KABARBURSA.COM – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat aktivitas pipeline pencatatan saham atau initial public offering (IPO) masih cukup solid hingga pertengahan April 2026.
Diketahui hingga 17 April 2026, tercatat baru satu perusahaan yang resmi mencatatkan saham di BEI dengan total dana dihimpun sebesar Rp0,30 triliun. Meski realisasi masih terbatas, jumlah perusahaan dalam antrean IPO justru mengalami peningkatan menjadi 16 perusahaan.
Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyampaikan bahwa minat perusahaan untuk masuk pasar modal tetap stabil di tengah dinamika pasar.
“Pipeline masih menunjukkan minat yang baik dari berbagai sektor, dengan dominasi perusahaan beraset besar,” ujarnya dalam keterangan tertulis dikutip Minggu, 19 April 2026.
Dari sisi skala aset, mayoritas perusahaan dalam pipeline merupakan perusahaan besar. Sebanyak 11 perusahaan tercatat memiliki aset di atas Rp250 miliar. Sementara itu, 5 perusahaan berada pada kategori aset menengah dengan rentang Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, dan tidak ada perusahaan dengan aset skala kecil di bawah Rp50 miliar.
Jika dilihat dari sektornya, pipeline IPO masih didominasi sektor healthcare dengan 4 perusahaan. Disusul sektor consumer cyclicals dan consumer non-cyclicals yang masing-masing menyumbang 3 perusahaan.
Sektor infrastruktur dan teknologi masing-masing terdapat 2 perusahaan, sementara sektor energi dan keuangan masing-masing 1 perusahaan.
Selain pipeline IPO, aktivitas penghimpunan dana di pasar obligasi atau efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) juga menunjukkan geliat yang cukup kuat. Hingga saat ini, telah diterbitkan 52 emisi dari 35 penerbit dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp57,16 triliun.
Sementara itu, dalam pipeline obligasi, terdapat 46 emisi dari 31 penerbit yang sedang dalam proses. Sektor keuangan mendominasi dengan 15 perusahaan, diikuti sektor infrastruktur sebanyak 7 perusahaan dan sektor energi sebanyak 5 perusahaan. Sektor lainnya seperti basic materials dan consumer non-cyclicals masing-masing diisi oleh 2 perusahaan.
Dominasi sektor keuangan dalam pipeline obligasi mencerminkan kebutuhan pendanaan yang tinggi dari lembaga keuangan, baik untuk ekspansi kredit maupun penguatan likuiditas.
Di sisi lain, aktivitas aksi korporasi melalui rights issue juga masih berlangsung, meskipun tidak sebesar periode sebelumnya. Hingga 17 April 2026, tercatat 3 perusahaan telah menerbitkan rights issue dengan total nilai Rp3,75 triliun.
Adapun dalam pipeline rights issue, saat ini hanya terdapat 1 perusahaan yang berasal dari sektor properti dan real estat. Hal ini menunjukkan bahwa aksi penambahan modal melalui mekanisme hak memesan efek terlebih dahulu masih cukup selektif di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.
Secara keseluruhan, peningkatan jumlah pipeline IPO dari 15 menjadi 16 perusahaan memberikan gambaran bahwa pasar modal Indonesia masih memiliki daya tarik kuat bagi perusahaan yang ingin menghimpun dana. Di tengah tantangan global dan domestik, stabilnya pipeline ini mencerminkan optimisme pelaku usaha terhadap prospek ekonomi dan pasar keuangan nasional ke depan.(*)