KABARBURSA.COM — Pasar logam dunia lagi-lagi bikin mata melotot. Dalam satu hari perdagangan kemarin, emas, perak, tembaga, dan timah kompak menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah. Lonjakan ini bukan gerak pelan. Harganya meloncat cepat, seolah pasar sedang lari kencang tanpa rem.
Kekhawatiran soal potensi keterlibatan militer Amerika Serikat di Iran, ditambah gonjang-ganjing soal independensi bank sentral Amerika, menjadi bensin yang menyiram api reli logam mulia dan logam dasar. Investor global serempak mencari tempat berlindung, dan logam pun jadi pelabuhan yang paling ramai disinggahi.
Emas menjadi bintang utama. Dalam waktu kurang dari dua tahun, harga logam kuning ini sudah berlipat ganda. Sejak awal tahun saja, kenaikannya sudah mencapai 8 persen. Pada perdagangan Rabu, 14 Januari 2026, emas sempat melonjak 1,1 persen dan mencetak rekor baru di level USD4.641 per troy ounce atau sekitar Rp78.971.000 per troy ons dengan kurs Rp16.800. Pergerakan ini menegaskan posisi emas sebagai aset pelindung ketika dunia sedang gelisah.
Perak tak mau ketinggalan. Untuk pertama kalinya, harga perak menembus level USD90 per ons. Bahkan sempat melesat hingga USD92,24 atau sekitar Rp1.549.600 per ons setelah naik sekitar 6 persen dalam sehari. Lonjakan ini terasa tidak biasa, bahkan bagi pelaku pasar yang sudah lama malang melintang di komoditas.
Tembaga dan timah juga ikut pesta. Dua logam yang sejak beberapa bulan terakhir sudah merangkak naik ini kembali mencetak rekor. Harga tembaga menyentuh USD13.407 per ton atau sekitar Rp225.238.000 per ton. Timah bahkan melonjak ke USD54.760 per ton atau setara Rp919.968.000 per ton.
Analis pasar menyebut laju kenaikan harga ini bergerak terlalu cepat, bahkan melampaui proyeksi paling optimistis. “Pergerakan harga sekarang begitu cepat, semua ramalan ditembus begitu saja,” ujar Helen Amos dari BMO, dikutip dari Financial Times, Kamis, 15 Januari 2026.
Ia mengakui kecepatan lonjakan, terutama pada perak, timah, dan tembaga, mulai membuat investor institusi gelisah. Menurutnya, dalam dua dekade terakhir, hampir tak ada preseden di mana empat logam utama mencapai puncak harga secara bersamaan.
Fenomena langka ini mencerminkan kegelisahan investor terhadap situasi geopolitik global. Ketegangan meningkat hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Di Iran, demonstrasi berskala besar pecah, disertai pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengisyaratkan dukungan terhadap para demonstran di tengah penindasan keras. Situasi ini memicu spekulasi luas tentang kemungkinan intervensi militer Amerika.
Seorang analis lain menilai reli ini sudah berubah menjadi arus momentum global. “Ini sudah jadi perdagangan momentum berskala global. Kita sedang masuk wilayah yang belum pernah dijelajahi,” kata Tom Price dari Panmure Liberum. Ia menambahkan bahwa sangat jarang logam dasar digerakkan oleh faktor geopolitik. Menurutnya, untuk tembaga dan timah, lonjakan harga kali ini sama sekali tidak berkaitan dengan faktor klasik seperti pasokan dan permintaan.
Di saat yang sama, kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral Amerika makin mengental. Ketua Federal Reserve Jay Powell mengungkapkan bahwa jaksa Amerika meluncurkan penyelidikan pidana terhadap dirinya terkait renovasi gedung kantor bank sentral. Powell menyebut tuduhan tersebut sebagai dalih untuk membatasi independensi The Fed, di tengah tekanan berkelanjutan dari Gedung Putih agar suku bunga diturunkan.
Situasi ini menambah lapisan ketidakpastian baru. Seorang analis dari StoneX menilai penyelidikan terhadap Powell memperbesar rasa tidak pasti dan menciptakan dorongan jangka panjang bagi emas dan perak. Menurutnya, selama independensi kebijakan moneter Amerika dipertanyakan, minat terhadap logam mulia akan tetap kuat.
Di sisi lain, isu tarif juga ikut memperkeruh pasar. Kekhawatiran akan kebijakan tarif Amerika Serikat terhadap tembaga dan perak mendorong penumpukan logam fisik di dalam negeri. Stok logam dilaporkan berada jauh di atas rata-rata historis. Kepastian soal arah tarif komoditas diperkirakan bakal terungkap dalam beberapa hari ke depan, seiring publikasi hasil investigasi Section 232 Amerika Serikat terhadap mineral kritis.
Timah memiliki cerita tambahan. Reli tajam logam ini turut dipicu penutupan tambang besar di Myanmar yang sudah berlangsung bertahun-tahun dan memangkas produksi global. Pasokan yang ketat bertemu dengan lonjakan permintaan spekulatif, membuat harga timah melesat lebih agresif dibanding logam lainnya.
Tak hanya itu, reli logam juga ikut mengangkat harga platinum. Logam ini terdorong oleh sentimen positif yang meluas di pasar komoditas dan sempat mencapai level tertinggi baru di USD2.478 per ton atau sekitar Rp41.630.400 per ton pada akhir Desember.
Gabungan ketegangan geopolitik, kekhawatiran kebijakan moneter, serta ketidakpastian perdagangan membuat pasar logam bergerak liar. Investor global tampaknya sedang mencari pegangan di tengah dunia yang terasa semakin rapuh. Untuk sementara, emas, perak, tembaga, dan timah menjadi jawaban atas kegelisahan itu.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.