KABARBURSA.COM – PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk, dengan kode saham PACK, sedang menyiapkan skema pendanaan yang tidak kecil. Dalam keterbukaan informasinya, PACK menawarkan 32.586.939.356 unit Obligasi Wajib Konversi (OWK) lewat PMHMETD I atau right issue.
OWK merupakan surat utang yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk wajib ditukar menjadi saham perusahaan penerbit setelah jangka waktu tertentu atau pada kondisi yang telah disepakati.
Nantinya, saham ini menjadi instrumen hibrida yang menggabungkan pendapatan tetap (bunga/kupon) dari obligasi dengan potensi keuntungan dari kenaikan harga saham (capital gain) jika harganya naik.
Setiap OWK memiliki nilai nominal Rp10 per unit dengan harga pelaksanaan Rp100 per unit. Dengan jumlah OWK yang ditawarkan, PACK berpotensi menghimpun dana hingga Rp3,25 triliun.
Adapun penggunaan dana yang dihimpun adalah untuk pelunasan kewajiban pembayaran entitas anak, dan penguatan modal kerja di level holding company. Artinya, pasar tidak sedang membaca aksi korporasi ini sebagai pendanaan untuk ekspansi organik yang langsung “menghasilkan pendapatan”, melainkan sebagai langkah untuk merapikan kewajiban dan menambah ruang napas operasional grup.
Mekanisme haknya juga agresif. Dalam keterbukaan informasi, setiap pemegang 5 saham lama yang tercatat pada 13 Januari 2026 berhak memperoleh 102 HMETD. Kemudian, setiap 1 HMETD memberi hak membeli 1 OWK.
Seluruh dana pembelian OWK wajib disetor penuh saat pemesanan, yang berarti rights issue ini menuntut komitmen kas nyata sejak awal, bukan sekadar rencana.
Dari sisi kepastian penyerapan, ada jangkar yang cukup kuat. Pemegang saham pengendali, PT Eco Energi Perkasa (EEP) yang menguasai 47,16 persen saham PACK, menyatakan akan mengeksekusi seluruh haknya, setara 15,37 miliar HMETD, dan membeli OWK sesuai porsinya.
Selain itu, EEP juga bertindak sebagai pembeli siaga, dengan komitmen menyerap sisa OWK hingga 12.904.655.400 unit atau senilai Rp1,29 triliun. Nilai ini juga ditampilkan setara USD77,03 juta, yang artinya kebutuhan pembayaran kewajiban yang dikejar PACK beririsan dengan komponen berdenominasi asing atau setidaknya diekspos dalam ekuivalen dolar untuk memudahkan pembacaan skala transaksi.
Arah penggunaan dana menunjukkan porsi yang sangat condong ke anak usaha. Sekitar 86,93 persen dari dana rights issue, atau sekitar Rp2,83 triliun, akan disalurkan ke entitas anak APR dan SCR. Dana tersebut dipakai untuk pembayaran pembelian saham pada KS dan KKU.
Di sini terlihat bahwa PACK sedang mengonsolidasikan langkah korporasi di level grup, karena pendanaan bukan masuk untuk investasi aset baru langsung, melainkan untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran yang terkait transaksi saham di entitas target.
Menariknya, skema penyaluran dana ke entitas anak menggunakan kombinasi yang “campuran”: 30 persen dialokasikan sebagai penyertaan modal, sementara 70 persen diberikan dalam bentuk pinjaman dari induk kepada entitas anak.
Komposisi ini mengirim sinyal bahwa PACK tidak hanya ingin memperkuat ekuitas di anak usaha, tetapi juga menjaga struktur pengendalian dan disiplin finansial melalui instrumen utang intra-grup.
Bagi pembaca pasar, ini penting karena akan mempengaruhi bagaimana beban bunga, arus kas, dan posisi piutang induk terhadap anak usaha terbentuk ke depan, meskipun detail bunga dan tenor pinjaman tidak dijelaskan dalam ringkasan ini.
Pelunasan kewajiban pembayaran oleh entitas anak direncanakan dilakukan setelah dana PMHMETD I diterima perseroan. Frasa ini menegaskan bahwa aksi korporasi dirancang sebagai “kunci pembuka” untuk menuntaskan kewajiban strategis, yang dikaitkan dengan ekspansi dan restrukturisasi usaha.
Dengan kata lain, rights issue OWK ini lebih dekat ke langkah penataan struktur grup dan penyelesaian kewajiban transaksi, ketimbang pembiayaan pertumbuhan penjualan jangka pendek.
Sisa dana sekitar 13,07 persen diarahkan untuk modal kerja perseroan sebagai holding company. Penggunaannya disebut spesifik untuk biaya operasional: gaji manajemen dan karyawan, sewa kantor, perlengkapan operasional, hingga biaya profesional seperti audit, pajak, dan konsultan.
PACK ingin memastikan aktivitas holding tetap berjalan stabil setelah kewajiban besar di level anak usaha ditangani, sekaligus menutup kebutuhan biaya rutin yang kerap menjadi tekanan bagi struktur perusahaan induk.
Dalam konteks pasar modal, paket aksi korporasi ini biasanya akan dibaca lewat tiga kacamata. Pertama, seberapa kuat komitmen penyerapan—dan dalam kasus PACK, keberadaan EEP sebagai eksekutor hak sekaligus pembeli siaga memperbesar kepastian dana masuk.
Kedua, bagaimana dampak OWK terhadap struktur permodalan saat konversi—karena sifat “wajib konversi” berarti ada potensi perubahan jumlah saham beredar di kemudian hari.
Dan ketiga, apakah penggunaan dana benar-benar mengurangi risiko grup—karena mayoritas dana diarahkan untuk pelunasan kewajiban dan pembayaran pembelian saham pada entitas tertentu, yang berarti keberhasilan aksi ini akan sangat ditentukan oleh ketepatan eksekusi transaksi di level anak usaha.
Jika dirangkum sebagai sinyal, PACK sedang mengirim pesan bahwa fokusnya saat ini adalah memastikan pendanaan untuk menyelesaikan kewajiban strategis grup melalui instrumen OWK, dengan pengendali tampil sebagai penopang utama agar transaksi berjalan.
Pasar kemudian akan menilai lanjutan ceritanya setelah dana masuk: apakah struktur permodalan grup benar-benar menguat dan kewajiban yang ditargetkan selesai sesuai rencana, serta bagaimana konsekuensi konversi OWK terhadap ekuitas dan persepsi valuasi di tahap berikutnya.(*)