KABARBURSA.COM - PT Ciputra Development Tbk (CTRA) menanggapi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate dalam kredit kepemilikan rumah (KPR).
Diketahui, BI Rate dalam satu bulan terakhir naik 100 basis poin (bps), dari 4,75 persen menjadi 5,75 persen. Kenaikan BI Rate tentu dapat memengaruhi permintaan kepemilikan rumah khususnya dari sisi bunga cicilan per bulannya.
Candra Ciputra selaku Direktur Utama PT Ciputra Development Tbk menyatakan, penjualan properti pihaknya masih bergantung dari KPR. Dalam kenaikan BI Rate sebesar 1 persen, konsumen tidak mengalami kenaikan biaya cicilan signifikan, terkecuali dari bunga cicilannya.
"Kalau kita lihat memang penjualan kita kan banyak tergantung daripada KPR. Tapi kalau kita lihat sebenarnya cicilan KPR itu tenornya 10 sampai 15 tahun, cicilannya fix tapi yang bergerak bunganya," ujarnya dalam Paparan Publik CTRA di Jakarta, Jumat 26 Juni 2026.
Canda menyebut, penjualan rumah diharapkan tetap terjaga dengan adanya insentif pemerintah berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) 100 persen.
Insentif ini diberikan dalam pembelian rumah tapak dan rumah susun (apartemen) baru dengan harga jual maksimal Rp5 miliar.
Candra menilai, PPN DTP diharapkan dapat mendorong kepemilikan rumah di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang sementara ini hampir menyentuh Rp17.900 per 26 Juni 2026.
"Saya berharap dengan PPN DTP, kita akan tertolong ke depannya begitu. Sementara memang rupiah under pressure, interest rate juga ada tendensi untuk naik. Tapi kita tetap berasa affordability (pembelian rumah) masih bisa," jelasnya.
"Karena walaupun interest rate naik 1 pun jika dibandingkan dengan cicilan itu, maka biaya perbulannya itu gak mencapai 10 persen sebenarnya dari segi cicilan. Jadi kita akan usaha terus," ungkapnya.
Terlepas dari adanya insentif, CTRA memaparkan bahwa dalam tiga bulan pertama 2026 terjadi penurunan presales properti sekitar 23 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini mengindikasikan pasar properti sedang melemah dibanding tahun sebelumnya.
"Saya melihat ini ke arah siklus. Kita sudah booming 2022, 2023 ,2024. Sekarang siklusnya sedang turun. Kebetulan bunga sedsng naik, jadi ya selama bunga KPR naik pasti demand rumah terpengaruh," pungkas Candra.
Sebagai informasi, CTRA sejauh ini membukukan pendapatan sebesar Rp2,56 triliun pada kuartal I 2026, turun 6,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp2,73 triliun.
Penurunan tersebut dipengaruhi melemahnya kontribusi segmen pengembangan properti untuk dijual.
Meski demikian, fundamental bisnis CTRA masih dapat terjaga. Dalam lima tahun terakhir, pendapatan CTRA meningkat dari Rp9,73 triliun pada 2021 menjadi Rp12,62 triliun pada 2025. Sementara laba bersih tumbuh dari Rp1,74 triliun menjadi Rp2,66 triliun pada periode yang sama. (*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.