KABARBURSA.COM - Pasar saham kembali mencatatkan pergerakan signifikan sepanjang pekan lalu dengan sepuluh saham mencuri perhatian karena lonjakan harga dan aktivitas perdagangannya.
Namun, tidak semua reli tersebut memiliki peluang berlanjut. Berdasarkan pola teknikal, aliran dana, serta kekuatan volume, momentum saham-saham tersebut dapat dipetakan ke dalam tiga kelompok: berpotensi lanjut naik, cenderung bergerak mendatar, dan yang paling rawan terkoreksi.
PT Minerba Mas Tbk (MINA) menjadi salah satu penggerak utama pekan ini. Dengan nilai transaksi mingguan mencapai Rp2,7 triliun dan frekuensi lebih dari 839 ribu kali.
Aliran dana masuk terpantau stabil dan tidak bersifat sekali hentak. Kenaikan harganya berlangsung bertahap di mana pola yang biasanya membuka ruang lanjutan selama satu hingga dua minggu ke depan. Momentum MINA terlihat masih sehat, meskipun volatilitasnya meningkat.
Di sektor konstruksi, PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) juga mencatat performa solid. Nilai transaksi Rp772 miliar mengindikasikan minat institusi yang kuat, sejalan dengan sentimen anggaran pemerintah 2026 yang mulai menggerakkan emiten konstruksi.
Stabilnya frekuensi perdagangan menunjukkan reli NRCA berlangsung wajar dan berpotensi berlanjut dengan kenaikan moderat.
Sementara untuk PT ASL Marine Holdings Indonesia Tbk (ASLI) turut masuk kelompok momentum kuat. Nilai transaksi Rp228 miliar memperlihatkan dukungan yang cukup besar, diperkuat dengan keterlibatan ritel yang masif.
Posisi ini masih memungkinkan ruang kenaikan lanjutan, meski tekanan profit-taking mulai terlihat. Sementara itu, PT Dana Brata Luhur Tbk (DNAR) masih menyimpan sisa momentum meski tidak sekuat tiga saham sebelumnya. Nilai transaksinya tidak sebesar MINA atau NRCA, tetapi pola kenaikannya mengindikasikan peluang lanjutan dalam jangka pendek.
Saham yang Berpotensi Sideways Terlebih Dahulu
PT Red Planet Indonesia Tbk (PSKT) yang melonjak 68 persen dalam sepekan tampak memasuki zona jenuh. Meski nilai transaksi Rp158,5 miliar menunjukkan minat yang cukup besar.
Lonjakan harga yang terlalu cepat ditambah euforia ritel membuat saham ini berpeluang bergerak mendatar selama dua hingga tiga hari sebelum menentukan arah baru.
PT Sunson Textile Manufacturer Tbk (SSTM) juga berpotensi memasuki fase konsolidasi. Kenaikan harga yang agresif tidak sepenuhnya ditopang oleh nilai transaksi yang besar.
Saham-saham berkapitalisasi kecil dengan pola seperti ini biasanya membutuhkan jeda sebelum menguji reli berikutnya. Hal yang sama terlihat pada PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI). Dengan nilai transaksi mingguan Rp69 miliar, kenaikan 60 persen pekan lalu dinilai kurang proporsional terhadap volume. Tanpa katalis tambahan, PADI cenderung bergerak datar.
Saham yang Paling Rawan Koreksi
PT Star Pacific Tbk (STAR) mencatat kenaikan hampir 93 persen dalam sepekan, namun pola reli yang terlalu curam membuatnya masuk kategori paling rawan terkoreksi.
Meski nilai transaksinya besar, yakni sekitar Rp1,9 triliun, alur pergerakannya menyerupai pola pump-and-dump yang umum muncul pada saham berisiko tinggi. Potensi koreksi 10–20 persen cukup terbuka.
PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) juga menghadapi tekanan serupa. Lonjakan 76% terjadi tanpa katalis fundamental signifikan. Nilai transaksi Rp123 miliar memang tidak kecil, namun alurnya lebih menyerupai aktivitas spekulatif, sehingga risiko profit-taking cepat cukup menonjol.
Sementara itu, PT Ifishdeco Indonesia Tbk (IRFN), dengan nilai transaksi hanya Rp1,6 miliar, menunjukkan karakter klasik saham berkapitalisasi kecil yang mudah digerakkan dan sama cepatnya dilepas. Kenaikan besarnya tidak sebanding dengan kekuatan dana masuk, sehingga IRFN termasuk yang paling berpotensi terkoreksi tajam.(*)