Logo
>

Peringatan Wapres AS ke Israel Angkat Harga Minyak Brent

Kenaikan Brent terjadi setelah Wakil Presiden AS JD Vance mengingatkan Israel agar tidak melanjutkan serangan terhadap kelompok Hizbullah

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Peringatan Wapres AS ke Israel Angkat Harga Minyak Brent
Ilustrasi minyak dunia. Foto: Dok Pertamina

KABARBURSA.COM - Harga minyak Brent ditutup menguat setelah peringatan Wakil Presiden AS JD Vance kepada Israel memicu kembali kekhawatiran pasar terhadap stabilitas gencatan senjata Amerika Serikat dan Iran.

Minyak mentah Brent sebagai acuan global berakhir naik 30 sen atau 0,38 persen ke level USD79,85 per barel pada perdagangan Kamis 18 Juni 2026 waktu setempat atau Jumat 19 Juni 2026 pagi WIB, berdasarkan laporan Reuters dari Houston. Sebaliknya, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 19 sen atau 0,25 persen menjadi USD76,60 per barel.

Kenaikan Brent terjadi setelah Wakil Presiden AS JD Vance mengingatkan Israel agar tidak melanjutkan serangan terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon. Pernyataan tersebut memunculkan kembali keraguan pelaku pasar mengenai keberlanjutan kesepakatan gencatan senjata antara Washington dan Teheran.

Sebelum komentar Vance disampaikan, harga Brent sempat turun ke level terendah sejak 27 Februari, yakni hari perdagangan terakhir sebelum serangan awal Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. WTI juga sempat menyentuh posisi terendah sejak 4 Maret.

Mitra Again Capital, John Kilduff, menilai pernyataan Vance kembali meningkatkan ketegangan di pasar energi. Menurutnya, gangguan sekecil apa pun di kawasan Timur Tengah dapat langsung memengaruhi pergerakan harga minyak.

Fokus pasar kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sebelum konflik mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak global. Kilduff menilai harga saat ini telah mencerminkan ekspektasi pemulihan penuh distribusi minyak melalui jalur tersebut, sehingga setiap perkembangan yang tidak sesuai harapan berpotensi mengerek harga lebih tinggi.

Dalam nota kesepahaman berisi 14 poin yang disepakati Amerika Serikat dan Iran, kedua negara menyepakati masa negosiasi selama 60 hari. Iran juga berkomitmen menjaga kelancaran lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz serta menargetkan pemulihan penuh kapasitas jalur itu dalam waktu 30 hari.

Kesepakatan tersebut turut mengikat sekutu kedua negara di Timur Tengah, termasuk Lebanon yang hingga kini masih menjadi lokasi operasi udara dan darat Israel terhadap Hizbullah.

Meski demikian, sejumlah isu krusial masih belum terselesaikan dalam perjanjian sementara tersebut, termasuk program nuklir Iran. Selain itu, Amerika Serikat bersama mitranya diwajibkan menyusun paket pembiayaan senilai USD300 miliar guna mendukung pemulihan ekonomi Iran.

Analis memperkirakan arus distribusi minyak melalui Selat Hormuz akan pulih secara bertahap. Namun, pelaku industri menilai harga minyak tidak akan kembali turun tajam karena kebutuhan energi global diperkirakan meningkat seiring upaya pengisian kembali cadangan minyak.

Goldman Sachs memproyeksikan ekspor minyak dari kawasan Teluk akan kembali ke level sebelum perang pada akhir Juli, sementara produksi diperkirakan pulih sepenuhnya pada Oktober.

Bank investasi tersebut memperkirakan normalisasi ekspor dapat dicapai melalui peningkatan aliran minyak di Selat Hormuz hingga 13 juta barel per hari, atau sekitar 70 persen dari kapasitas sebelum konflik.

Sementara itu, BNP Paribas memperkirakan harga minyak tidak akan kembali ke level sebelum perang dalam waktu dekat. Menurut bank tersebut, kisaran USD75 per barel berpotensi menjadi batas bawah harga yang bertahan cukup lama karena gangguan pasokan masih berlangsung di tengah permintaan yang tetap tinggi. Sebelum konflik pecah, Brent bergerak di rentang USD60 hingga USD70 per barel selama dua bulan pertama tahun ini.

Dari sisi permintaan, konsumsi minyak China yang merupakan pengguna minyak terbesar kedua di dunia diperkirakan mencapai 753 juta metrik ton pada 2026, turun 4,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan itu dipicu percepatan penggunaan energi baru serta masih tingginya harga minyak, menurut laporan unit riset PetroChina.

Di sisi lain, pasar juga terus mencermati perkembangan geopolitik setelah drone Ukraina kembali menyerang kilang minyak di wilayah ibu kota Rusia untuk kedua kalinya dalam sepekan. Ukraina menyebut serangan tersebut menunjukkan peningkatan kemampuan operasional militernya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.