Logo
>

Emas Tertahan Meski Timur Tengah Memanas, Ada Apa?

Harga emas bergerak terbatas karena pasar lebih fokus pada faktor yang berpotensi menentukan arah berikutnya

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Emas Tertahan Meski Timur Tengah Memanas, Ada Apa?
Ilustrasi harga emas dunia yang sedang tertahan meski konflik Timteng memanas. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Harga emas dunia masih bergerak terbatas pada perdagangan Rabu pagi, 3 Juni 2026, meski ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah belum sepenuhnya mereda.

Kuatnya dolar Amerika Serikat (AS) dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat logam mulia kesulitan melanjutkan penguatan.

Berdasarkan data perdagangan Asia, harga spot gold (XAU/USD) berada di level USD4.529,54 per troy ounce. Sementara itu, kontrak emas berjangka COMEX untuk pengiriman Agustus 2026 diperdagangkan di USD4.536,20 per troy ounce.

Pergerakan tersebut terjadi setelah emas mengalami tekanan pada sesi New York sebelumnya akibat aksi ambil untung investor. Meski sempat rebound tipis di awal perdagangan Asia, harga emas masih bergerak dalam fase konsolidasi dan belum mampu keluar dari rentang pergerakan yang terbentuk dalam beberapa pekan terakhir.

Fokus pelaku pasar kini lebih tertuju pada prospek kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) dibanding perkembangan geopolitik.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun tercatat berada di level 4,62 persen, sedangkan yield Treasury tenor 10 tahun bertahan di kisaran 4,35 persen. Tingginya yield menunjukkan pasar masih memperkirakan suku bunga AS akan bertahan di level tinggi lebih lama.

Kondisi tersebut mengurangi daya tarik emas karena investor memiliki alternatif investasi yang menawarkan pendapatan tetap. Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) bertahan di area 104,15 sehingga turut membatasi ruang kenaikan harga logam mulia.

Pasar saat ini juga sedang menunggu sejumlah data ekonomi penting AS, terutama laporan ketenagakerjaan nonpertanian atau nonfarm payrolls (NFP) yang dijadwalkan dirilis pada Jumat pekan ini.

Data tersebut dipandang sebagai salah satu indikator utama untuk mengukur kekuatan ekonomi AS sekaligus menjadi acuan dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed pada paruh kedua tahun ini.

Ketidakpastian mengenai kapan The Fed akan mulai memangkas suku bunga membuat investor cenderung menahan diri dan mengurangi eksposur terhadap aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang sebelumnya menjadi pendorong utama permintaan aset safe haven mulai menunjukkan tanda-tanda mereda.

Perhatian pasar kini beralih pada perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai dapat memengaruhi stabilitas kawasan serta arus perdagangan energi global.

Harga minyak yang masih bertahan tinggi juga menjadi faktor yang terus diperhitungkan investor. Brent bergerak di kisaran USD94 hingga USD96 per barel, sementara pasar masih mencermati perkembangan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.

Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global. Namun kondisi tersebut juga dapat membuat bank sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga dampaknya terhadap emas menjadi tidak sepenuhnya positif.

Secara teknikal, harga emas masih bertahan di atas area support jangka panjang yang dianggap penting oleh pelaku pasar. Namun selama dolar AS dan yield Treasury tetap tinggi, ruang penguatan emas diperkirakan masih terbatas.

Dengan demikian, arah pergerakan emas dalam jangka pendek akan sangat ditentukan oleh data ekonomi AS dan ekspektasi pasar terhadap langkah The Fed, dibanding faktor geopolitik yang beberapa bulan terakhir menjadi pendorong utama reli logam mulia tersebut.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.