Logo
>

Pengamat Ungkap Dampak Tak Terduga Lonjakan Harga Emas 2025

Lonjakan harga emas membuat banyak masyarakat menahan konsumsi, mengurangi belanja non-esensial, dan memilih masak di rumah demi efisiensi pengeluaran.

Ditulis oleh Harun Rasyid
Pengamat Ungkap Dampak Tak Terduga Lonjakan Harga Emas 2025
Ilustrasi kenaikan harga emas sepanjang 2025. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Lonjakan harga emas mendorong perubahan perilaku konsumsi masyarakat. Di tengah kenaikan harga logam mulia, sebagian rumah tangga memilih menahan belanja, mengurangi konsumsi non-esensial, dan beralih ke pola pengeluaran yang lebih hemat, termasuk memasak di rumah.

Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai peningkatan minat masyarakat terhadap emas berdampak langsung pada perputaran uang di perekonomian.

“Kenaikan harga emas, banyaknya masyarakat membeli emas, ini sebenarnya jelek bagi ekonomi. Karena tidak ada perputaran uang,” ujar Ibrahim kepada KabarBursa.com, Selasa, 30 Desember 2025.

Ia menjelaskan, dana yang dialihkan ke emas tidak lagi digunakan untuk konsumsi harian, sehingga daya beli masyarakat menurun. Menurut Ibrahim, kondisi tersebut terlihat dari perubahan kebiasaan belanja.

“Masyarakat sekarang kalau punya uang, kalau sudah beli logam mulia, mereka enggak belanja atau jajan. Karena uangnya sudah masuk ke emas. Nah, itu yang membuat daya beli masyarakat menurun,” katanya.

Dampak Kenaikan Harga Emas

Perubahan perilaku konsumsi juga tercermin pada pilihan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan. Ibrahim menyebut, masyarakat mulai mengurangi pengeluaran makan di luar.

“Contoh misalnya saat ini banyak masyarakat bukan lagi senang makan di warung, di restoran. mereka lebih condong menahan makanya daya beli masyarakat menurun. Mereka itu akhirnya memilih belanja di pasar kemudian masak di rumah, dan makan bareng-bareng,” ujarnya.

Ia menambahkan, memasak di rumah dipilih karena dianggap lebih efisien dalam menjaga keuangan.

“Kalau di rumah kita masak, ya harganya lebih stabil. Kemudian juga saat itu belanja, bisa dimakan, bisa 2 hari sampai 3 hari,” kata Ibrahim.

Pola ini disebut menunjukkan upaya rumah tangga menyesuaikan pengeluaran di tengah ketidakpastian ekonomi.

Ibrahim juga menilai perubahan perilaku tersebut tidak terlepas dari kondisi global yang memengaruhi harga emas. Ketegangan geopolitik dan pelemahan ekonomi global mendorong masyarakat bersikap lebih hati-hati dalam membelanjakan uang.

“Sehingga perilaku masyarakat, ya mereka itu sekarang berpikir, ah ngapain saya harus konsumtif, mending uang 50 persen pendapatan saya investasikan ke logam mulia atau perhiasan,” ujarnya.

Dengan demikian, lonjakan harga emas tidak hanya berdampak pada pilihan investasi masyarakat, tetapi juga membentuk ulang pola konsumsi. Penahanan belanja, pergeseran ke masak di rumah, dan penurunan konsumsi non-esensial menjadi gambaran perubahan perilaku ekonomi rumah tangga di tengah kondisi tersebut.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Harun Rasyid

Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.