Logo
>

Pengamat Prediksi Oversupply Batu Bara Global Tekan Penerimaan

Oversupply batu bara dan transisi global ke energi bersih dinilai akan menekan harga dan penerimaan negara. Batu bara tak lagi jadi komoditas andalan.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Pengamat Prediksi Oversupply Batu Bara Global Tekan Penerimaan
Ilustrasi oversupply batu bara. Foto: dok KabarBursa.com

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Kondisi oversupply batu bara global dinilai mulai menjadi ancaman serius bagi basis penerimaan Indonesia. Oversupply menjadi ancaman karena komoditas ini merupakan salah satu andalan ekspor dan sumber pajak.

    Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut tekanan terhadap harga batu bara tidak lagi bersifat sementara, melainkan bagian dari perubahan struktural pasar energi dunia.

    Ibrahim menjelaskan bahwa batu bara sempat menikmati lonjakan harga signifikan saat perang Rusia-Ukraina pecah, ketika impor batu bara dari Rusia ke Eropa dihentikan.

    “Batu bara sempat naik yang cukup signifikan itu kan pada saat terjadi perang Rusia-Ukraina. Karena impor batu bara dari Rusia ke Eropa kan dihentikan, sehingga membuat harga batu bara mengalami kenaikan,” kata Ibrahim kepada KabarBursa.com, beberapa waktu lalu.

    Namun, situasi tersebut tidak berlangsung lama. Menurutnya, Eropa kini perlahan beralih dari pembangkit listrik berbasis batu bara menuju energi terbarukan.

    “Sedikit demi sedikit Eropa pun juga beralih ke energi terbarukan, yaitu air, kemudian angin, kemudian reaktor nuklir,” kata Ibrahim.

    Ia menambahkan, persepsi publik global terhadap dampak lingkungan PLTU turut menekan permintaan. “Seiring waktu ya rupanya masyarakat dunia pun juga menginginkan bahwa pembangkit listrik tenaga uap itu tidak baik untuk udara. Ya, sehingga ini yang membuat harga batu bara ini sedikit lebih menurun,” ujarnya. 

    Tekanan terhadap harga juga dipengaruhi oleh kondisi pasokan yang melimpah. Ibrahim menegaskan bahwa masalah batu bara saat ini bukan hanya berasal dari Indonesia.

    “Nah, sama juga dengan batu bara. Batu bara pun juga sama. Jadi batu bara sekarang bukan Indonesia saja. Sekarang batu bara terjadi oversupply. Permintaan itu berkurang, negara-negara mereka sudah beralih,” ujarnya.

    Ia mencontohkan Tiongkok sebagai salah satu pemilik cadangan batu bara terbesar di dunia. “Tiongkok itu adalah salah satu negara pemilik batu bara terbesar loh. Cuma eksplorasinya kan hanya terbatas,” katanya.

    Dalam kondisi tersebut, Indonesia tetap masuk ke pasar dengan harga relatif lebih murah, yang menurut Ibrahim berdampak langsung pada penerimaan negara. “Nah, Indonesia dengan harganya lebih murah, ya ini pasti akan berpengaruh terhadap pendapatan negara juga dari pajak,” ujarnya.

    Ibrahim mengingatkan bahwa harga batu bara tidak mungkin terus naik. Menurutnya, harga batu bara tidak akan selalu naik dan akan kembali stabil di bawah 80.

    Ia menjelaskan bahwa struktur pajak ekspor juga sangat terkait dengan level harga. “Ada kan kalau di batu bara ESDM itu kan dengan 100 barrel, berarti biaya ekspornya segini pajaknya,” ujarnya.

    Menurut Ibrahim, dalam beberapa waktu ke depan harga batu bara kemungkinan akan bergerak di kisaran 80-an dolar AS.

    “Kemungkinan menurut saya akan di 80-an. Kalau seandainya harganya turun pendapatan negaranya, ya memang harus diakui bahwa harga batu bara ini kemungkinan dari tahun ke tahun akan mengalami penurunan,” katanya.

    Penurunan tersebut, lanjutnya, tidak bisa dilepaskan dari pergeseran global menuju energi baru. Karena, menurutnya, saat ini sudah banyak yang beralih ke reaktor nuklir, kemudian ke air, kemudian ke angin. 

    Dengan tren permintaan yang melemah dan pasokan yang berlebih, Ibrahim menilai batu bara tidak lagi bisa dipandang sebagai sumber penerimaan negara yang stabil seperti sebelumnya.

    Tekanan terhadap harga, pajak, dan basis ekspor menunjukkan bahwa sektor ini menghadapi tantangan struktural dalam menopang keuangan negara ke depan.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Citra Dara Vresti Trisna

    Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.