Logo
>

Laba HRTA Melonjak 121 Persen, Saham Terkoreksi Tajam

Kinerja keuangan melonjak signifikan dengan pertumbuhan penjualan dan laba, namun harga saham turun lebih dari 26 persen sepanjang Maret.

Ditulis oleh Yunila Wati
Laba HRTA Melonjak 121 Persen, Saham Terkoreksi Tajam
HRTA mencatatkan lonjakan kinerja keuangan yang drastis di 2025, namun tidak diiringi dengan kinerja sahamnya. (Foto: dok Hartadinata Abadi)

KABARBURSA.COM – Lonjakan kinerja keuangan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) sepanjang 2025 menghadirkan kontras yang cukup tajam dengan pergerakan sahamnya di pasar. Di satu sisi, perusahaan mencatat pertumbuhan laba dan pendapatan yang signifikan, namun di sisi lain harga saham justru bergerak dalam tren koreksi sejak awal Maret 2026.

Sepanjang tahun buku 2025, HRTA membukukan laba bersih sebesar Rp979,6 miliar atau melonjak 121 persen dibandingkan Rp442,7 miliar pada 2024. Kenaikan ini berjalan seiring dengan pertumbuhan penjualan neto yang meningkat 144 persen menjadi Rp44,5 triliun dari Rp18,23 triliun pada tahun sebelumnya. 

Struktur pertumbuhan ini juga tercermin pada laba kotor yang naik menjadi Rp1,92 triliun dari Rp1,09 triliun, meskipun beban pokok pendapatan ikut meningkat menjadi Rp42,63 triliun.

Pertumbuhan tersebut tidak hanya terlihat pada sisi laba, tetapi juga pada indikator profitabilitas lainnya. Laba komprehensif tercatat sebesar Rp978,5 miliar atau naik 121 persen secara tahunan, sementara laba per saham meningkat dari Rp96,02 menjadi Rp212,47. 

Perbaikan ini menunjukkan adanya peningkatan skala bisnis yang berjalan seiring dengan kemampuan perusahaan menjaga margin di tengah ekspansi.

Dari sisi likuiditas, arus kas operasi mencatatkan perbaikan signifikan menjadi Rp1,14 triliun, berbalik dari posisi negatif Rp423,6 miliar pada tahun sebelumnya. Posisi kas dan bank juga melonjak tajam menjadi Rp1,53 triliun atau naik 616 persen secara tahunan. 

Kenaikan ini berjalan seiring dengan peningkatan total aset yang mencapai Rp12,6 triliun, naik 111 persen dibandingkan Rp5,96 triliun pada 2024.

Namun, ekspansi tersebut juga tercermin pada sisi liabilitas yang meningkat menjadi Rp9,37 triliun dari Rp3,61 triliun, seiring pendanaan melalui obligasi dan pinjaman bank. Di sisi lain, ekuitas tetap tumbuh menjadi Rp3,23 triliun dari Rp2,35 triliun, mencerminkan akumulasi laba yang tetap terjaga di tengah peningkatan skala bisnis.

Di tengah kinerja keuangan yang menguat tersebut, pergerakan saham HRTA justru menunjukkan arah yang berbeda. Pada perdagangan 27 Maret 2026, saham ditutup di level 2.390 atau naik tipis 1,7 persen dalam satu hari. Namun secara bulanan, harga telah turun sekitar 26,46 persen sejak awal Maret, dari kisaran 3.250 menuju area 2.300-an.

Sepanjang periode tersebut, harga bergerak turun bertahap dengan tekanan yang terlihat sejak pertengahan bulan. Pada 17 Maret, harga sudah berada di level 2.510 sebelum akhirnya menyentuh titik terendah di kisaran 2.330–2.340 menjelang akhir bulan. 

Pergerakan ini menunjukkan bahwa setiap fase kenaikan cenderung diikuti oleh tekanan jual dalam periode yang relatif berdekatan.

Dari sisi valuasi, saham HRTA saat ini berada pada rasio price to earnings (P/E) sekitar 15,37 kali dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp11,01 triliun. Dalam rentang 52 minggu, harga bergerak antara 450 hingga 3.440, mencerminkan kenaikan yang cukup signifikan dalam satu tahun terakhir sebelum memasuki fase koreksi pada bulan berjalan.

Sementara itu, prospek bisnis ke depan masih didorong oleh rencana pertumbuhan pendapatan dua digit pada 2026, seiring tren harga emas yang diperkirakan tetap tinggi. Perusahaan juga tengah memfinalisasi sertifikasi London Bullion Market Association (LBMA) untuk memperkuat posisi di pasar emas global, serta menjaga kebijakan dividen dengan rasio pembayaran di kisaran 20 hingga 25 persen.

Kombinasi antara pertumbuhan kinerja keuangan yang kuat dan pergerakan harga saham yang justru terkoreksi menunjukkan adanya dinamika yang tidak sepenuhnya berjalan searah. Di satu sisi, ekspansi bisnis dan peningkatan laba tercermin jelas dalam laporan keuangan.

Sementara di sisi lain pergerakan pasar menunjukkan fase penyesuaian harga setelah kenaikan signifikan dalam periode sebelumnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79