Logo
>

Pendapatan Melemah, Laba GGRM Justru Ngebut Naik

GGRM mencatat lonjakan laba 58,7 persen di tengah penurunan pendapatan, ditopang efisiensi biaya dan penurunan utang yang mengubah struktur keuangan sepanjang 2025.

Ditulis oleh Yunila Wati
Pendapatan Melemah, Laba GGRM Justru Ngebut Naik
Meskipun mencatatkan laba yang naik di tengah penurunan pendapatan, GGRM berhasil mengurangi rasio utang ke kisaran 20,3 persen dari sebelumnya 30 persen. (Foto: dok Gudang Garam)

KABARBURSA.COM – Kinerja PT Gudang Garam Tbk (GGRM) sepanjang 2025 memperlihatkan satu pola yang tidak sepenuhnya berjalan lurus dengan arah pendapatan. Di saat penjualan menurun, laba bersih perusahaan malah melonjak signifikan.

Pola ini membuka ruang pembacaan yang lebih dalam terhadap perubahan struktur operasional dan efisiensi yang terjadi di baliknya.

Berdasarkan Laporan Keuangan Gudang Garam, sepanjang tahun buku 2025, perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp1,56 triliun, meningkat 58,7 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang sebesar Rp980,80 miliar.

Kenaikan ini berjalan seiring dengan pertumbuhan laba per saham (EPS) yang naik menjadi Rp809 per saham dari sebelumnya Rp510 per saham. Peningkatan profitabilitas pun langsung terasa hingga level pemegang saham.

Namun jika ditarik ke sisi atas laporan laba rugi, arah pergerakannya justru berbeda. Pendapatan GGRM tercatat turun menjadi Rp89,37 triliun dari Rp98,65 triliun pada 2024, atau mengalami kontraksi dua digit secara tahunan. 

Penurunan ini menandai adanya tekanan di sisi topline, yang tidak diikuti oleh penurunan kinerja laba secara keseluruhan.

Efisiensi Operasional Sumbang Kenaikkan Laba

Perubahan mulai terlihat pada level operasional. Laba usaha meningkat menjadi Rp2,83 triliun dari Rp1,90 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini seiring dengan penurunan beban usaha menjadi Rp6,62 triliun dari Rp7,69 triliun. 

Data ini menunjukkan adanya pergeseran pada struktur biaya, di mana efisiensi operasional menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan laba di tengah penurunan pendapatan.

Pola yang sama juga terlihat pada laba sebelum pajak yang naik menjadi Rp2,55 triliun dari Rp1,40 triliun. Meskipun beban pajak meningkat cukup signifikan hingga mencapai Rp993,95 miliar, pertumbuhan laba operasional tetap mampu menjaga kenaikan laba bersih pada akhir periode.

Dari sisi profitabilitas, data historis menunjukkan perbaikan yang mulai terbentuk pada 2025 setelah mengalami tekanan pada periode sebelumnya. Net profit margin (NPM) tercatat di kisaran 1,7 persen pada kuartal IV 2025, meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang sempat berada di bawah 1 persen. 

Return on equity (ROE) juga berada di level 2,5 persen, menunjukkan adanya perbaikan meskipun masih berada dalam kisaran yang relatif terbatas.

Aset Berkurang, namun Rasio Utang Turun

Perubahan tidak hanya terjadi pada laporan laba rugi, tetapi juga terlihat pada struktur neraca. Total aset GGRM tercatat sebesar Rp75,25 triliun pada akhir 2025, turun dari Rp84,94 triliun pada tahun sebelumnya. 

Penurunan ini berjalan seiring dengan berkurangnya persediaan yang turun signifikan menjadi Rp33,38 triliun dari Rp40,42 triliun. Di sini, tampak adanya penyesuaian pada manajemen stok.

Di sisi lain, perbaikan justru terlihat pada struktur liabilitas. Total kewajiban berhasil ditekan menjadi Rp12,68 triliun dari Rp23,02 triliun, mencerminkan penurunan yang cukup tajam terutama pada pinjaman bank jangka pendek. 

Dengan penurunan liabilitas tersebut, rasio utang terhadap ekuitas (DER) juga turun ke kisaran 20,3 persen pada 2025 dari level yang sebelumnya berada di atas 30 persen.

Sejalan dengan itu, ekuitas GGRM meningkat menjadi Rp62,57 triliun dari Rp61,91 triliun, menunjukkan penguatan posisi modal di tengah proses deleveraging yang terjadi sepanjang tahun. Perubahan ini turut tercermin dalam perbaikan rasio likuiditas, di mana cash ratio berada di kisaran 33,7 persen, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

Jika dilihat dari tren beberapa tahun terakhir, kinerja GGRM menunjukkan fase penyesuaian yang cukup panjang sejak 2022, dengan tekanan pada pendapatan dan laba yang sempat menurun. Namun memasuki 2025, terjadi perubahan arah pada beberapa indikator utama, terutama pada sisi efisiensi, profitabilitas, dan struktur keuangan yang mulai menunjukkan perbaikan secara bertahap.

Kombinasi antara penurunan pendapatan, peningkatan laba, efisiensi biaya, serta perbaikan struktur neraca membentuk satu gambaran yang tidak sepenuhnya linear. Di satu sisi tekanan pada sisi penjualan masih terlihat, namun di sisi lain perbaikan pada operasional dan keuangan mulai tercermin dalam kinerja laba yang menguat sepanjang 2025.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79