KABARBURSA.COM – PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mencatatkan penurunan kinerja keuangan sepanjang tahun buku 2025 dengan turunnya laba bersih, pendapatan, serta laba operasional dibandingkan tahun sebelumnya.
Tekanan kinerja tersebut terjadi bersamaan dengan penurunan pendapatan dari penjualan ekspor batu bara.
Berdasarkan laporan keuangan yang diumumkan Jumat, 6 Maret 2026, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar USD760,18 juta atau setara USD0,09762 per saham pada 2025.
Angka ini turun 37,21 persen dibandingkan laba bersih tahun 2024 yang mencapai USD1,21 miliar atau USD0,17126 per saham.
Penurunan laba bersih ini juga terjadi seiring melemahnya pendapatan perseroan. Sepanjang 2025, pendapatan bersih AADI tercatat sebesar USD4,91 miliar, turun 7,69 persen dibandingkan pendapatan tahun 2024 yang mencapai USD5,31 miliar.
Penjualan Batu Bara Turun 10,05 Persen
Kontraksi pendapatan terbesar berasal dari penjualan ekspor batu bara kepada pihak ketiga. Nilai penjualan ekspor tercatat sebesar USD3,76 miliar pada 2025, turun 10,05 persen dibandingkan USD4,18 miliar pada tahun sebelumnya.
Walau begitu, di sisi biaya, manajemen berhasil menurunkan beban pokok pendapatan menjadi USD3,64 miliar pada 2025 dari USD3,85 miliar pada 2024, atau turun 5,32 persen. Namun penurunan tersebut belum mampu menahan pelemahan laba kotor perseroan.
Sementara itu, laba kotor AADI tercatat sebesar USD1,26 miliar pada 2025, turun 13,93 persen dibandingkan laba kotor tahun 2024 yang mencapai USD1,46 miliar.
Pada saat yang sama, beban usaha juga mengalami penurunan signifikan. Sepanjang 2025 beban usaha tercatat sebesar USD247,08 juta, turun 21,49 persen dibandingkan USD315,50 juta pada tahun sebelumnya.
Namun penurunan beban usaha tersebut terjadi bersamaan dengan penurunan tajam pada pos pendapatan lain-lain. Pendapatan lain-lain tercatat hanya sebesar USD28,07 juta pada 2025, merosot 91,51 persen dibandingkan USD330,77 juta pada tahun 2024.
Kombinasi penurunan pendapatan dan berkurangnya kontribusi pendapatan lain-lain menyebabkan laba usaha AADI turun 29,6 persen menjadi USD1,04 miliar pada 2025, dibandingkan USD1,48 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi neraca, total aset perseroan per 31 Desember 2025 tercatat sebesar US$5,70 miliar. Nilai tersebut turun 4,77 persen dibandingkan posisi aset pada akhir 2024 yang mencapai US$5,99 miliar.
Struktur permodalan menunjukkan total liabilitas sebesar USD2,05 miliar dan total ekuitas sebesar USD3,64 miliar pada akhir 2025.
Saham Melemah Tipis, Volume di Bawah Rata-rata
Di pasar saham, pergerakan harga saham AADI pada perdagangan Jumat, 6 Maret 2026 ditutup melemah tipis. Saham AADI berada di level Rp10.300 per saham atau turun 25 poin setara 0,24 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Sepanjang perdagangan hari tersebut, saham AADI dibuka di level Rp10.325 per saham dan sempat bergerak hingga level tertinggi Rp10.575. Harga terendah tercatat di posisi Rp10.050.
Kapitalisasi pasar AADI tercatat sekitar Rp80,20 triliun dengan rasio price to earnings sebesar 6,58. Saham ini memiliki dividend yield sekitar 5,22 persen dengan nilai dividen kuartalan sebesar 134,42.
Dari sisi likuiditas perdagangan, volume transaksi saham AADI pada sesi tersebut mencapai sekitar 13,37 juta saham. Angka ini berada di bawah rata-rata volume perdagangan hariannya yang berada di kisaran 20,22 juta saham.
Secara historis, saham AADI sempat menyentuh level tertinggi 52 pekan di posisi Rp10.900, sementara level terendah dalam periode yang sama tercatat di Rp5.575 per saham.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.