KABARBURSA.COM - Wall Street mengakhiri perdagangan dengan penguatan, didorong reli saham teknologi dan meredanya kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi Amerika. Hal itu setelah tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan waktu setempat, dengan indeks Nasdaq memimpin kenaikan berkat lonjakan saham-saham semikonduktor. Optimisme investor meningkat setelah AS dan Iran meneken kesepakatan damai yang membantu meredakan kekhawatiran terhadap inflasi, meski pasar masih mencermati peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada tahun ini.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 72,15 poin atau 0,14 persen menjadi 51.564,70. Sementara itu, indeks S&P 500 bertambah 80,48 poin atau 1,08 persen ke level 7.500,58, dan Nasdaq Composite melesat 496,28 poin atau 1,91 persen menjadi 26.517,93, berdasarkan laporan Reuters di New York, Kamis 18 Juni atau Jumat 19 Juni 2026 pagi WIB.
Kinerja paling menonjol datang dari indeks semikonduktor Philadelphia yang melonjak 6,4 persen, jauh melampaui sektor lainnya. Saham Intel mencatat rekor tertinggi setelah ditutup menguat 10,6 persen, menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa Apple akan bekerja sama dengan Intel dalam perancangan dan produksi chip di Amerika Serikat.
Pada sesi awal perdagangan, harga minyak sempat jatuh ke titik terendah sejak awal Maret setelah AS dan Iran menyepakati perjanjian sementara yang memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Kesepakatan tersebut memberikan ruang bagi kedua negara untuk merundingkan perjanjian permanen.
Turunnya harga minyak disambut positif oleh pelaku pasar karena sebelumnya lonjakan harga energi akibat konflik yang pecah pada akhir Februari menjadi salah satu pemicu utama kekhawatiran inflasi.
Meski Trump memperingatkan kemungkinan serangan kembali jika Iran tidak menjalankan komitmennya, sejumlah kapal mulai kembali melintasi Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut sebelumnya mengalami gangguan distribusi minyak, gas, pupuk, dan berbagai komoditas lain sejak konflik berlangsung.
Sehari sebelumnya, ketiga indeks utama Wall Street sempat tertekan akibat meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Sentimen tersebut muncul setelah Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, menegaskan pentingnya pengendalian inflasi dan sejumlah pejabat bank sentral memberi sinyal kemungkinan kenaikan biaya pinjaman.
Chief Investment Officer SignatureFD Tony Welch menilai pasar sempat bereaksi negatif terhadap komitmen Warsh dalam menekan inflasi. Namun, menurutnya, penurunan harga minyak, kinerja laba perusahaan yang tetap kuat, serta kondisi ekonomi yang masih solid menjadi faktor penopang pasar di tengah sikap The Fed yang cenderung lebih hawkish.(*)