Logo
>

Menanti Nonfarm Payrolls, Dolar Perkasa atas Euro dan Franc Swiss

Sejumlah data yang dirilis Kamis menunjukkan klaim awal tunjangan pengangguran di AS meningkat secara moderat

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Menanti Nonfarm Payrolls, Dolar Perkasa atas Euro dan Franc Swiss
Ilustrasi Mata Uang Dolar Amerika. Foto: Dok KabarBursa.com

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Dolar Amerika Serikat menguat terhadap euro dan franc Swiss pada perdagangan Kamis, seiring sikap wait and see investor menjelang rilis data nonfarm payrolls AS yang krusial pada Jumat. Laporan ketenagakerjaan tersebut dipandang sebagai barometer utama untuk menilai ketahanan pasar tenaga kerja, sekaligus kompas awal bagi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve ke depan.

    Sejumlah data yang dirilis Kamis menunjukkan klaim awal tunjangan pengangguran di AS meningkat secara moderat pada pekan lalu, di tengah tingkat pemutusan hubungan kerja yang masih relatif rendah. Namun, sinyal pelemahan mulai tampak. Laporan Departemen Tenaga Kerja AS pada Rabu mencatat jumlah lowongan pekerjaan sepanjang November turun lebih besar dari perkiraan, disertai perlambatan aktivitas perekrutan.

    “Pasar masih mencari kepastian mengenai ke mana arah perekonomian bergerak,” ujar Marvin Loh, Senior Global Market Strategist di State Street, Boston, seperti dikutip Reuters dari New York, Kamis 8 Desemeber atau Jumat  9 Desember 2026 pagi WIB. 

    Menurutnya, konsensus pelaku pasar saat ini masih melihat potensi pelemahan dolar dalam jangka menengah, seiring ekspektasi bahwa Federal Reserve tetap akan memangkas suku bunga.

    Pada perdagangan Kamis, dolar menguat 0,13 persen terhadap yen Jepang ke level 156,965. Indeks Dolar (DXY), yang mencerminkan pergerakan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama dunia, naik 0,2 persen ke posisi 98,922, setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 10 Desember.

    Pelaku pasar kini memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga oleh The Fed sepanjang 2026. Namun, perbedaan pandangan di internal bank sentral AS tercermin dalam proyeksi Desember lalu, yang mengindikasikan hanya satu kali pemangkasan suku bunga pada 2026. The Fed juga diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan bulan ini. Di sisi lain, masa jabatan Ketua The Fed Jerome Powell dijadwalkan berakhir pada Mei.

    Di balik penguatan jangka pendek, dolar tetap dibayangi sejumlah risiko. Pemerintahan Presiden Donald Trump berpotensi dipaksa mengembalikan lebih dari USD133,5 miliar tarif kepada importir apabila Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa kebijakan bea masuk tersebut melanggar hukum. Skenario ini dinilai dapat kembali menekan nilai tukar dolar.

    Tekanan tambahan datang dari pernyataan Trump yang menyebut anggaran militer AS pada 2027 seharusnya mencapai USD1,5 triliun. Rencana tersebut memicu kekhawatiran lonjakan utang negara serta meningkatnya premi risiko pada aset-aset Amerika Serikat.

    “Saya kira dalam jangka pendek pergerakan pasar akan cenderung terbatas, sampai ada kejelasan apakah The Fed akan melanjutkan siklus pemangkasan suku bunga dan seberapa agresif langkah tersebut, terutama dengan potensi perubahan kepemimpinan di bank sentral tahun ini,” kata Loh.

    Di Eropa, euro berada dalam tekanan setelah rilis data inflasi terbaru mendorong pelemahan mata uang tersebut dan menekan imbal hasil obligasi pemerintah Jerman ke level terendah dalam satu bulan. Euro tercatat turun 0,21 persen ke USD1,16510 pada Kamis, setelah anjlok 0,45 persen dalam dua sesi sebelumnya.

    Isu geopolitik turut mencuat setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Presiden Trump masih membuka opsi untuk mewujudkan ambisinya mengambil alih Greenland, termasuk melalui jalur militer. Pernyataan ini memicu kekhawatiran di kalangan sekutu AS, seperti Prancis dan Jerman, yang tengah menyiapkan respons diplomatik.

    Meski demikian, dampak geopolitik dinilai belum signifikan terhadap pasar keuangan. “Geopolitik sejauh ini belum terlalu memengaruhi pasar dalam jangka pendek,” ujar John Velis, Head of Americas Macro Strategy di BNY Markets. Ia juga menyoroti rendahnya volatilitas lintas kelas aset, baik di pasar obligasi maupun saham.

    Sejumlah analis mencatat perdebatan kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) mulai bergeser ke kemungkinan kenaikan suku bunga dalam satu tahun ke depan, meski saat ini inflasi kembali mendekati target dan inflasi inti menunjukkan tren penurunan.

    Terhadap franc Swiss, dolar menguat 0,21 persen ke level 0,79935. Di kawasan Asia-Pasifik, dolar Australia melemah 0,37 persen ke USD0,66950, sedikit di bawah level tertinggi 15 bulan yang dicapai awal pekan ini. Sementara itu, yuan China menguat 0,15 persen terhadap dolar AS ke posisi 6,929.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Pramirvan Datu

    Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.