KABARBURSA.COM – PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), baru saja mendapat suntikan dana segar sebesar Rp100 miliar. Dana ini membuat BBYB melenggang dengan pasti di 2026.
Berdasarkan laporan kepemilikan saham per 15 Januari 2026, Gozco Capital memborong 207 juta saham BBYB di harga Rp474 per saham, dengan nilai transaksi sekitar Rp98,12 miliar. Aksi ini mengerek porsi kepemilikan Gozco dari 7,76 persen menjadi 9,31 persen, atau setara 1,24 miliar lembar saham.
Ini bukan sekadar top-up kecil, melainkan penguatan posisi yang terukur, sekaligus sinyal bahwa pemegang saham utama memilih untuk menambah eksposur, bukan mengurangi.
Dari sudut pandang pasar, keputusan seperti ini jarang bersifat spekulatif jangka pendek. Penambahan kepemilikan oleh pemegang saham besar biasanya dilakukan setelah melihat visibilitas kinerja yang lebih jelas, bukan sekadar potensi. Dan di titik inilah data keuangan BBYB mulai relevan untuk dibaca lebih dalam.
Kinerja Keuangan Membaik
Hingga kuartal III 2025, BBYB membukukan total pendapatan sebesar Rp778 miliar. Meski secara kuartalan angka ini sedikit turun dari Q2 2025 yang mencapai Rp789 miliar, tren tahunan menunjukkan perbaikan struktural.
Laba usaha tercatat Rp188 miliar, naik signifikan dari Rp114 miliar pada kuartal sebelumnya dan jauh di atas capaian kuartal IV 2024 yang hanya Rp25 miliar. Ini bukan sekadar fluktuasi, melainkan perubahan pola.
Yang paling mencolok adalah laba bersih tahun berjalan. Pada Q3 2025, BBYB membukukan laba bersih Rp188 miliar, melonjak dari Rp116 miliar di Q2 2025 dan Rp160 miliar di Q1 2025. Jika ditarik lebih jauh, perbandingannya semakin tajam: pada Q4 2024, laba bersih hanya Rp16 miliar, sementara pada Q3 2024 masih berada di Rp10 miliar.
BBYB sepertinya telah melewati fase berat dan mulai memasuki fase pemulihan profitabilitas yang lebih konsisten.
Manajemen bahkan menyebutkan bahwa secara kumulatif, hingga akhir kuartal III 2025, BBYB mencatat laba bersih Rp464 miliar. Catatan ini menjadikannya bank dengan layanan digital dengan laba tertinggi di antara kelompok sejenis.
Klaim ini penting, karena selama ini sektor bank digital sering dikaitkan dengan strategi bakar uang, bukan profitabilitas.
Beban Usaha Menurun
Jika kita melihat struktur biayanya, perbaikan ini bukan semata hasil lonjakan pendapatan, tetapi juga dari sisi disiplin beban. Beban usaha Q3 2025 berada di Rp391 miliar, lebih rendah dibanding Q2 2025 yang mencapai Rp479 miliar. Artinya, ada upaya nyata untuk menekan cost base, bukan sekadar menggenjot volume bisnis.
EBITDA juga memperlihatkan dinamika yang menarik. Pada Q3 2025, EBITDA tercatat Rp205,13 miliar, naik dari Rp133,55 miliar di Q2 2025 dan Rp177,15 miliar di Q1 2025. Bandingkan dengan Q4 2024 yang hanya Rp43,13 miliar, terlihat jelas bahwa profitabilitas operasional BBYB sudah bergeser jauh dari titik lemahnya.
Dari sisi rasio, gambarnya semakin tegas. Return on Assets (ROA) pada Q3 2025 berada di 1,02 persen, naik dari 0,65 persen pada kuartal sebelumnya. Return on Equity (ROE) juga membaik ke 4,55 persen dari 2,98 persen. Ini belum berada di level bank konvensional besar, tetapi untuk bank digital yang baru beberapa tahun lalu masih mencatatkan rugi, ini adalah lompatan struktural.
Valuasi pun mulai menyesuaikan. Pada Q3 2025, PE ratio BBYB berada di kisaran 23,58 kali, jauh lebih rasional dibandingkan kuartal-kuartal sebelumnya yang sempat menyentuh ratusan kali akibat laba yang sangat kecil. Dengan EPS kuartalan 14,08, pasar kini memiliki basis penilaian yang lebih konkret.
Volatilitas Masih Menekan Harga
Namun, pasar belum sepenuhnya merayakan perbaikan ini. Pada perdagangan terbaru, saham BBYB berada di level 505, menguat 1 persen. Harga sempat menyentuh 530, lalu turun hingga 486, sebelum kembali stabil. Rentang ini mencerminkan satu hal: minat beli ada, tetapi belum meledak.
Volume transaksi mencapai 2,94 juta lot, dengan nilai sekitar Rp149,9 miliar. Ini bukan angka kecil, tetapi juga belum menunjukkan euforia. Artinya, pasar sedang mencerna, bukan bereaksi impulsif.
Di sinilah suntikan dana dari Gozco Capital menjadi penting. Masuknya hampir Rp100 miliar bukan hanya menambah modal, tetapi juga memperkuat persepsi bahwa BBYB tidak sendirian dalam fase transformasinya. Kepercayaan pemegang saham utama sering kali menjadi jangkar psikologis bagi investor ritel dan institusi.
Direktur Utama BBYB, Eri Budiono, menyebut dukungan Gozco sebagai refleksi keyakinan terhadap arah bisnis perseroan. Pernyataan ini tidak bisa dilepaskan dari data kinerja yang memang mulai menunjukkan pola yang lebih sehat, yaitu laba yang konsisten, biaya yang lebih terkendali, dan profitabilitas yang mulai stabil.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.