KABARBURSA.COM - PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk menegaskan bahwa sejumlah perubahan terkait klasifikasi papan pencatatan dan status keanggotaan indeks yang diumumkan Bursa Efek Indonesia (BEI), FTSE Russell, dan MSCI tidak mencerminkan kondisi fundamental maupun kinerja operasional Perseroan.
Head of Investor Relations GoTo, Joel Ellis, menjelaskan bahwa perkembangan tersebut murni merupakan penyesuaian administratif dan teknis yang didasarkan pada parameter kuantitatif masing-masing penyedia indeks. Karena itu, perubahan tersebut tidak dapat diartikan sebagai penurunan kualitas bisnis perusahaan.
GoTo mencermati pengumuman terbaru dari BEI, FTSE Russell, dan MSCI terkait penyesuaian klasifikasi papan pencatatan serta perlakuan indeks terhadap saham Perseroan. Menurut perusahaan, keputusan tersebut muncul sebagai konsekuensi dari metodologi dan kriteria yang digunakan oleh masing-masing lembaga.
Dalam penyesuaian terbaru, BEI mereklasifikasi saham GoTo dari Papan Ekonomi Baru ke Papan Pengembangan. Perubahan tersebut terjadi karena Perseroan tidak memenuhi salah satu syarat yang ditetapkan, yakni pertumbuhan rata-rata tahunan atau compound annual growth rate (CAGR) pendapatan bersih minimal 20 persen dalam periode tiga tahun terakhir.
Menurut GoTo, kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh proses dekonsolidasi Tokopedia yang dilakukan pada awal 2024. Langkah korporasi tersebut berdampak pada perhitungan pertumbuhan pendapatan yang menjadi salah satu indikator dalam evaluasi klasifikasi papan pencatatan.
Sejalan dengan perubahan tersebut, saham GoTo juga akan dikeluarkan dari FTSE Global Equity Index Series. Perseroan menjelaskan bahwa FTSE saat ini belum memasukkan saham yang tercatat di Papan Pengembangan ke dalam cakupan indeksnya.
Selain faktor klasifikasi papan, keputusan FTSE juga mempertimbangkan kondisi perdagangan terkini di Bursa Efek Indonesia yang memengaruhi kelayakan saham dalam metodologi indeks global tersebut.
Sementara itu, pengumuman dari MSCI berkaitan dengan isu likuiditas perdagangan saham yang dipicu oleh ketentuan batas minimum harga saham yang berlaku di pasar modal Indonesia. Perseroan menilai faktor tersebut lebih bersifat teknis dan tidak mencerminkan kualitas maupun prospek bisnis perusahaan.
GoTo menegaskan bahwa seluruh perubahan tersebut tidak memberikan dampak terhadap aktivitas operasional, arah strategi perusahaan, maupun fokus bisnis jangka panjang yang tengah dijalankan.
Di tengah berbagai penyesuaian indeks tersebut, Perseroan mengklaim tetap menunjukkan kinerja operasional yang solid. Pada kuartal pertama 2026, GoTo membukukan laba bersih kuartalan untuk pertama kalinya sejak perusahaan berdiri.
Laba bersih yang dicatat mencapai Rp171 miliar. Capaian tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bersih sebesar 26 persen secara tahunan menjadi Rp5,3 triliun.
Perseroan juga tetap mempertahankan proyeksi EBITDA grup yang disesuaikan untuk sepanjang tahun 2026 pada kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun. Target tersebut mencerminkan potensi pertumbuhan sekitar 60 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Menurut manajemen, hasil tersebut menunjukkan bahwa transformasi bisnis yang dijalankan perusahaan mulai menghasilkan kinerja yang lebih sehat dan berkelanjutan.
GoTo menegaskan fundamental bisnis perusahaan tetap berada dalam kondisi kuat. Perseroan akan terus berfokus pada strategi pertumbuhan yang disiplin, berorientasi profitabilitas, serta penciptaan nilai jangka panjang bagi pelanggan, mitra, dan pemegang saham.
Di tengah perubahan status indeks dan klasifikasi pasar, perusahaan menilai fokus utama tetap berada pada penguatan kinerja operasional dan keberlanjutan bisnis, bukan semata pada penyesuaian teknis yang dilakukan oleh penyedia indeks global maupun bursa.