang membaca performa,” kata Ngurah.

    Ia menambahkan, ketika aspek mendasar seperti penyajian interim tidak rapi, pasar akan mulai mempertanyakan reliabilitas angka lain yang lebih sarat pertimbangan manajemen. Mulai dari cadangan kerugian piutang hingga kapitalisasi aset tak berwujud.

    Masuk ke sisi bisnis, Ngurah menilai tekanan terbesar ATLA ada pada likuiditas. Target pendapatan perusahaan disebut Rp178,99 miliar, tetapi realisasinya baru 47,23 persen atau sekitar Rp84,53 miliar. Pada saat yang sama, kas dan setara kas baru mencapai 9,16 persen dari target akhir tahun Rp174,6 miliar, setara sekitar Rp15,99 miliar.

    Artinya, ada selisih sekitar Rp158 miliar yang harus dikejar dalam satu kuartal. Menurut Ngurah, ini adalah tekanan kas yang nyata.

    Alarm paling keras berbunyi ketika seluruh utang usaha per 30 September 2025 tercatat telah melewati jatuh tempo. Ini mengindikasikan operasional perusahaan dibiayai dengan menunda pembayaran kepada pemasok.

    “Artinya perusahaan membiayai operasional dengan menunda pembayaran ke pemasok,” katanya.

    Manajemen menyebut keterlambatan pembayaran dari pelanggan utama sebagai pemicu mismatch arus kas. Kas tidak masuk tepat waktu, sementara biaya tetap berjalan. Akibatnya, pemasok menjadi bantalan likuiditas.

    Piutang Turun, tapi Ada Luka Lama

    Di tengah tekanan tersebut, Ngurah mencatat dua sinyal yang saling bertabrakan. Di satu sisi, piutang usaha turun 42,41 persen, seolah menunjukkan perbaikan penagihan. Di sisi lain, terdapat piutang Rp7,698 miliar dari PT Tri Mitra Resources yang menggantung sejak Desember 2018, masuk perkara pidana penggelapan dan dipantau proses TPPU, lalu dibentuk cadangan kerugian 100 persen.

    Menurut Ngurah, dua hal ini bisa saja sama-sama benar. Namun, kombinasi waktunya memancing tanda tanya.

    “Kalau manajemen bisa menagih banyak piutang sampai turun 42,41 persen kenapa ada satu piutang yang sudah 7 tahun baru benar-benar dipukul habis dengan cadangan 100 persen saat perhatian regulator sedang tinggi,” ujarnya.

    Bagi investor, situasi ini memengaruhi cara membaca klaim efektivitas modal kerja. Penurunan piutang yang sehat biasanya dibarengi disiplin aging piutang yang rapi, bukan satu kasus ekstrem yang baru diselesaikan ketika sorotan menguat.

    Pusat kejanggalan berikutnya, menurut Ngurah, ada pada belanja aset. Aset tetap neto tercatat mencapai 113,21 persen dari proyeksi, dipicu pengadaan kendaraan operasional dan kendaraan dinas yang melampaui rencana.

    Namun yang paling mencolok adalah lonjakan aset tak berwujud perangkat lunak. Realisasinya mencapai 20.650,57 persen dari proyeksi, atau sekitar 206 kali lipat dari rencana awal.

    “Dalam bahasa sederhana, rencana awal bilang belanja software kecil, lalu di tengah jalan berubah jadi belanja raksasa,” keluh Ngurah.

    Manajemen menyebut keputusan ini sebagai langkah strategis mendadak untuk transformasi digital. Masalahnya, bagi investor, aset tak berwujud adalah pos yang paling sulit diverifikasi secara kasat mata dibanding alat proyek fisik. Lonjakan ratusan kali otomatis menuntut bukti keras, mulai dari rincian vendor, ruang lingkup pekerjaan, tahapan implementasi, hingga manfaat ekonomi yang terukur.

    Maybach sebagai Simbol

    Di titik inilah pembelian Mercedes-Benz S-Class Maybach S 650 menjadi pemicu emosi pasar. Mobil tersebut dibeli melalui pembiayaan konsumen Mandiri Tunas Finance dan dicatat sebagai kendaraan operasional.

    Bagi Ngurah, persoalannya bukan sekadar harga mobil. Maybach menjadi simbol bahwa di saat kas ketat dan pemasok menunggu pembayaran, masih ada ruang untuk belanja yang secara persepsi publik sangat mewah.

    Isu paling sensitif muncul ketika kendaraan tersebut tercatat sebagai kendaraan operasional perusahaan, tetapi nama legalnya atas nama pribadi direktur utama. Secara akuntansi, aset masih bisa diakui bila kontrol dan manfaat ekonominya ada pada perusahaan. Namun secara tata kelola, risiko berubah drastis.

    Risikonya mencakup sengketa kepemilikan, benturan kepentingan, potensi aset terseret masalah pribadi, hingga fasilitas pribadi terselubung yang seharusnya diungkapkan secara jelas.

    Ngurah tidak menutup mata pada sisi positif. Penurunan utang pembiayaan konsumen sebesar 82,07 persen dan pelunasan lebih awal sekitar 13 bulan sebelum jatuh tempo menunjukkan upaya merapikan leverage. Investasi alat proyek Rp30,66 miliar dan kenaikan aset tak berwujud 83,39 persen berpotensi meningkatkan kapasitas proyek jika tepat guna.

    Ditambah kontrak baru dengan PGAS Solution senilai Rp16 miliar, ada sinyal pipeline yang memberi napas.

