Logo
>

Minyak Naik di Tengah Gangguan Pasokan dan Bara Geopolitik

Harga minyak dunia menguat dipicu gangguan produksi di Kazakhstan, ekspor Venezuela yang tersendat, serta meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Minyak Naik di Tengah Gangguan Pasokan dan Bara Geopolitik
Harga minyak dunia naik didorong gangguan pasokan Kazakhstan dan tensi geopolitik. Namun risiko kelebihan pasokan masih membayangi pasar energi. Foto: Dok. Pertamina Hulu Mahakam.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Harga minyak dunia kembali bergerak naik di tengah pasar global yang belum benar-benar tenang. Kali ini, sentimen positif datang bukan dari lonjakan permintaan, melainkan dari pasokan yang terganggu. Penutupan sementara ladang minyak besar, ekspor yang tersendat, dan ketegangan geopolitik membuat pasar kembali bersikap waspada, meski bayang-bayang kelebihan pasokan masih menghantui.

    Pada perdagangan Kamis, 22 Januari 2026, harga minyak menguat seiring optimisme bahwa pasokan global akan lebih ketat dari perkiraan sebelumnya. Kenaikan ini dipicu oleh penghentian sementara produksi di dua ladang minyak raksasa di Kazakhstan serta volume ekspor minyak Venezuela yang masih rendah, menandakan lambannya pemulihan produksi di negara Amerika Selatan tersebut.

    Dilansir dari Reuters, minyak Brent tercatat naik 40 sen dolar AS atau 0,6 persen ke level USD65,32 per barel (sekitar Rp1.097.376 per barel) pada pukul 14.00 waktu New York. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), menguat 34 sen dolar AS atau 0,6 persen ke USD60,70 per barel (sekitar Rp1.019.760 per barel).

    Kedua kontrak ini sebelumnya sudah ditutup naik sekitar 1,5 persen pada sesi perdagangan sebelumnya, setelah Kazakhstan—anggota aliansi OPEC+—menghentikan produksi di ladang Tengiz dan Korolev sejak Minggu akibat masalah distribusi listrik.

    Gangguan di Kazakhstan ternyata tidak berhenti di situ. Di ladang Kashagan, salah satu ladang minyak terbesar di dunia, minyak mentah untuk pertama kalinya dialihkan ke pasar domestik. Langkah ini diambil karena tersendatnya pengiriman melalui terminal pipa CPC di Laut Hitam. Empat sumber industri mengatakan kepada Reuters bahwa peralatan di terminal tersebut mengalami kerusakan serius akibat serangan drone.

    Reuters juga melaporkan operator ladang Tengiz, Tengizchevroil (TCO), telah menyatakan force majeure atas pengiriman minyak mentah ke sistem pipa CPC. Dalam surat internal yang dikutip Reuters, TCO menyebut kondisi operasional tidak memungkinkan pengiriman berjalan normal. Produksi di dua ladang minyak Kazakhstan itu diperkirakan masih bisa terhenti selama tujuh hingga sepuluh hari ke depan, menurut tiga sumber industri.

    Di belahan dunia lain, pemulihan pasokan minyak Venezuela juga belum berjalan mulus. Volume minyak Venezuela yang diekspor di bawah kesepakatan pasokan utama senilai USD2 miliar (sekitar Rp33,6 triliun) dengan Amerika Serikat tercatat hanya sekitar 7,8 juta barel. Data pelacakan kapal dan dokumen internal perusahaan minyak negara PDVSA menunjukkan angka ini masih jauh dari cukup untuk mengimbangi pemangkasan produksi sebelumnya.

    Kondisi tersebut menyoroti betapa lambannya Venezuela membalikkan penurunan output, meski telah mendapat pelonggaran sanksi dan akses pasar yang lebih luas. Bagi pasar, ini berarti tambahan pasokan yang diharapkan belum benar-benar hadir.

    Ketegangan Geopolitik Ikut Mengaduk Pasar

    Di luar faktor pasokan, pasar minyak juga harus mencerna meningkatnya ketegangan geopolitik. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa menegaskan bahwa tidak ada jalan mundur dari ambisinya untuk menguasai Greenland.

    Meski ia menyatakan penggunaan kekuatan militer tidak diperlukan, Trump sebelumnya berjanji akan memberlakukan gelombang tarif baru terhadap sekutu Eropa hingga Amerika Serikat diizinkan membeli wilayah yang masih menjadi bagian dari Denmark tersebut.

    Ketegangan ini memperbesar risiko terhadap pasar keuangan global, termasuk minyak. Dennis Kissler, Senior Vice President of Trading di BOK Financial, menilai tekanan ke depan belum sepenuhnya hilang.

    “Risiko penurunan harga minyak masih ada karena potensi kelebihan pasokan di masa depan. Ditambah lagi, meningkatnya kembali ketegangan antara AS dan Uni Eropa terkait perdagangan dan tarif, yang mendorong pasar saham AS ke fase koreksi, bisa menjadi titik tekanan yang bertahan lama,” ujar Kissler.

    Dari sisi data domestik AS, pasar juga menunggu arah persediaan minyak. Stok minyak mentah dan bensin Amerika Serikat diperkirakan naik sekitar 1,7 juta barel pekan lalu, sementara persediaan distilat—seperti solar—diperkirakan turun, menurut jajak pendapat awal Reuters.

    Di sisi lain, International Energy Agency (IEA) pada Rabu merevisi naik proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global 2026 dalam laporan pasar minyak bulanannya. Revisi ini mengindikasikan surplus pasar tahun ini kemungkinan lebih sempit dari perkiraan sebelumnya—sebuah sentimen yang memberi dukungan tambahan bagi harga.

    Namun, sentimen risiko tetap membayangi. Giovanni Staunovo, analis UBS, menilai meningkatnya ketegangan geopolitik mendorong sikap risk-off di pasar.

    “Ketegangan geopolitik yang meningkat menambah tekanan ke pasar minyak, karena tarif berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi,” kata Staunovo.

    Pasar kini menunggu data persediaan mingguan dari American Petroleum Institute (API) yang dijadwalkan rilis Rabu malam waktu AS, disusul data resmi pemerintah pada Kamis. Kedua rilis ini mundur satu hari akibat libur federal di Amerika Serikat.

    Reli harga minyak kali ini lahir dari gangguan pasokan dan tensi geopolitik, bukan dari lonjakan permintaan yang solid. Artinya, kenaikan ini bersifat rapuh. Selama risiko kelebihan pasokan dan perlambatan ekonomi global masih menghantui, pasar minyak akan terus bergerak di antara optimisme jangka pendek dan kecemasan jangka menengah.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).