KABARBURSA.COM - Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuabi, menanggapi klaim Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait kebijakan pemindahan dana pemerintah dari Bank Indonesia (BI) ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Purbaya sebelumnya menyebut langkah ini dapat menambah pertumbuhan ekonomi sekitar 0,2 persen pada kuartal IV-2025.
Menurut Ibrahim, pemerintah memang tengah mengandalkan dorongan likuiditas dan paket stimulus untuk menjaga momentum pertumbuhan pada Oktober, November, dan Desember 2025.
“Klaim pertumbuhan tambahan 0,2 persen itu harus dilihat bersama dengan faktor lain, terutama realisasi stimulus dan seberapa efektif bank-bank menyalurkan likuiditas ke sektor riil,” ujarnya dalam keterangannya Jumat 28 November 2025.
Ibrahim menjelaskan optimisme pemerintah yang menargetkan pertumbuhan kuartal IV berada di kisaran 5,6 persen—5,7 persen juga berkaitan dengan sejumlah stimulus, seperti diskon tarif transportasi saat Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/26 serta penambahan bantuan langsung tunai (BLT).
“Paket-paket seperti diskon transportasi dan BLT memang bisa menambah konsumsi, tapi dampaknya tetap bergantung pada daya beli dan kondisi pasar,” jelasnya.
Sebelumnya, pada awal September, Purbaya memindahkan dana negara dari BI ke lima bank BUMN dengan total Rp200 triliun. Bank Mandiri, BRI, dan BNI masing-masing memperoleh Rp55 triliun, BTN Rp25 triliun, dan BSI Rp10 triliun.
Kemenkeu kembali menambah likuiditas Rp7 triliun, sehingga total penempatan dana mencapai Rp276 triliun.
Di pasar valas, rupiah pada perdagangan sore ini ditutup melemah 39 poin ke level Rp16.675, setelah sempat melemah 45 poin.
Untuk perdagangan Senin pekan depan, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp16.670—Rp16.710.
“Fundamental eksternal masih menekan rupiah, jadi volatilitas tetap akan tinggi,” kata Ibrahim.(*)