KABARBURSA.COM – Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) bergerak di kisaran 700 pada penutupan perdagangan Jumat, 6 Maret 2026, setelah sepanjang sesi sempat berfluktuasi di rentang 695 hingga 730. Pergerakan ini terjadi di tengah aktivitas transaksi yang masih menunjukkan adanya aliran pembelian pada saham sektor nikel tersebut.
Data perdagangan menunjukkan saham MBMA ditutup di level 715 atau turun 10 poin, setara 1,38 persen dibandingkan harga penutupan sebelumnya di 725. Pada awal perdagangan, saham dibuka di level 710 sebelum bergerak naik hingga menyentuh level tertinggi 730 dan turun ke posisi terendah 695 pada sesi yang sama.
Pada sesi tersebut, nilai transaksi saham MBMA tercatat sekitar Rp121,9 miliar dengan volume mencapai 171,02 juta saham. Volume ini berada di bawah rata-rata volume harian yang berada di kisaran 409,17 juta saham.
Aktivitas transaksi seperti ini tercermin dari frekuensi perdagangan yang mencapai 13.576 kali sepanjang sesi perdagangan.
Dari sisi arus dana, nilai pembelian asing tercatat sekitar Rp43 miliar sementara penjualan asing berada di kisaran Rp34,5 miliar. Aktivitas tersebut menunjukkan transaksi asing tetap berlangsung aktif pada saham ini selama sesi perdagangan terakhir.
Beralih ke struktur antrian order memperlihatkan konsentrasi permintaan yang lebih besar dibandingkan sisi penawaran. Total antrian beli tercatat mencapai 708.110 lot dengan frekuensi 3.232 kali, sementara antrian jual berada di level 560.824 lot dengan frekuensi 2.298 kali.
Pada level harga terdekat, antrian beli terbesar terlihat di area 700 dengan 71.644 lot, diikuti oleh 695 dengan 129.644 lot serta 690 sebanyak 91.306 lot. Di sisi penawaran, antrian terbesar berada di level 725 dengan 40.342 lot dan 730 sebanyak 31.797 lot.
Distribusi antrian ini menunjukkan area 695 hingga 700 menjadi titik konsentrasi permintaan pada sesi perdagangan terakhir, sementara rentang 720 hingga 730 menjadi zona penawaran yang menahan pergerakan harga intraday.
Dalam risetnya MNC Sekuritas mencatat bahwa posisi teknikal MBMA saat ini berada pada bagian dari wave A dari wave (B) dalam struktur pergerakan teknikal jangka menengah. Dalam skenario tersebut, rentang harga 630 hingga 685 disebut sebagai area buy on weakness.
Dalam riset yang sama, target harga MBMA berada pada level 750 dan 790 dengan batas pengamanan risiko atau stoploss berada di bawah level 605.
Arah Strategi Operasional 2026
Selain dinamika teknikal, perhatian pasar juga tertuju pada arah strategi operasional perusahaan sepanjang 2026. Manajemen menyampaikan bahwa fokus utama tahun ini diarahkan pada stabilisasi arus kas, terutama di tengah rencana perombakan satu hingga dua lini Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF).
Kondisi tersebut diperkirakan membentuk pola kinerja yang lebih lemah pada semester I-2026 sebelum produksi dan laba menunjukkan peningkatan pada semester II-2026 setelah proses penyesuaian operasional selesai.
Pada sisi operasional lain, perusahaan menyampaikan bahwa operasi HGNM telah kembali berjalan dengan struktur kontrak baru. Tingkat payability dilaporkan meningkat menjadi sekitar 90 persen dari harga London Metal Exchange (LME), dibandingkan sebelumnya sekitar 88 persen.
Perubahan tersebut berkaitan langsung dengan mekanisme penjualan nikel yang menjadi bagian dari rantai produksi perusahaan. Dengan tingkat payability yang lebih tinggi, porsi nilai jual yang diterima dari harga acuan LME meningkat dibandingkan kontrak sebelumnya.
Dari sisi hulu, mulai 1 Januari 2026 bijih limonite dijual menggunakan mekanisme harga pasar sekitar USD20 per wet metric ton (wmt) dengan kadar 1,15 persen. Skema ini diperkirakan menghasilkan margin sekitar USD10 hingga US$11 per wmt.
Sementara itu pada sisi hilir, perusahaan berencana mengonsolidasikan proyek PT ESG New Energy Material (ESG) mulai kuartal III-2026 serta PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) pada semester II-2026.
Untuk mendukung pengembangan proyek tersebut, kebutuhan pendanaan diperkirakan mencapai sekitar USD100 juta untuk proyek ESG dan sekitar USD300 juta untuk proyek SLNC. Pendanaan tersebut direncanakan berasal dari kas internal perusahaan.
BRI Danareksa Sekuritas mencatat bahwa strategi tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan memperkuat integrasi vertikal dalam rantai nilai nikel serta meningkatkan monetisasi pada bisnis hilir.
Proyeksi operasional yang digunakan dalam riset tersebut mengasumsikan harga nikel berada di sekitar USD17.500 per ton pada 2026 dengan peningkatan volume produksi HGNM hingga sekitar 50.000 ton nikel.
Selain itu, kontribusi dari fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) diperkirakan meningkat seiring dengan optimalisasi operasi pada rantai produksi hilir berbasis nikel yang dijalankan perusahaan sepanjang tahun berjalan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.