Logo
>

PKPK Siap Akuisisi DPAL, Aset Perseroan Diprediksi Tembus Rp2,28 Triliun

Akuisisi PT Deli Pratama Angkutan Laut senilai Rp890 miliar diproyeksikan meningkatkan total aset PKPK menjadi Rp2,28 triliun sekaligus memperluas bisnis perseroan ke sektor logistik maritim.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
PKPK Siap Akuisisi DPAL, Aset Perseroan Diprediksi Tembus Rp2,28 Triliun
Ilustrasi PT Paragon Karya Perkasa Tbk (PKPK) bersiap mengakuisisi PT Deli Pratama Angkutan Laut (DPAL). Foto: PKPK

KABARBURSA.COM – PT Paragon Karya Perkasa Tbk (PKPK) bersiap mengakuisisi PT Deli Pratama Angkutan Laut (DPAL). Langkah ekspansi ini diproyeksikan mendongkrak total aset Perseroan hingga 263,28 persen. Namun di sisi lain, aksi korporasi ini juga membuat beban liabilitas meningkat tajam seiring pembiayaan transaksi senilai Rp890 miliar.

Rencana akuisisi tersebut merupakan bagian dari strategi emiten konstruksi itu untuk memperluas bisnis ke sektor logistik maritim. Perseroan akan membeli 6.125 saham Seri A atau 50,52 persen saham dengan hak suara milik Resources Global Development Limited (RGD), sehingga menjadi pengendali baru DPAL.

Berdasarkan keterbukaan informasi, nilai transaksi mencapai Rp890 miliar atau setara 285,51 persen dari ekuitas Perseroan per 31 Desember 2025. Besarnya nilai tersebut membuat transaksi dikategorikan sebagai transaksi material yang memerlukan persetujuan pemegang saham independen melalui RUPS Luar Biasa yang dijadwalkan berlangsung pada 30 Juni 2026.

Akuisisi ini akan mengubah secara signifikan struktur neraca perusahaan konstruksi tersebut. Total aset diproyeksikan meningkat dari Rp627,92 miliar menjadi Rp2,28 triliun atau melonjak 263,28 persen. Lonjakan tersebut terutama berasal dari masuknya aset tetap DPAL berupa armada kapal dan aset pendukung operasional senilai sekitar Rp1,46 triliun.

Namun ekspansi tersebut juga diiringi peningkatan kewajiban yang tidak kecil. Total liabilitas diperkirakan naik dari Rp316,19 miliar menjadi Rp1,42 triliun atau meningkat sekitar 350,65 persen.

Kenaikan utang terutama berasal dari kewajiban kepada pihak berelasi sebesar Rp890 miliar yang merupakan pembayaran pembelian saham DPAL kepada RGD. Selain itu, terdapat tambahan utang pihak ketiga sekitar Rp156,60 miliar yang berasal dari kewajiban operasional DPAL.

Meski demikian, pengakuisisi DPAL tersebut menilai tambahan utang masih dapat dikelola. Perseroan menyebut pembayaran transaksi dilakukan dalam jangka waktu maksimal 12 bulan setelah akta jual beli saham ditandatangani, dengan sumber dana berasal dari arus kas operasional Perseroan dan entitas anak.

Selain itu, apabila Perseroan belum dapat melunasi kewajibannya, pembayaran akan dijamin melalui corporate guarantee dari PT Deli Indonesia Raya (DIR), sehingga memberikan kepastian kepada pihak penjual.

Ekspansi ke Bisnis Logistik

Bagi emiten yang tengah berekspansi ke logistik tersebut, akuisisi DPAL bukan sekadar menambah aset, melainkan mengubah model bisnis Perseroan.

Selama ini PKPK dikenal bergerak di sektor konstruksi dan pertambangan. Setelah transaksi rampung, Perseroan akan memiliki bisnis jasa angkutan laut yang mengoperasikan armada tug boat, tongkang (barge), hingga kapal bulk carrier.

Manajemen menyebut akuisisi tersebut akan memberikan sejumlah manfaat strategis, mulai dari diversifikasi usaha, peningkatan sumber pendapatan, hingga menciptakan sinergi dengan anak usaha Perseroan yang bergerak di sektor pertambangan batu bara.

Dengan memiliki armada sendiri, Perseroan berharap dapat mengurangi ketergantungan terhadap penyedia jasa logistik eksternal sekaligus meningkatkan efisiensi distribusi batu bara melalui pengelolaan rantai pasok yang lebih terintegrasi.

DPAL sendiri merupakan perusahaan angkutan laut yang memiliki 67 armada kapal, terdiri atas satu bulk carrier, 33 kapal tongkang, dan 33 kapal tunda. Seluruh armada disebut masih aktif beroperasi dan berada pada usia produktif sehingga diharapkan mampu menghasilkan arus kas operasional secara berkelanjutan.

Secara operasional, DPAL membukukan pendapatan Rp761,34 miliar sepanjang 2025 dengan laba bersih Rp229,99 miliar. Perusahaan juga mencatat total aset Rp1,65 triliun dan ekuitas Rp1,44 triliun pada akhir tahun lalu.

Performa Saham PKPK

Di pasar modal, saham PKPK ditutup melemah 2,43 persen ke level Rp2.810 pada perdagangan Jumat, 26 Juni 2026 setelah sempat bergerak di rentang Rp2.750 hingga Rp2.950.

Meski terkoreksi pada perdagangan harian, performa saham Perseroan masih menunjukkan penguatan dalam jangka menengah hingga panjang. Secara year to date (YTD), saham PKPK masih mencatat kenaikan sekitar 113,69 persen. Dalam enam bulan terakhir saham melonjak 147,58 persen, sedangkan dalam satu tahun menguat sekitar 310,22 persen.

Kinerja jangka panjangnya juga masih impresif. Dalam tiga tahun saham PKPK telah naik sekitar 836,67 persen, bahkan dalam lima tahun melonjak sekitar 4.291 persen.

Dari sisi valuasi, saham PKPK diperdagangkan pada price to earnings (PE) ratio sekitar 60,45 kali dengan price to book value (PBV) 12,21 kali.

Perseroan memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp3,37 triliun dan membukukan laba bersih trailing twelve months (TTM) sebesar Rp56 miliar berdasarkan data perdagangan terakhir.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.