Logo
>

MSCI Pertahankan Status Emerging Market RI, ini Catatan dan Perbandingannya

Dalam kajian yang mencakup 79 pasar saham di dunia tersebut, MSCI mengevaluasi aksesibilitas pasar berdasarkan lima kriteria utama

Ditulis oleh Desty Luthfiani
MSCI Pertahankan Status Emerging Market RI, ini Catatan dan Perbandingannya
Hall Bursa Efek Indonesia. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Morgan Stanley Capital International (MSCI) mempertahankan Indonesia dalam kelompok Emerging Market berdasarkan hasil MSCI 2026 Global Market Accessibility Review yang dirilis dari New York pada 18 Juni 2026 atau 19 Juni 2026 pukul 03.30 WIB. Dengan hasil tersebut, pasar modal Indonesia masih berada dalam kelompok negara berkembang bersama China, India, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Taiwan, Thailand, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Afrika Selatan, dan Turki.

Dalam kajian yang mencakup 79 pasar saham di dunia tersebut, MSCI mengevaluasi aksesibilitas pasar berdasarkan lima kriteria utama, yaitu keterbukaan terhadap kepemilikan asing, kemudahan arus modal masuk dan keluar, efisiensi kerangka operasional, ketersediaan instrumen investasi, serta stabilitas kerangka institusional.

"Tujuan MSCI Global Market Accessibility Review adalah menilai dan memantau perkembangan aksesibilitas pasar individual, serta memberikan informasi kepada otoritas pasar mengenai area yang menurut investor institusi global belum memenuhi standar internasional dan membutuhkan perbaikan," demikian pernyataan MSCI.

MSCI menyebut lima kriteria tersebut mencerminkan aspek yang menjadi perhatian utama investor institusi internasional dalam mengevaluasi aksesibilitas suatu pasar, termasuk perlakuan yang setara bagi investor, kebebasan arus modal, biaya investasi, penggunaan data pasar saham, dan risiko spesifik masing-masing negara.

"Lima kriteria ini mencerminkan area yang secara umum menjadi perhatian utama investor institusi internasional ketika mengevaluasi aksesibilitas suatu pasar," tulis MSCI.

Di kelompok Developed Market, negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Jerman, Prancis, Jepang, Singapura, Hong Kong, Australia, dan Swiss memperoleh mayoritas penilaian "++", yang menunjukkan tidak terdapat permasalahan dalam aspek aksesibilitas pasar.

Sementara itu, sejumlah negara di kelompok Emerging Market masih memperoleh catatan pada beberapa indikator. China dan China A, misalnya, masih mendapatkan penilaian "-" pada aspek batas kepemilikan asing, foreign room, sistem kliring dan penyelesaian transaksi, serta transferabilitas. India juga memperoleh penilaian "-" pada aspek liberalisasi pasar valuta asing, arus informasi, serta mekanisme short selling.

Indonesia sendiri memperoleh penilaian "-" pada sejumlah indikator, yakni batas kepemilikan asing atau foreign ownership limit (FOL), foreign room, liberalisasi pasar valuta asing, registrasi investor dan pembukaan rekening, arus informasi, sistem kliring dan penyelesaian transaksi, serta transferabilitas.

Adapun pada aspek persyaratan kualifikasi investor, regulasi pasar, layanan kustodian, registrasi dan depository, perdagangan, short selling, ketersediaan instrumen investasi, serta stabilitas kerangka institusional, Indonesia memperoleh nilai "+", yang berarti tidak terdapat permasalahan besar namun perbaikan masih dimungkinkan.

Di kawasan Asia, Malaysia dan Thailand memperoleh lebih banyak penilaian "++" dibanding Indonesia. Korea Selatan masih mendapatkan penilaian "-" pada aspek batas kepemilikan asing, short selling, dan ketersediaan instrumen investasi. Taiwan juga memperoleh penilaian "-" pada aspek batas kepemilikan asing, foreign room, dan liberalisasi pasar valuta asing. Sementara Filipina masih memperoleh catatan pada aspek registrasi investor, arus informasi, kliring dan penyelesaian transaksi.

Di kawasan Amerika Latin, Brasil dan Meksiko juga masih mendapatkan beberapa penilaian "-" pada aspek operasional pasar. Sebaliknya, sejumlah negara Emerging Market di Eropa dan Timur Tengah, seperti Yunani, Hungaria, Polandia, dan Qatar, memperoleh lebih banyak indikator dengan nilai "++".

Menurut MSCI, aksesibilitas pasar, bersama tingkat perkembangan ekonomi serta ukuran dan likuiditas pasar, menjadi faktor penting dalam menentukan klasifikasi pasar ke dalam kategori Developed Market, Emerging Market, Frontier Market, dan Standalone Market.

"Klasifikasi pasar merupakan masukan utama dalam proses konstruksi indeks karena menentukan komposisi himpunan peluang investasi yang akan direpresentasikan," tulis MSCI.

Annual Market Classification Review

Dalam laporan tersebut, MSCI juga menyatakan Bulgaria tidak dimasukkan dalam MSCI 2026 Global Market Accessibility Review. Informasi mengenai negara tersebut akan diumumkan pada 23 Juni 2026 bersamaan dengan hasil MSCI 2026 Annual Market Classification Review. Bulgaria saat ini sedang dalam peninjauan untuk kemungkinan kenaikan status dari Standalone Market menjadi Frontier Market.

Hasil kajian ini menjadi perhatian pelaku pasar Indonesia mengingat pasar modal domestik dalam beberapa waktu terakhir sempat dibayangi kekhawatiran terkait kemungkinan penurunan status dalam klasifikasi MSCI ke frointer market. Kekhawatiran tersebut sempat memengaruhi sentimen pasar dan menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor.

Melalui hasil MSCI 2026 Global Market Accessibility Review, Indonesia tetap dipertahankan dalam kelompok Emerging Market. Meski demikian, laporan tersebut masih mencatat sejumlah aspek yang memerlukan perbaikan, antara lain terkait batas kepemilikan asing, liberalisasi pasar valuta asing, proses pembukaan rekening investor, arus informasi, serta sistem kliring dan transferabilitas saham.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".