Logo
>

Ancaman Trump Berlanjut, Pasar Asia Ditutup Suram

Ancaman tarif lanjutan Presiden Trump ke delapan negara Eropa memicu tekanan di bursa Asia. Emas dan perak cetak rekor, mata uang safe haven menguat, sementara rupiah dan aset berisiko kembali tertekan.

Ditulis oleh Yunila Wati
Ancaman Trump Berlanjut, Pasar Asia Ditutup Suram
Trump lanjutkan ancamannya terhadap delapan negara Eropa dengan isu Greenland. Akibatnya, pasar Asia ditutup suram pada perdagangan hari ini. Foto: IG @whitehouse.

KABARBURSA.COM – Pasar saham Asia memulai pekan ini dengan nada suram. Bukan karena data ekonomi domestik, melainkan karena satu faktor eksternal yang kembali membayangi. Ancaman tarif baru dari Presiden AS Donald Trump terhadap delapan negara Eropa, dengan isu Greenland sebagai pemicunya, berlanjut terus.

Respons pasar langsung terasa. Mayoritas indeks utama Asia bergerak di zona merah. Di Jepang, Nikkei 225 turun 0,85 persen, sementara Topix melemah 0,36 persen. Ini bukan sekadar koreksi teknikal. 

Jepang adalah salah satu ekonomi yang paling sensitif terhadap perdagangan global, dan setiap sinyal gangguan rantai pasok atau permintaan ekspor langsung diterjemahkan pasar sebagai risiko. 

Hong Kong juga tidak luput, dengan Hang Seng tertekan 0,99 persen, menandakan sentimen risk-off masih dominan di pusat finansial Asia tersebut.

China sendiri menunjukkan reaksi yang lebih terfragmentasi. Shanghai Composite masih mampu bertahan tipis di zona hijau dengan kenaikan 0,13 persen, tetapi Shenzhen Component nyaris stagnan, dan CSI300 melemah 0,23 persen. Ini mencerminkan sikap wait and see. 

Investor China belum panik, tetapi juga belum berani mengambil risiko besar. Pasar tampaknya masih menunggu apakah konflik ini akan benar-benar berkembang menjadi perang dagang atau hanya bagian dari tekanan negosiasi Trump.

Di sisi lain, tidak semua pasar Asia seragam dalam pesimisme. Korea Selatan mencatatkan penguatan signifikan, dengan Kospi naik 0,99 persen, sementara Taiex Taiwan menguat 0,54 persen. Ini memberi sinyal bahwa sebagian investor masih melihat peluang selektif, terutama di pasar yang dianggap lebih berbasis teknologi dan relatif terlindungi dari gejolak tarif lintas Atlantik.

Emas dan Perak Sentuh ATH

Namun, yang paling mencolok dari reaksi hari ini bukan hanya pergerakan saham, melainkan lonjakan tajam pada aset lindung nilai. Emas dan perak melonjak ke level tertinggi sepanjang masa. Ini adalah sinyal klasik. 

Ketika investor global mulai membeli emas secara agresif, itu bukan karena mereka optimistis, melainkan karena mereka mencari perlindungan.

Minyak, di sisi lain, justru stagnan. Bukan karena pasokan melimpah, melainkan karena pasar mulai menghitung risiko permintaan global. Perang dagang berskala besar antara AS dan Eropa berpotensi menggerus pertumbuhan ekonomi, menekan konsumsi, dan pada akhirnya menurunkan permintaan energi. Ini membuat minyak kehilangan katalis, meski ketegangan geopolitik meningkat.

Yang membuat situasi ini lebih sensitif adalah skala ancaman Trump. Tarif tambahan 10 persen mulai 1 Februari, dengan ancaman eskalasi menjadi 25 persen pada 1 Juni, bukan angka kecil. Negara-negara yang ditargetkan—Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris—bukan hanya mitra dagang biasa, melainkan pusat ekonomi Eropa. 

Jika ini benar-benar terjadi, dampaknya akan menjalar ke seluruh sistem perdagangan global.

Uni Eropa pun tidak tinggal diam. Ancaman balasan sudah terbuka lebar, termasuk kemungkinan mengenakan tarif terhadap impor AS senilai EUR93 miliar, serta penggunaan Instrumen Anti-Koersi yang dapat menargetkan sektor jasa dan investasi AS. Ini penting, karena bukan hanya barang yang dipertaruhkan, tetapi juga aliran modal.

Di sinilah pasar mulai gelisah. Deutsche Bank mengingatkan bahwa negara-negara Eropa memiliki obligasi dan saham AS senilai sekitar USD8 triliun—jumlah yang hampir dua kali lipat dari kepemilikan gabungan seluruh dunia. Jika konflik ini memburuk, bukan tidak mungkin sebagian dana itu akan dipulangkan atau direalokasi.

Komentar George Saravelos dari Deutsche Bank sangat tajam: yang paling berbahaya bukan perang tarif, melainkan “weaponization of capital”—penggunaan modal sebagai senjata. Jika arus investasi mulai dipolitisasi, volatilitas pasar bisa melonjak jauh lebih ekstrem daripada sekadar konflik dagang konvensional.

Sejumlah Mata Uang Menguat, Rupiah Lemah

Reaksi pasar mata uang Asia hari ini memperkuat gambaran itu. Yen menguat 0,16 persen, SGD naik 0,22 persen, AUD menguat tipis, dan yuan menguat 0,10 persen. Ini adalah pola defensif. Yen dan SGD sering menjadi tempat berlindung regional ketika risiko meningkat.

Sebaliknya, rupiah melemah 0,21 persen ke 16.922 per dolar AS, baht turun 0,51 persen, dan ringgit melemah. Mata uang negara emerging Asia mulai tertekan, karena investor global cenderung menarik diri dari aset berisiko ketika ketidakpastian geopolitik melonjak.

Yang menarik, rupee India justru menguat 0,09 persen. Ini bisa dibaca sebagai cerminan bahwa sebagian investor melihat India sebagai alternatif diversifikasi, bukan sekadar korban gejolak global.

Keseluruhan pola ini menunjukkan satu hal: pasar Asia tidak hanya bereaksi terhadap tarif, tetapi terhadap potensi fragmentasi sistem keuangan global. Jika konflik AS–Eropa benar-benar meluas, dampaknya tidak akan berhenti di Atlantik. Ia akan memukul perdagangan, investasi, dan kepercayaan global—tiga pilar yang menopang pasar Asia.

Hari ini, Asia belum runtuh. Tapi juga jelas tidak sedang merayakan apa pun. Ini adalah fase defensif, di mana investor lebih memilih menunggu, mengamankan posisi, dan memindahkan sebagian dana ke aset aman.

Ancaman Trump bukan lagi sekadar headline. Ia telah masuk ke dalam perhitungan risiko global. Dan pasar Asia, hari ini, memberi sinyal yang cukup jelas: mereka tidak menganggap ini sekadar gertakan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79