KABARBURSA.COM – PT Asri Karya Lestari Tbk (ASLI) baru saja memiliki pengendali baru, yaitu PT Wahana Konstruksi Mandiri (WKM). Meskipun secara korporasi ini merupakan peristiwa besar, namun pasar belum memberikan reaksi agresif.
Pada perdagangan tengah hari Selasa, 20 Januari 2026, saham ASLI bergerak tipis di kisaran 680, menguat 0,74 persen dibandingkan penutupan sebelumnya, dengan volatilitas yang tidak terlalu lebar.
Harga dibuka di 700, sempat menyentuh 710, lalu turun ke 665 sebelum kembali stabil. Sementara volume transaksi tercatat sekitar 188.790 lot dengan nilai Rp12,9 miliar dan harga rata-rata 684. Likuiditas ini tergolong aktif, tetapi tidak mencerminkan euforia.
Tidak terlihat lonjakan ekstrem baik dari sisi harga maupun volume. Pelaku pasar sepertinya berada dalam fase membaca arah baru ASLI, bukan langsung melakukan repricing secara masif.
Padahal, secara substansi, transaksi yang terjadi bukanlah peristiwa kecil. WKM resmi mengakuisisi 3,92 miliar saham ASLI atau setara 62,72 persen melalui mekanisme crossing di Bursa Efek Indonesia pada 19 Januari 2026.
Dengan transaksi ini, WKM secara efektif menjadi pengendali baru ASLI dan wajib melanjutkan proses Mandatory Tender Offer (MTO) atas sisa saham publik, sesuai dengan POJK 9/2018.
Ini berarti struktur kepemilikan ASLI akan mengalami perubahan lanjutan dalam waktu dekat, dan harga saham akan berada dalam radar investor yang menanti detail MTO, termasuk harga penawaran dan periode pelaksanaan.
Namun, pasar sejauh ini tampak tidak terburu-buru mengantisipasi MTO tersebut. Pergerakan harga yang sempit mengisyaratkan bahwa investor belum mengunci skenario tertentu. Ini bisa dibaca sebagai bentuk kehati-hatian, mengingat harga tender, rencana strategis pasca-akuisisi, serta struktur bisnis gabungan ASLI–WKM belum dijabarkan secara detail ke publik.
Yang menarik, latar belakang WKM sebagai perusahaan konstruksi yang telah beroperasi lama dengan portofolio proyek yang cukup luas, memberi dimensi baru bagi ASLI. Selama ini, ASLI tidak dikenal sebagai pemain besar di sektor konstruksi nasional.
Dengan masuknya WKM, yang memiliki pengalaman dalam pembangunan gedung, fasilitas industri, jalan, jembatan, hingga infrastruktur sipil, arah bisnis ASLI berpotensi mengalami reposisi.
Manajemen WKM menyebut bahwa tujuan pengambilalihan ini adalah untuk menciptakan kolaborasi positif antara pengalaman ASLI dan WKM di industri konstruksi.
Jika dilihat dari rekam jejak WKM, narasi sinergi ini bukan sekadar jargon. WKM tercatat pernah mengerjakan berbagai proyek infrastruktur dan bangunan, mulai dari fasilitas industri, perkantoran, hingga proyek-proyek yang berkaitan dengan instansi negara.
Sertifikasi ISO yang dimiliki perusahaan ini juga mengindikasikan bahwa sistem manajemen dan tata kelola mereka sudah cukup terstandarisasi. Dalam konteks pasar modal, ini menjadi penting karena sering kali perubahan pengendali tidak otomatis berarti perbaikan tata kelola.
Namun dalam kasus ini, WKM justru membawa narasi GCG sebagai bagian dari identitasnya.
Meski demikian, pasar belum memberi premi pada narasi tersebut. Harga saham ASLI hari ini justru mencerminkan fase “menunggu kepastian”. Investor tampaknya masih ingin melihat bagaimana struktur manajemen ASLI akan berubah, bagaimana strategi ekspansi dijalankan, dan apakah sinergi yang dijanjikan benar-benar terkonversi menjadi pipeline proyek dan pendapatan.
WKM dan Jaringan Bisnis Haji Isam
Keterkaitan WKM dengan jaringan bisnis Haji Isam juga memberi dimensi lain. Bagi sebagian investor, ini bisa dibaca sebagai potensi akses terhadap proyek-proyek berskala besar, khususnya di sektor sumber daya alam dan infrastruktur pendukungnya.
Namun bagi sebagian lain, ini tetap membutuhkan klarifikasi lebih lanjut, karena relasi bisnis tidak selalu otomatis berarti kontrak baru atau lonjakan kinerja.
Dalam konteks pergerakan saham hari ini, yang terlihat justru adalah pasar yang belum memutuskan arah. Tidak ada panic buying, tidak ada distribusi besar-besaran. Ini menunjukkan bahwa informasi akuisisi memang sudah diketahui publik, tetapi belum cukup untuk mendorong repricing yang agresif.
Dengan kata lain, ASLI kini berada dalam fase transisi. Secara fundamental, perubahan pengendali membuka peluang transformasi bisnis. Namun secara pasar, perubahan ini belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi ekspektasi harga.
Pergerakan yang tipis, dengan volatilitas terkontrol, menandakan bahwa pelaku pasar sedang mengukur satu hal utama, apakah ASLI akan benar-benar berubah menjadi pemain konstruksi skala besar seperti yang dinarasikan manajemen WKM, ataukah ini hanya perubahan struktur kepemilikan tanpa lonjakan nilai ekonomi yang nyata.
Di titik ini, harga ASLI bukan mencerminkan optimisme penuh, tetapi juga bukan skeptisisme total. Ia berada di wilayah abu-abu, menunggu konfirmasi berikutnya dari aksi korporasi lanjutan, detail MTO, serta langkah konkret pengendali baru dalam membentuk ulang arah bisnis perusahaan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.