KABARBURSA.COM – Morgan Stanley menurunkan peringkat ekuitas global di tengah lonjakan harga minyak dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Penurunan ini dilakukan untuk memicu pergeseran investor ke aset yang lebih defensif.
Bank investasi tersebut menurunkan rekomendasi ekuitas global dari overweight menjadi equal weight, sekaligus menaikkan alokasi pada obligasi pemerintah Amerika Serikat dan kas. Langkah ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pasar terhadap aset berisiko.
Morgan Stanley menilai risiko pasar semakin sulit diprediksi, terutama akibat ketidakpastian pasokan energi global.
“Ketidakpastian terkait besaran dan durasi gangguan pasokan minyak membuat prospek aset berisiko menjadi semakin tidak simetris,” kata Morgan Stanley strategists, dalam laporan Reuters, 30 Maret 2026.
Lonjakan harga minyak menjadi pemicu utama perubahan strategi ini. Harga Brent tercatat berada di sekitar USD116 per barel, naik sekitar 3 persen secara harian pada 29–30 Maret 2026. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran USD102,69 per barel, juga naik sekitar 3,1 persen.
Secara bulanan, kenaikan bahkan lebih tajam. Reuters mencatat harga Brent telah melonjak sekitar 59 persen sepanjang Maret, menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Perang Teluk 1990.
Kenaikan ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk ancaman terhadap fasilitas ekspor minyak Iran serta risiko gangguan di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia.
Dalam kondisi tersebut, Morgan Stanley memperingatkan bahwa tekanan terhadap pasar saham bisa semakin dalam jika harga energi tetap tinggi.
Bank tersebut menyebut valuasi ekuitas global berpotensi turun hingga hampir 25 persen apabila harga minyak bertahan di kisaran USD150 hingga USD180 per barel.
Tekanan juga mulai terlihat di pasar saham global. Indeks Nikkei 225 tercatat turun sekitar 2,8 persen pada 29-30 Maret, sementara sebelumnya S&P 500 turun 1,67 persen, Nasdaq 2,15 persen, dan MSCI World 1,35 persen. Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan indeks saham utama yang telah berlangsung selama beberapa pekan.
Sentimen pasar yang cenderung risk-off juga tercermin dari pergerakan aset safe haven. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di kisaran 4,4 persen, sementara indeks dolar AS bertahan di dekat level tertinggi dalam 10 bulan terakhir.
Di sisi lain, investor juga terus mencermati perkembangan konflik sebagai faktor utama arah pasar.
“Investor tetap fokus pada lamanya perang, bukan sekadar berita sesaat, dengan setiap penutupan berkepanjangan Selat (Hormuz) atau kerusakan infrastruktur yang mempertahankan premi risiko yang signifikan dalam harga,” kata Alex Hodes, analyst at StoneX, dalam laporan Reuters, 27 Maret 2026.
Analis lain juga menilai bahwa pasar membutuhkan kepastian yang lebih konkret untuk meredakan tekanan.
“Ucapan saja tidak cukup saat ini, dengan perpanjangan jeda serangan terhadap fasilitas energi Iran oleh Presiden Trump gagal mengangkat sentimen pasar secara berarti. Bukti nyata adanya kemajuan yang dibutuhkan,” kata Matt Britzman, senior equity analyst at Hargreaves Lansdown, dalam laporan Reuters, 27 Maret 2026.
Seiring konflik yang telah memasuki minggu kelima, pasar kini tidak lagi hanya bereaksi terhadap berita jangka pendek, tetapi mulai memperhitungkan risiko gangguan pasokan energi yang lebih panjang.
Kondisi ini mendorong investor global untuk mengurangi eksposur pada saham dan meningkatkan kepemilikan aset likuid serta instrumen yang dianggap lebih aman, menandai fase pasar yang semakin defensif di tengah ketidakpastian global.(*)