Logo
>

Melirik Saham-saham Asuransi Berpotensi Melesat: Pilih yang Mana?

Batas modal minimum 2026 mulai menggeser perhatian pasar ke saham asuransi ber-ekuitas kecil yang berada di persimpangan antara tekanan regulasi dan peluang rerating valuasi.

Ditulis oleh Yunila Wati
Melirik Saham-saham Asuransi Berpotensi Melesat: Pilih yang Mana?
Ilustrasi Industri Asuransi. Foto: Dok KabarBursa.com

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Belakangan, saham-saham asuransi banyak dibicarakan. Beberapa di antaranya bahkan berpotensi menjadi hidden gems, terutama di hari-hari terakhir batas pemenuhan modal minimum yang akan mulai diuji pada tahap pertama 2026, sebagaimana diatur dalam POJK No 23 Tahun 2023.

    Jika dilihati dari sisi ekuitas, saham-saham dengan equity cap terkecil menjadi pusat perhatian. Sebut saja Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi (JMAS), Victoria Insurance (VINS), atau Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII).

    Ketiga saham yang disebutkan masih berada di bawah ambang ekuitas minimum yang dipersyaratkan. Secara logika regulasi, ketiganya berada dalam fase dipaksa bertumbuh. Mengapa demikian?

    Diawali dengan JMAS. Meski saat ini saham sedang disuspend, namun JMAS memiliki ekuitas sekitar Rp128 miliar. Angka tersebut sudah berada di atas batas minimum asuransi syariah tahap I, sebesar Rp100 miliar.

    Valuasi pasarnya masih sangat kecil, yang bisa dilihat dari PBV sekitar 2,5 kali. Walau begitu, ruang repricingnya tetap terbuka. Dan pasar membaca bahwa JMAS tidak lagi berada di zona risiko regulasi meskipun masih diperdagangkan pada level valuasi yang belum sepenuhnya mencerminkan kelolosan tersebut.

    Return on equity di kisaran 4,24 persen juga memberi sinyal bahwa bisnis JMAS saat ini sudah berjalan, meskipun belum agresif.

    Beralih ke YOII. Posisinya berbeda dengan JMAS, di mana ekuitar sebesar Rp205 miliar membawa emiten ini berada di bawah ambang Rp250 miliar untuk asuransi konvensional. ROE yang berada di dua digit, di kisaran 16 persen, menunjukkan bahwa secara operasional mesin labanya sudah bekerja relative efisien.

    Fakta inilah yang menciptakan narasi menarik bagi pasar, yaitu perusahaan belum memenuhi modal minimum, tetapi memiliki kemampuan internal untuk memperbesar ekuitas melalui laba ditahan.

    Hal ini didukung oleh PBV sebesar 1,85 kali, yang mengindikasikan bahwa pasar belum memberi premi berlebih. Dengan demikian, setiap katalis penguatan ekuitas, baik dari laba, right issue, maupun aksi korporasi lainnya, berpotensi memicu rerating.

    Bagaimana dengan VINS?

    Emiten ini berada pada titik yang paling spekulatif sekaligus atraktif. Dengan ekuitas sebesar Rp218 miliar dan ROE sekitar 5,23 persen, VINS masih memiliki jarak yang harus ditempuh untuk mencapai ambang Rp250 miliar.

    Namun, PBV yang hanya sekitar 1,65 kali memperlihatkan ekspektasi pasar yang masih konservatif. Saat saham ini menyentuh auto rejection atas (ARA) secara intraday, artinya sebagian pelaku pasar mulai berspekulasi lebih awal terhadap scenario pemenuhan modal. Mereka tidak sedang menunggu kepastian realisasi.

    Konteks besarnya ada pada batas waktu 31 Desember 2026. Tenggat waktu ini menciptakan tekanan yang jelas. Pasar tidak menunggu hingga waktu itu tiba, namun mulai mendiskontokan potensi langkah-langkah manajemen sejak sekarang. 

    Saham-saham asuransi dengan ekuitas kecil menjadi menarik karena berada di persimpangan, di mana mereka harus melakukan sesuatu. Dalam logika pasar modal, hal ini sering kali justru melahirkan katalis.

    Itulah sebabnya reli tidak menyebar merata ke seluruh sektor asuransi, melainkan terkonsentrasi pada nama-nama tertentu. Penguatan ini lebih tepat dibaca sebagai rotasi selektif berbasis regulasi, bukan euforia sektoral.

    Hidden gems di sektor asuransi bukanlah yang paling besar atau paling mapan, melainkan yang berada di jalur sempit antara kewajiban regulasi dan peluang rerating valuasi.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Yunila Wati

    Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

    Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

    Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79