KABARBURSA.COM — Harga minyak dunia sempat melonjak pada Kamis, 15 Januari 2026, sebelum akhirnya nyaris habis dikikis sendiri oleh pasar. Pemicunya datang dari Washington. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang meredakan kekhawatiran soal potensi gangguan pasokan Iran langsung mengubah arah permainan.
Di awal hari, pasar minyak dibuka dengan napas tegang. Kekhawatiran muncul karena potensi serangan Amerika Serikat ke Iran dan kemungkinan balasan terhadap kepentingan AS di kawasan Timur Tengah. Skenario terburuknya jelas, pasokan minyak Iran terganggu, harga pun melambung. Dan memang sempat begitu ceritanya.
Dilansir dari Reuters, minyak Brent lebih dulu ditutup naik USD1,05 per barel atau sekitar Rp17.640 dengan kurs Rp16.800, menguat 1,6 persen ke level USD66,52 per barel atau setara Rp1.117.536. Sementara minyak mentah Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate atau WTI ikut menguat 87 sen atau sekitar Rp14.616 menjadi USD62,02 per barel atau sekitar Rp1.041.936.
Namun suasana berubah cepat menjelang sore waktu setempat. Trump menyampaikan bahwa pembunuhan dalam penindakan keras pemerintah Iran terhadap gelombang protes nasional disebutnya mulai mereda. Ia juga mengaku percaya bahwa saat ini tidak ada rencana eksekusi massal berskala besar di Iran.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi dampaknya langsung terasa di pasar. Ketegangan yang tadinya menjadi bahan bakar harga minyak mendadak surut. Investor buru-buru membalik posisi.
Minyak Brent berjangka akhirnya berbalik melemah 92 sen atau sekitar Rp15.456, turun 1,41 persen ke USD64,55 per barel atau setara Rp1.084.440 pada pukul 3.18 sore waktu New York. WTI juga ikut tergelincir 96 sen atau sekitar Rp16.128, turun 1,57 persen ke USD60,19 per barel atau sekitar Rp1.011.192.
Pasar saham di Amerika Serikat bahkan langsung menyambutnya dengan reli, sementara minyak justru terjun cepat.
“The market now thinks that maybe there is not going to be an attack on Iran so the stock market rallied and oil prices plummeted really quickly,” kata Phil Flynn, analis senior Price Futures Group.
Meski begitu, bara geopolitik belum sepenuhnya padam. Hubungan Teheran dan Washington tetap panas. Iran sebelumnya memperingatkan sekutu-sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah bahwa mereka akan menyerang pangkalan militer AS di wilayah mereka jika Iran diserang. Pemerintah Amerika Serikat pun mulai menarik sebagian personel dari pangkalan-pangkalan utama di kawasan sebagai langkah antisipasi, menurut seorang pejabat AS.
Analis Citi melihat situasi Iran masih menyimpan risiko. Dalam catatannya, Citi menilai protes di Iran berpotensi memperketat keseimbangan minyak global, bukan hanya dari sisi kehilangan pasokan jangka pendek, tapi juga dari kenaikan premi risiko geopolitik.
“Protests in Iran risk tightening global oil balances through near-term supply losses, but mainly through rising geopolitical risk premium,” tulis analis Citi.
Namun mereka juga mencatat bahwa gelombang protes sejauh ini belum merambah wilayah utama penghasil minyak Iran. Fakta itu membuat dampak langsung ke pasokan minyak dunia masih terbatas.
Dari sisi lain, sentimen ekonomi Amerika Serikat ikut memberi sokongan sementara pada harga minyak. Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis, Neel Kashkari, mengatakan dirinya cukup optimistis terhadap prospek ekonomi dan memperkirakan tekanan inflasi akan mereda. Pernyataan ini sempat memberi harapan bahwa permintaan energi bisa tetap terjaga.
Tetapi harapan itu kembali terbentur data persediaan. Badan Informasi Energi Amerika Serikat atau EIA melaporkan lonjakan stok minyak mentah dan bensin yang jauh di atas perkiraan pasar.
Persediaan minyak mentah Amerika Serikat naik 3,4 juta barel menjadi 422,4 juta barel pekan lalu. Padahal sebelumnya analis yang disurvei Reuters memperkirakan justru akan terjadi penurunan sekitar 1,7 juta barel. Stok bensin bahkan melonjak lebih tajam, naik 9 juta barel menjadi 251 juta barel, jauh di atas ekspektasi kenaikan 3,6 juta barel.
Lonjakan stok ini menjadi rem tambahan bagi laju harga minyak yang sudah kehilangan tenaga sejak ketegangan geopolitik mereda.
Tekanan lain datang dari Amerika Latin. Venezuela, anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak atau OPEC, mulai membalikkan pemangkasan produksi minyak yang sebelumnya dilakukan akibat embargo Amerika Serikat. Produksi kembali dinaikkan seiring dimulainya lagi ekspor minyak mentah, menurut tiga sumber.
Dua kapal supertanker dilaporkan meninggalkan perairan Venezuela pada Senin dengan membawa masing-masing sekitar 1,8 juta barel minyak mentah. Pengiriman ini disebut-sebut sebagai bagian awal dari kesepakatan pasokan sekitar 50 juta barel antara Venezuela dan Amerika Serikat, yang dibuka kembali setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh otoritas AS.
Dengan suplai yang kembali mengalir, stok yang menumpuk, dan ketegangan geopolitik yang mendadak mendingin, pasar minyak pun kembali dihadapkan pada realitas lama. Harga bisa melompat karena kabar politik, tapi bisa juga runtuh secepat itu ketika nada bicara berubah.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.