KABARBURSA.COM – Pergerakan saham PT Anabatic Technologies Tbk atau ATIC kembali masuk radar trader ritel seiring meningkatnya volatilitas harga dalam beberapa waktu terakhir. Di tengah pergerakan yang cenderung teknikal, perhatian pasar kembali tertuju pada satu isu lama yang belum selesai sepenuhnya, yakni keberadaan obligasi konversi yang jatuh temponya kian mendekat.
Isu ini kembali mencuat setelah praktisi investasi Mikirduit, Surya Rianto, mengatakan struktur obligasi ATIC masih berpotensi memengaruhi pergerakan harga saham. Dalam keterangannya, Surya menegaskan bahwa pendekatan terhadap ATIC tidak bisa dilepaskan dari karakter instrumen tersebut.
“Saham ATIC punya obligasi konversi senilai Rp560 miliar dengan bunga 5 persen per tahun. Tenor obligasi telah diperpanjang beberapa kali, terakhir diperpanjang hingga 11 Juli 2026,” kata Surya dalam keterangan tertulis yang diterima KabarBursa.com, Selasa, 6 Januari 2026.
Obligasi konversi ini menjadi konteks penting karena harga saham ATIC saat ini masih berada jauh di bawah harga konversinya. Berdasarkan data Stockbit per awal Januari 2026, saham ATIC bergerak di kisaran 670, dengan kenaikan sekitar 3,88 persen dalam sepekan terakhir, namun tetap belum mendekati level yang dibutuhkan agar konversi menjadi saham menarik bagi pemegang obligasi.
Jika membaca laporan keuangannya, ATIC punya tiga opsi untuk menyelesaikan obligasi konversinya. Pertama, pemegang obligasi tertarik untuk konversi menjadi saham (dengan kondisi seharusnya harga saham ATIC di pasar sudah lebih tinggi dari harga konversi), Kedua ATIC melunasi utang obligasinya langsung, Ketiga ATIC memperpanjang tenor obligasi konversi dengan bunga 5 persen per tahun. Sejauh ini opsi yang diambil selalu yang ketiga. Untuk itu, perlu ditunggu pada 11 Juli 2026 saat tenor obligasi konversinya selesai.
Dari sisi pergerakan teknikal jangka pendek, grafik harga ATIC di data Stockbit menunjukkan pola konsolidasi dalam rentang sempit. Harga bergerak di kisaran 660–680, mencerminkan pasar yang belum mengambil sikap agresif di tengah minimnya katalis baru.
Secara teknikal, posisi harga masih bertahan di atas rata-rata pergerakan 50 dan 100 hari, yang menandakan belum adanya tekanan jual signifikan. Namun, kemiringan rata-rata tersebut relatif landai, yang mengindikasikan bahwa penguatan belum disertai momentum yang kuat.
Sementara itu, indikator volatilitas Bollinger Band terlihat menyempit. Kondisi ini umumnya mencerminkan fase menunggu arah, ketika pelaku pasar cenderung menahan posisi sembari mencermati perkembangan sentimen berikutnya.
Dari sisi momentum, indikator MACD masih bergerak di area bawah dengan histogram tipis. Hal ini menunjukkan dorongan beli dan jual berada dalam kondisi relatif seimbang, sejalan dengan pergerakan harga yang cenderung sideways.
Adapun secara psikologis, area 650–660 masih menjadi zona yang berulang kali diuji pasar sebagai penyangga jangka pendek. Di sisi lain, area mendekati 700 kembali berperan sebagai hambatan yang belum mampu ditembus secara konsisten.
Di sisi lain, Surya mengatakan secara struktur, terdapat jarak besar antara harga pasar dan harga konversi obligasi tersebut. Kondisi ini kerap memunculkan spekulasi di pasar, terutama menjelang mendekati masa jatuh tempo.
“Harga konversi obligasi ATIC ada di Rp1.400 per saham. Jika tidak diperpanjang, harusnya ada mover penggerak harga saham ATIC bisa dinaikkan ke atas Rp1.400 per saham agar si para pemberi pinjaman bisa dapat cuan. seharusnya," katanya.
Secara historis, pola semacam ini pernah terjadi pada ATIC. Data pergerakan harga menunjukkan bahwa pada 2021, saham ATIC sempat mengalami lonjakan signifikan sebelum akhirnya kembali terkoreksi. Namun, lonjakan tersebut tidak berujung pada konversi obligasi, melainkan perpanjangan tenor kembali dilakukan oleh perusahaan.
Surya mengingatkan bahwa peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting bagi investor maupun tarder ritel agar tidak semata-mata berpatokan pada ekspektasi. Pasar bisa bergerak jauh sebelum keputusan final diambil oleh emiten. “Hal itu pernah terjadi di 2021 ketika tenor harusnya selesai. Harga saham ATIC sempat ke Rp2.260. Tapi ternyata obligasi diperpanjang hingga akhirnya sampai juli 2026,” ungkap Surya.
Dari sisi data pasar terkini, Stockbit mencatat rasio valuasi ATIC berada pada level yang relatif rendah secara Price to Earnings TTM di kisaran 6,61. Namun, rasio ini tidak serta-merta mencerminkan valuasi murah karena laba perusahaan bersifat fluktuatif dan sangat dipengaruhi siklus proyek.
Sementara itu, rasio Price to Book Value tercatat di kisaran 2,82. Angka ini menunjukkan bahwa saham ATIC tidak bisa dikategorikan undervalued secara sederhana, terutama jika dilihat sebagai saham berbasis fundamental jangka panjang. Dari sisi orderbook, terdapat indikasi akumulasi selektif, namun belum terlihat dorongan agresif yang biasanya mengiringi fase distribusi besar.
Surya menegaskan bahwa pendekatan terhadap ATIC harus ditempatkan secara tepat sejak awal. Ia menyebut bahwa tesis yang ia sampaikan bukanlah tesis bisnis, melainkan murni teknikal yang bersumber dari struktur obligasi konversi tersebut.
“Tesis saham ini murni teknis dari keberadaan obligasi konversi (yang kerap mendorong harga saham ATIC mengalami kenaikan setiap tahunnya meski setelahnya konsolidasi lagi). Di luar prospek bisnis dan lainnya," kata Surya.
Dengan karakter seperti itu, risiko tetap menjadi faktor utama yang perlu dicermati investor ritel. Salah satu risiko terbesar adalah kemungkinan obligasi kembali diperpanjang, yang secara historis pernah terjadi dan berpotensi mengubah ekspektasi pasar secara drastis.
Surya pun mengingatkan investor agar tidak gegabah dalam mengelola eksposur terhadap saham ini. “Reminder: Risiko tinggi, atur lokasi, jangan terlalu besar, dan masuk bertahap,” katanya.
Dengan demikian, saham ATIC saat ini lebih tepat dipandang sebagai saham dengan karakter volatil berbasis sentimen teknikal, bukan sebagai cerita fundamental jangka panjang. Pergerakannya ke depan akan sangat bergantung pada dinamika obligasi konversi, respons pasar, serta keputusan strategis emiten menjelang jatuh tempo pada 2026. Bagi investor ritel, memahami konteks dan risiko menjadi kunci agar tidak terjebak pada euforia sesaat di tengah fluktuasi harga yang tinggi.
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.