Logo
>

Laba 5M26 BMRI Melesat, Asing Balik Arah, Big Player Diam-diam Akumulasi?

Laba Bank Mandiri melampaui ekspektasi pasar, saham melonjak hampir 19 persen dalam sepekan, tekanan jual asing mulai mereda, dan orderbook menunjukkan sinyal akumulasi yang menarik.

Ditulis oleh Yunila Wati
Laba 5M26 BMRI Melesat, Asing Balik Arah, Big Player Diam-diam Akumulasi?
Pertumbuhan kredit Bank Mandiri mencapai 21 persen secara tahunan. (Foto: dok BMRI)

KABARBURSA.COM – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatatkan laba bersih bank-only mencapai Rp23,3 triliun dalam lima bulan pertama 2026. Catatan tersebut bertumbuh 19 persen secara tahunan dan melampaui ekspektasi konsensus. 

Tidak hanya profitabilitas, mesin bisnis Bank Mandiri masih bekerja dengan sangat baik.

Tidak hanya laba bersih yang melesat, pergerakan sahamnya pun mencatatkan reli. Harganya menyentuh level 3.710 pada awal pekan lalu. Dalam empat hari berikutnya, saham kembali ke level 4.410, melonjak hampir 19 persen dari titik terendahnya. 

Bahkan pada perdagangan midday Senin, 15 Juni 2026, BMRI ditutup menguat 5 persen setelah sempat menyentuh harga tertinggi di 4.450.

Volume Perdagangan Turun, Tekanan Asing Menyusut

Yang menarik, volume perdagangan terus mengalami penurunan, dari hampir 4,9 juta lot pada 9 Juni menjadi hanya sekitar 1,5 juta lot pada 15 Juni. Di sini, kenaikan harga bukan dipicu aksi spekulasi besar-besaran, melainkan karena tekanan jual yang mulai menghilang. 

Fenomena serupa terlihat dari pergerakan investor asing. Pada 9 Juni, asing masih membukukan jual bersih mencapai Rp267,76 miliar. Sehari kemudian nilainya menyusut menjadi sekitar Rp80 miliar. Pada 11 Juni, asing sempat beli bersih sebesar Rp36,41 miliar, namun kemudian mencatatkan jual bersih Rp168,10 miliar pada 12 Juni. 

Meski belum konsisten, aksi distribusi besar mulai berkurang. Ini menjadi sinyal penting, karena selama beberapa bulan terakhir pergerakan saham perbankan sangat dipengaruhi oleh sentimen investor global. 

Artinya, ketika tekanan jual mulai mereda dan fundamental perusahaan semakin kuat, ruang pemulihan harga menjadi semakin terbuka.

Kredit Bertumbuh, Agresif Himpun DPK

Dari sisi operasional, kinerja Bank Mandiri memang masih terlihat solid. Pertumbuhan kredit mencapai 21 persen secara tahunan menjadi motor utama kenaikan pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income yang meningkat 10 persen. 

Bahkan jika pinjaman kepada PT Agrinas Pangan Nusantara dikeluarkan dari perhitungan, pertumbuhan kredit masih berada di kisaran 16 persen. Angka tersebut tetap menunjukkan ekspansi bisnis yang agresif.

Selain itu, beban provisi yang turun 16 persen turut menopang pertumbuhan laba. Artinya, kualitas profit yang dihasilkan tidak hanya berasal dari peningkatan penyaluran kredit, tetapi juga dari efisiensi pengelolaan risiko yang semakin baik. 

Kondisi tersebut membuat realisasi laba bersih lima bulan pertama telah mencapai sekitar 40 persen dari estimasi laba konsolidasi sepanjang tahun 2026, lebih tinggi dibandingkan pencapaian periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski demikian, investor masih memiliki beberapa catatan yang perlu diperhatikan. Bank Mandiri mulai terlihat lebih agresif menghimpun dana pihak ketiga, baik melalui CASA maupun deposito berjangka. 

Langkah ini diperkirakan sebagai antisipasi terhadap kondisi likuiditas yang diproyeksikan semakin ketat pada semester kedua 2026. Strategi tersebut memang dapat menjaga stabilitas pendanaan, tetapi di sisi lain juga berpotensi meningkatkan cost of fund yang pada akhirnya bisa memberikan tekanan terhadap Net Interest Margin.

Bid Tebal di 4.330-4.340

Sementara itu, struktur orderbook memberikan gambaran yang cukup menarik. Total antrean beli mencapai sekitar 517 ribu lot, lebih besar dibandingkan antrean jual yang berada di kisaran 436 ribu lot. 

Tembok beli terbesar terlihat pada area 4.330 hingga 4.340 dengan masing-masing lebih dari 60 ribu lot, mengindikasikan adanya minat akumulasi yang cukup kuat di level tersebut. Di sisi lain, area 4.450 hingga 4.500 masih menjadi zona yang dipenuhi antrean jual.

Tekanan jual asing pada BMRI mulai mereda, struktur orderbook masih didominasi antrean beli, dan saat ini sedang berada pada posisi yang menarik untuk dicermati. Namun, arah pergerakan berikutnya tidak hanya ditentukan oleh kinerja perusahaan, melainkan juga oleh sentimen eksternal seperti hasil review MSCI terhadap pasar Indonesia serta penilaian sovereign credit rating Indonesia yang akan diumumkan dalam beberapa pekan mendatang.

Jika sentimen tersebut berjalan positif, bukan tidak mungkin reli yang baru dimulai ini akan menjadi pijakan bagi Bank Mandiri untuk kembali menjadi salah satu motor penggerak utama indeks saham Indonesia.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79