KABARBURSA.COM - PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) sukses membukukan pendapatan usaha sebesar Rp343,3 miliar pada 2025. Angka ini meningkat 43,7 persen Year on Year (YoY) dibandingkan tahun sebelumnya.
Beban pokok pendapatan ARKO pada periode tersebut tumbuh sebesar 40,6 persen YoY menjadi Rp253,6 miliar. Kondisi ini dikarenakan adanya proses proses finalisasi pembangunan Proyek Kukusan 2.
Presiden Direktur ARKO, Aldo Artoko, mengatakan bahwa Proyek Kukusan 2 yang baru beroperasi pada Februari 2026 juga akan berkontribusi positif terhadap arus kas Perseroan mulai tahun ini dengan PLN sebagai pembeli tunggal.
“Dengan semakin banyak proyek pembangkit yang diselesaikan, kami yakin akan mampu terus menjaga komitmen untuk menerangi Indonesia berbasiskan energi bersih serta menjalankan bisnis secara berkelanjutan,” ujar Aldo dalam keterangannya, Senin, 9 Maret 2026.
Berpindah ke sisi operasional, ARKO sukses mencatatkan produksi listrik 151,8 MWh pada tahun lalu, meningkat sebanyak 56,1 persen YoY. Catatan ini didukung oleh dimulainya operasi proyek Yaentu dan curah hujan yang lebih tinggi dibanding tahun 2024.
Berdasarkan kinerja operasional tersebut, laba bersih ARKO pada 2025 mencapai Rp63,9 miliar, atau melonjak sebesar 52,9 persen. Sementara itu
margin laba bersih naik menjadi 18,6 persen (+111 bps YoY) pada tahun 2025.
Adapun pada 2025, ARKO telah mengakselerasi dua pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga air dengan tipe run-of-river yang pada akhirnya mengantarkan Proyek Kukusan 2 (5,4 MW), berlokasi di Tanggamus, Lampung, mulai beroperasi secara komersial untuk pertama kalinya pada Februari 2026.
Untuk Proyek Tomoni (10 MW), berlokasi di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, proses pembangunannya juga bertumbuh secara signifikan di mana pada tahun 2024 progres konstruksinya baru sebesar 15,5 persen, pada tahun 2025 sudah mencapai 58,8 persen dengan target finalisasi proyek pada akhir tahun ini.
Pada September 2025, Perseroan juga berhasil memperoleh Perjanjian Jual Beli Listrik (Power Purchase Agreement/PPA) Proyek Pongbembe (20 MW) dari PT PLN (Persero). PPA ini berlaku selama 30 tahun terhitung sejak proyek mulai beroperasi dan diperkirakan akan beroperasi pada 2030.
Proses pembangunan proyek tersebut telah dimulai pada akhir tahun 2025. Estimasi produksi listriknya mencapai 97.218 MWh per tahun yang seluruhnya akan dibeli oleh PLN. Dengan target tersebut, Proyek Pongbembe nantinya mampu berkontribusi sebesar 27.7 persen dari total produksi energi Perseroan yang bersumber dari enam proyek yang ada.
Sepanjang tahun 2025, Perseroan mampu mencatatkan reduksi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar ±37.290 ton CO₂eq melalui tiga proyek yang telah beroperasi yakni Proyek Cikopo, Tomasa, dan Yentu.
Setelah keenam proyek beroperasi, Perseroan akan mampu mencatatkan reduksi emisi sebesar ±181.503 ton CO₂eq per tahun, yang secara langsung menyukseskan program Pemerintah dalam mencapai Net Zero Emission 2060. (*)