    Namun, menurut Ngurah, semua potensi itu tetap kalah oleh satu pertanyaan besar. “Apakah disiplin kontrol internal dan disiplin belanja sudah sejalan dengan realitas kas?,” tanyanya.

    Ujian Sebenarnya bagi ATLA

    ATLA, dalam pandangan Ngurah, sedang mengejar ekspansi dan digitalisasi. Namun eksekusinya membuat kas menipis, pemasok menunggu, dan regulator mempertanyakan dasar pelaporan. Investor, kata Ngurah, cenderung memberi premi pada perusahaan yang bisa tumbuh sambil tetap rapi, bukan yang tumbuh sambil membuat terlalu banyak deviasi dari rencana.

    Bagi perusahaan, titik baliknya bukan pada narasi yang lebih panjang, melainkan pada bukti terukur. Mulai dari laporan interim berikutnya yang patuh PSAK 234, penjelasan deviasi belanja per item dengan bukti, proyek yang benar-benar berubah menjadi kas, utang usaha yang tidak lagi lewat jatuh tempo, hingga penataan ulang status kepemilikan kendaraan dinas.

    Bagi investor, cara membacanya juga tegas. Selama gap kas Rp158 miliar belum terlihat jalan penutupnya yang realistis, selama utang usaha masih menunggak, dan selama belanja aset—terutama yang tak berwujud—masih sulit diverifikasi manfaatnya, risiko tata kelola akan tetap lebih dominan dibanding cerita kontrak baru.

    “Dengan semua keanehan itu, apakah ATLA masih menarik? Itu kembali ke keyakinan masing-masing investor,” kata Ngurah.

    ATLA di Zona Tunggu

    Jika narasi manajemen berbicara soal ekspansi dan transformasi, pergerakan pasar justru membaca angka dengan cara yang lebih dingin. Data perdagangan dan valuasi ATLA di Stockbit menunjukkan bagaimana investor mencerna seluruh rangkaian keanehan itu secara praktis, lewat harga, indikator teknikal, dan rasio valuasi.

    Pada perdagangan siang 20 Januari 2026, saham ATLA stagnan di level Rp68, menguat tipis 1,49 persen dalam sehari. Secara kasat mata, pergerakan ini terlihat tenang. Namun grafik intraday memperlihatkan volatilitas yang rapat, dengan harga sempat menyentuh Rp72 sebelum kembali melemah. Pola ini menunjukkan tarik-menarik antara pelaku pasar yang mencoba spekulasi jangka pendek dan investor yang memilih menahan diri.

    Secara teknikal, harga ATLA bergerak tepat di sekitar MA20 di kisaran Rp68, sementara MA100 berada sedikit lebih rendah di Rp67. Ini menempatkan saham pada zona abu-abu. Belum cukup kuat untuk dikatakan breakout, tetapi juga belum menunjukkan tanda breakdown tajam. Band Bollinger yang relatif menyempit menandakan pasar sedang menunggu katalis berikutnya, entah klarifikasi lanjutan dari manajemen atau perkembangan konkret pada arus kas.

    Indikator MACD dalam timeframe pendek mulai bergerak negatif, dengan histogram merah yang melebar tipis. Ini memberi sinyal bahwa momentum beli mulai kehilangan tenaga. Bagi trader jangka pendek, kondisi ini lebih menyerupai fase konsolidasi defensif ketimbang awal reli baru.

    Menariknya, ketika beralih ke sisi valuasi, gambarnya menjadi jauh lebih kontras. Berdasarkan data PE Band (TTM) Stockbit untuk periode tiga tahun, rasio PE ATLA per 20 Januari 2026 berada di level 163,69 kali. Angka ini berada di atas +1 standar deviasi (159,67) dan mendekati batas +2 standar deviasi di 215,01.

    Bagi investor, ini menandakan satu hal penting. Secara laba berjalan, saham ATLA diperdagangkan sangat mahal. Pasar membayar harga tinggi untuk laba yang relatif kecil, sebuah kondisi yang lazim pada saham dengan laba fluktuatif atau basis laba yang belum stabil. Dalam konteks ATLA, rasio ini memperkuat kekhawatiran bahwa perbaikan laba belum cukup solid untuk menopang valuasi tinggi secara berkelanjutan.

    Namun cerita berubah ketika melihat PBV Band. Pada periode yang sama, PBV ATLA tercatat di level 2,56 kali, justru di bawah rata-rata PBV tiga tahunan di 3,99 kali, dan jauh di bawah +1 standar deviasi di 9,35. Artinya, dari sisi nilai buku, saham ini tidak terlihat mahal.

    Kontradiksi ini penting. Di satu sisi, pasar menghargai ATLA murah terhadap asetnya. Di sisi lain, pasar menempelkan premi sangat tinggi terhadap laba yang dihasilkan. Bagi investor berpengalaman, kombinasi ini sering dibaca sebagai saham yang “asset-rich but earnings-poor”. Asetnya ada, tetapi kemampuan aset itu menghasilkan laba yang konsisten masih diragukan.

    Dalam konteks ini, data Stockbit memperlihatkan bahwa pasar tidak sepenuhnya panik, tetapi juga tidak sepenuhnya percaya. Harga bertahan di kisaran Rp67–Rp70 menunjukkan adanya minat spekulatif yang menjaga saham tidak jatuh lebih dalam. Namun absennya volume lonjakan signifikan mengindikasikan investor institusional masih memilih menunggu.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).