Logo
>

MSCI Soroti Foreign Room hingga Pasar Valas RI, Status EM Diputuskan 23 Juni

Indonesia masih tercantum dalam kelompok Emerging Market bersama China, India, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Taiwan, Thailand, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Afrika Selatan dan Turki.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
MSCI Soroti Foreign Room hingga Pasar Valas RI, Status EM Diputuskan 23 Juni
Hall Bursa Efek Indonesia. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Morgan Stanley Capital International merilis hasil MSCI 2026 Global Market Accessibility Review yang memuat penilaian aksesibilitas terhadap 79 pasar saham di dunia. Dalam laporan yang diumumkan dari New York pada 18 Juni 2026 atau 19 Juni 2026 pukul 03.30 WIB. Indonesia masih tercantum dalam kelompok Emerging Market bersama China, India, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Taiwan, Thailand, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Afrika Selatan dan Turki.

MSCI menjelaskan, kajian tersebut bertujuan untuk menilai dan memantau perkembangan aksesibilitas masing-masing pasar serta memberikan masukan kepada regulator terkait area yang menurut investor institusi global masih belum memenuhi standar internasional.

"Tujuan MSCI Global Market Accessibility Review adalah menilai dan memantau perkembangan aksesibilitas pasar individual, serta memberikan informasi kepada otoritas pasar mengenai area yang menurut investor institusi global belum memenuhi standar internasional dan membutuhkan perbaikan," tulis MSCI.

Lima Aspek Utama

Dalam Laporan Tahun ini, MSCI mengevaluasi lima aspek utama, yakni keterbukaan terhadap kepemilikan asing, kemudahan arus modal masuk dan keluar, efisiensi kerangka operasional, ketersediaan instrumen investasi, serta stabilitas kerangka institusional.

Menurut MSCI, kelima aspek tersebut menjadi perhatian utama investor institusi internasional ketika menilai aksesibilitas suatu pasar, mulai dari perlakuan yang setara bagi investor, kebebasan pergerakan modal, biaya investasi, penggunaan data pasar saham, hingga risiko spesifik masing-masing negara.

"Lima kriteria ini mencerminkan area yang secara umum menjadi perhatian utama investor institusi internasional ketika mengevaluasi aksesibilitas suatu pasar," tulis MSCI.

Dalam kelompok Developed Market, negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Jerman, Prancis, Swiss, Jepang, Singapura, Hong Kong dan Australia memperoleh dominasi penilaian "++", yang berarti tidak terdapat masalah berarti dalam aksesibilitas pasar. 

Beberapa catatan minor masih muncul pada aspek foreign room di Irlandia dan Spanyol, serta mekanisme stock lending dan short selling di Portugal, namun secara keseluruhan pasar negara maju dinilai memiliki aksesibilitas yang sangat baik.

Di kelompok Emerging Market, kondisi antarnegara masih beragam. China dan China A mendapatkan sejumlah penilaian minus pada aspek batas kepemilikan asing, foreign room, sistem kliring dan transferabilitas. India juga masih memperoleh catatan terkait liberalisasi pasar valuta asing, arus informasi, serta mekanisme short selling.

Korea Selatan mendapatkan catatan pada batas kepemilikan asing, ketersediaan instrumen investasi dan short selling. Taiwan juga masih menghadapi kendala pada batas kepemilikan asing, foreign room dan liberalisasi pasar valuta asing. Filipina memperoleh penilaian minus pada registrasi investor, arus informasi serta sistem kliring dan penyelesaian transaksi.

Malaysia dan Thailand tercatat memiliki penilaian yang relatif lebih baik dibanding sejumlah negara emerging market lainnya dengan dominasi indikator "++". 

Sementara Yunani, Hungaria, Polandia, Kuwait dan Qatar juga memperoleh lebih banyak penilaian positif.

Indonesia sendiri masih mendapatkan sejumlah catatan. Pada aspek keterbukaan terhadap kepemilikan asing, MSCI memberikan penilaian "-" untuk batas kepemilikan asing atau foreign ownership limit serta foreign room. Pada aspek kemudahan arus modal, pasar valuta asing Indonesia juga masih memperoleh tanda minus.

Selain itu, MSCI juga menilai proses registrasi investor dan pembukaan rekening, arus informasi, sistem kliring dan penyelesaian transaksi, serta transferabilitas saham masih membutuhkan perbaikan.

Adapun aspek persyaratan kualifikasi investor, regulasi pasar, layanan kustodian, registry atau depository, mekanisme perdagangan, stock lending, short selling, ketersediaan instrumen investasi dan stabilitas institusional memperoleh penilaian "+" yang menunjukkan tidak ada masalah besar, meskipun perbaikan masih dimungkinkan.

Menurut MSCI, aksesibilitas pasar merupakan salah satu faktor penting dalam penentuan klasifikasi pasar bersama tingkat perkembangan ekonomi serta ukuran dan likuiditas pasar.

"Klasifikasi pasar merupakan masukan utama dalam proses konstruksi indeks karena menentukan komposisi himpunan peluang investasi yang akan direpresentasikan," tulis MSCI.

MSCI menyatakan hasil Annual Market Classification Review 2026 akan diumumkan pada 23 Juni 2026. Pengumuman tersebut akan menentukan klasifikasi pasar ke dalam kelompok Developed Market, Emerging Market, Frontier Market maupun Standalone Market.

Dalam laporan yang dirilis kali ini, Bulgaria belum dimasukkan dalam penilaian. Informasi mengenai negara tersebut akan disampaikan bersamaan dengan pengumuman Annual Market Classification Review pada 23 Juni mendatang. Saat ini Bulgaria sedang dalam peninjauan untuk kemungkinan naik dari status Standalone Market menjadi Frontier Market.

Bagi Indonesia, hasil Global Market Accessibility Review menjadi perhatian penting mengingat pasar modal domestik sempat dibayangi risiko penurunan status ke frointer market dalam beberapa waktu terakhir. Namun, laporan yang dirilis pada 18 Juni ini belum merupakan keputusan klasifikasi tahunan. Dengan demikian, arah status Indonesia sebagai Emerging Market masih akan ditentukan dalam pengumuman MSCI Annual Market Classification Review pada 23 Juni 2026 mendatang. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".