Logo
>

Penjualan Ritel Naik saat Ramadan, Mengapa Sahamnya Turun?

Survei BI menunjukkan Indeks Penjualan Riil Februari 2026 tumbuh 6,9 persen menjelang Idulfitri, sementara sejumlah saham ritel di BEI justru terkoreksi sejak akhir Februari.

Ditulis oleh Syahrianto
Penjualan Ritel Naik saat Ramadan, Mengapa Sahamnya Turun?
Ilustrasi: Suasana belanja di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)

KABARBURSA.COM – Momentum Ramadan yang biasanya identik dengan lonjakan konsumsi masyarakat belum sepenuhnya tercermin pada pergerakan saham sektor ritel di Bursa Efek Indonesia (BEI). Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan aktivitas penjualan eceran meningkat menjelang Ramadan dan Idulfitri, namun sejumlah saham ritel justru mengalami tekanan harga sejak akhir Februari 2026.

BI dalam Survei Penjualan Eceran memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) Februari 2026 tumbuh 6,9 persen secara tahunan. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh penjualan pada kelompok suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta subkelompok sandang.

Secara bulanan, penjualan eceran pada Februari juga diprakirakan naik 4,4 persen dibandingkan Januari 2026. BI menyebut kenaikan tersebut berkaitan dengan meningkatnya permintaan masyarakat selama Ramadan serta persiapan menghadapi Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 Hijriah.

Meski konsumsi ritel diprakirakan meningkat, pergerakan saham sektor ini di pasar modal justru menunjukkan kecenderungan berbeda. Sejumlah saham ritel utama seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Matahari Department Store Tbk (LPPF), PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), serta PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) mengalami tekanan harga sejak akhir Februari hingga awal Maret.

Saham Ritel Terkoreksi Sejak Akhir Februari

Saham AMRT misalnya turun dari level Rp1.900 pada 19 Februari 2026 menjadi sekitar Rp1.420 pada 11 Maret 2026. Penurunan tersebut terjadi di tengah aktivitas transaksi yang relatif besar. Pada 20 Februari nilai transaksi saham AMRT mencapai sekitar Rp150,33 miliar dengan volume sekitar 801 ribu saham.

Arus dana asing pada saham ini juga menunjukkan perubahan arah dalam periode yang sama. Pada 20 Februari investor asing tercatat melakukan pembelian bersih sekitar Rp71,28 miliar. Namun tekanan jual kembali muncul pada awal Maret. Pada 2 Maret misalnya, saham AMRT mencatat penjualan bersih asing sekitar Rp25,92 miliar.

Pergerakan harga yang terbatas juga terlihat pada saham LPPF. Dalam periode akhir Februari hingga awal Maret, saham perusahaan ritel fesyen tersebut bergerak di kisaran Rp1.920 hingga Rp1.840 per saham.

Pada perdagangan 5 Maret 2026, saham LPPF sempat menguat 4,35 persen ke level Rp1.920 sebelum kembali terkoreksi pada sesi berikutnya. Nilai transaksi saham ini pada 4 Maret tercatat sekitar Rp19,49 miliar dengan volume sekitar 104 ribu saham.

Sementara itu saham RALS juga menunjukkan pola konsolidasi. Harga saham yang sempat menyentuh Rp530 pada 3 Maret 2026 kemudian turun kembali ke kisaran Rp470 pada 11 Maret 2026. Pada 9 Maret nilai transaksi saham ini mencapai sekitar Rp9,26 miliar dengan volume sekitar 196 ribu saham.

Tekanan jual juga terlihat pada saham ritel lain seperti ERAA dan ACES. Saham ERAA turun dari level Rp440 pada 27 Februari menjadi sekitar Rp386 pada 11 Maret 2026. Nilai transaksi saham ini pada 4 Maret mencapai sekitar Rp44,56 miliar dengan volume sekitar 1,08 juta saham.

Data perdagangan menunjukkan investor asing mencatat penjualan bersih sekitar Rp11,18 miliar pada saham ERAA pada sesi tersebut.

Sementara itu saham ACES bergerak dalam rentang Rp376 hingga Rp404 sepanjang awal Maret. Pada 9 Maret 2026 saham ini sempat turun sekitar 6 persen ke level Rp376 dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp31,39 miliar.

Pada hari yang sama investor asing juga mencatat penjualan bersih sekitar Rp9,92 miliar pada saham tersebut.

Target Harga Analis Masih di Atas Pasar

Di tengah pergerakan harga yang terbatas tersebut, konsensus analis terhadap sejumlah emiten ritel masih menunjukkan pandangan positif.

Sebanyak 31 analis memberikan rekomendasi terhadap saham ACES dengan komposisi 25 rekomendasi buy dan enam hold. Target harga rata-rata saham ini berada di sekitar Rp540 per saham, dengan estimasi tertinggi Rp750 dan estimasi terendah Rp450.

Pada saham ERAA, sebanyak 18 analis memberikan rekomendasi dengan komposisi 17 buy dan satu hold. Target harga rata-rata saham tersebut berada di sekitar Rp573 per saham, dengan estimasi tertinggi Rp800 dan estimasi terendah Rp450.

Sementara itu konsensus analis terhadap saham AMRT juga menunjukkan dominasi rekomendasi positif. Dari 31 analis yang memantau saham ini, sebanyak 30 memberikan rekomendasi buy dan satu hold. Target harga rata-rata saham AMRT berada di sekitar Rp2.524 per saham.

Data historis juga menunjukkan bahwa kenaikan konsumsi selama Ramadan tidak selalu langsung tercermin pada pergerakan saham ritel pada periode yang sama.

Pada saham AMRT misalnya, rata-rata kinerja musiman tiga tahun terakhir menunjukkan Februari dan Maret cenderung berada di zona negatif dengan rata-rata penurunan sekitar minus 7,96 persen dan minus 5,32 persen.

Penguatan rata-rata baru terlihat pada April sekitar 3,03 persen. Pola serupa juga terlihat pada saham RALS yang secara historis mencatat penguatan lebih sering pada April dengan rata-rata kenaikan sekitar 10,79 persen.

Dengan Ramadan 2026 yang telah memasuki fase akhir dan Idulfitri diperkirakan jatuh pada 21–22 Maret 2026, perhatian pasar kini mulai tertuju pada laporan kinerja kuartal pertama emiten ritel yang akan mencerminkan aktivitas penjualan selama periode Ramadan dan Lebaran. (*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.