Logo
>

Minyak Dunia Melesat, Bisakah Brent Tembus USD100?

Kenaikan harga minyak kembali menjadi perhatian pasar global di tengah ketidakpastian geopolitik dan penantian data ekonomi AS.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Minyak Dunia Melesat, Bisakah Brent Tembus USD100?
Ilustrasi harga minyak dunia yang melesat drastis. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026 waktu New York. Kenaikan tersebut membuat Brent bertahan di atas level USD95 per barel. 

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran baru bahwa tekanan inflasi global dapat bertahan lebih lama dan mempersempit ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk memangkas suku bunga.

Berdasarkan data perdagangan terbaru, minyak Brent ditutup naik USD1,02 atau 1,1 persen menjadi USD96,00 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat USD1,60 atau 1,7 persen ke level USD93,76 per barel.

Kenaikan harga minyak terjadi di tengah ketidakpastian negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar masih mencermati perkembangan diplomatik setelah Iran meninjau proposal yang diajukan Washington untuk mengakhiri konflik, namun belum ada kesepakatan final yang diumumkan.

Selain itu, Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama pelaku pasar energi global. Jalur tersebut merupakan salah satu rute terpenting bagi perdagangan energi dunia dan mengalirkan sekitar 20 persen perdagangan minyak serta gas alam cair (LNG) global.

Di saat yang sama, pasar juga menunggu data persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Survei Reuters memperkirakan stok minyak AS turun sekitar 4 juta barel, sedangkan data American Petroleum Institute (API) menunjukkan penurunan sekitar 6,8 juta barel.

Penurunan persediaan biasanya dipandang sebagai sinyal bahwa pasokan fisik di pasar semakin ketat, sehingga mendukung kenaikan harga minyak.

Kondisi tersebut menjadi perhatian investor karena harga energi merupakan salah satu komponen penting pembentuk inflasi. Jika harga minyak bertahan tinggi dalam waktu yang lebih lama, tekanan harga berpotensi meningkat dan mempersulit upaya bank sentral untuk menurunkan inflasi menuju target.

Situasi ini muncul ketika pasar masih menunggu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Sebelumnya, investor berharap bank sentral AS memiliki ruang lebih besar untuk memangkas suku bunga pada paruh kedua tahun ini apabila tekanan inflasi terus mereda.

Namun kenaikan harga minyak berpotensi mengubah perhitungan tersebut. Harga energi yang lebih tinggi dapat menjaga inflasi tetap berada di atas target dan membuat The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Perhatian pasar kini tertuju pada sejumlah data ekonomi penting AS yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan, termasuk laporan ketenagakerjaan nonpertanian atau nonfarm payrolls (NFP). 

Data tersebut akan menjadi salah satu indikator utama untuk menilai kekuatan ekonomi AS sekaligus arah kebijakan moneter The Fed.

Di pasar keuangan, indeks dolar AS (DXY) masih bertahan di kisaran 99. Kondisi tersebut menunjukkan investor belum sepenuhnya meninggalkan aset berbasis dolar di tengah kombinasi harga minyak yang tinggi, ketidakpastian geopolitik, dan ekspektasi suku bunga yang masih ketat.

Pelaku pasar saat ini juga mencermati level psikologis berikutnya pada harga minyak. Jika negosiasi AS-Iran kembali menemui jalan buntu atau gangguan terhadap arus perdagangan melalui Selat Hormuz berlanjut. Brent berpotensi menguji area USD100 per barel. Sebaliknya, kemajuan diplomatik dapat memicu aksi ambil untung setelah reli yang terjadi dalam beberapa sesi terakhir.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.